Sejumlah prajurit TNI AD melakukan penyisiran untuk memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), di Desa Lembangtongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selassa (1/12). | ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI

Nasional

08 Dec 2020, 02:00 WIB

Aparat Kesulitan Kejar Anggota MIT 

Polri akan memperpanjang waktu operasi Satgas Tinombala untuk kejar anggota MIT.

JAKARTA -- Aparat kepolisian dan TNI hingga kini belum berhasil menangkap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang membantai satu keluarga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat (27/11). Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan, tim yang mengejar masih kesulitan mengakses medan tempat persembunyian kelompok teroris tersebut. 

Menurut dia, kondisi medan yang dihadapi Satgas Operasi Tinombala dan tim perbantuan adalah blank spot area yang terdiri dari pegunungan dan hutan belantara. Selain itu, anggota MIT sudah sangat menguasai medan persembunyiannya.

"Memang permasalahan yang seperti kemarin saya sampaikan, bahwa rentang wilayahnya memang mereka selama ini dari Poso, kemudian Parimo Parigi Moutong, kemudian Sigi di pegunungan di atas 2.500 MDPL. Jadi, sama-sama harus bersabar karena tim masih melakukan pengejaran," kata Awi dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (7/12).

Pada Jumat (27/11), empat warga transmigran di Dusun Lewono, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Sigi, dibunuh secara keji oleh sekelompok orang tak dikenal yang belakangan diketahui merupakan anggota MIT. Keempatnya adalah satu keluarga, yaitu Yasa, Pinu, Nata alias Papa Jana alias Naka, dan Pedi. Mereka juga membakar tujuh bangunan, yaitu enam rumah warga dan satu rumah warga yang dijadikan pos pelayanan Gereja Bala Keselamatan.

Kapolri Jenderal Idham Azis meminta Satgas Tinombala yang sejak lama memburu kelompok MIT untuk segera menangkap mereka. Sementara itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengirim sejumlah pasukan elite TNI dari Angkatan Darat dan Marinir TNI Angkatan Laut untuk membantu pengejaran. 

Awi mengatakan, Polri akan memperpanjang waktu operasi Satgas Tinombala untuk menuntaskan pengejaran MIT. Sejak dibentuk pada Juli 2016 silam, Satgas Operasi Tinombala masih belum berhasil melumpuhkan MIT hingga diperpanjang beberapa kali. Masa tugas satgas akan berakhir pada 31 Desember 2020. 

"Tidak mendahului pimpinan Polri, maksud kami, karena memang satgas nanti berakhir 31 Desember 2020. Dari apa yang kami sampaikan tadi, bincang-bincang dengan asop kapolri, kemungkinan besar akan kita perpanjang," ujar Awi.  

photo
Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11).  - (ANTARA FOTO/Humas Polres Sigi)

Satgas Tinombala, kata dia, masih harus menangkap beberapa anggota MIT, termasuk Ali Kalora yang belum bisa diamankan. Menurut Awi, ada 11 orang anggota MIT yang buron atau dalam pengejaran tim gabungan. Terakhir, Satgas Tinombala melakukan penindakan kepada dua anggota MIT, Wawan alias Aan alias Bojes dan Aziz Arifin alias Aziz, pada Selasa (17/11).

Selain Ali Kalora, anggota MIT lainnya adalah Qatar alias Farel alias Anas, Askar alias Haid alias Pak Guru, dan Abu Alim alias Ambon. Kemudian, Nae alias Galuh alias Mukhlas, Khairul alias Irul alias Aslan, Jaka Ramadhan alias Krima alias Rama, Akun alias Adam alias Musab alias Alvin Ashori, Rulli, Suhardin alias Hasan Pranata, terakhir Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang. 

"Karena memang DPO-nya belum ketangkap, masih ada DPO, kemarin kita sampaikan DPO 11 orang. Tapi, tetap nanti kita tunggu keputusannya dari pimpinan," ujar Awi.


×