Armada Turki Utsmaniyah menjadi yang terbaik di seluruh Mediterania pada abad ke-16. | DOK WIKIPEDIA
06 Dec 2020, 05:10 WIB

Gelanggang Armada Utsmaniyah Bernama Mediterania

Kejayaan Utsmaniyah di lautan tak lepas dari kebijakan yang merangkul penduduk lokal.

OLEH HASANUL RIZQA

Sejak berhasil menguasai Konstantinopel, Turki Utsmaniyah bertransformasi menjadi kekuatan utama Islam di seluruh dunia, khususnya kawasan pesisir Mediterania. Dalam menjalankan politik ekspansi, kesultanan tersebut tidak melulu menggunakan cara-cara militeristik, tetapi juga berupaya menarik simpati masyarakat lokal.

Salah satu contohnya seperti diceritakan Fethullah Gulen dalam bukunya, Cahaya Abadi Muhammad SAW: Kebanggaan Umat Manusia. Dalam perjalanan menuju suatu medan pertempuran, dia menjelaskan, para pasukan Utsmaniyah kerap menggantungkan berbagai macam buah-buahan yang mereka bawa di dahan-dahan pohon yang dilewatinya.

Seiring waktu, pasukan tersebut berhasil menaklukkan hati penduduk wilayah yang akan mereka kuasai, alih-alih menekan mereka dengan kekuatan senjata. Menurut Gulen, cara-cara seperti itu membuat Utsmaniyah berhasil menguasai banyak negeri di Eropa, khususnya Semenanjung Balkan, hingga ratusan tahun.

Terkait

Apalagi, Benua Biru kala itu masih panas akan dendam kesumat Perang Salib. Pada faktanya, perang tersebut tidak hanya memperhadapkan antara Salibis dan Muslim, tetapi juga—atau bahkan terutama—sesama Kristen, yakni kaum Latin (Roma) dan Yunani (Konstantinopel).

Sebut saja, Penjarahan Konstantinopel yang terjadi dalam Perang Salib IV pada 1204. Sejarawan Yunani Speros Vryonis mengatakan, seperti dikutip Graham E Fuller dalam A World Without Islam (2010), kebencian kaum Yunani terhadap Roma memuncak akibat peristiwa nahas itu.

Bahkan, mereka meyakini bahwa pasukan Utsmaniyah, seandainya berhasil merebut kota itu, tidak akan berlaku sekejam orang-orang Kristen Latin tersebut. Dan, memang benar demikian. Ketika menaklukkan jantung Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) itu pada 29 Mei 1453, Sultan Mehmed II al-Fatih memperlakukan para pemuka dan komunitas Kristen setempat dengan penuh toleransi.

photo
Lukisan Sultan Mehmed II, 1480, oleh Gentile Bellini (1429–1507) - (DOK Wikipedia)

“Jadi, jika ada pendapat yang menyatakan bahwa Kekhalifahan Utsmaniyah hanya menggunakan kekerasan untuk menguasai Eropa, maka jelaslah bahwa pendapat itu salah. Apalagi, jika mengetahui kualitas alat transportasi pada masa Utsmaniyah yang sangat sederhana, pasti kita akan tahu bahwa pada masa itu penguasaan atas suatu wilayah yang sangat luas tidak mungkin dapat dilakukan hanya dengan kekuatan senjata,” tulis Gulen.

Sikap yang cenderung merangkul, alih-alih membinasakan, masyarakat wilayah yang dikuasainya lantas berdampak positif bagi perkembangan Utsmaniyah sendiri. Dengan demikian, mereka dapat turut mendukung perkembangan dan kemajuan Kesultanan di pelbagai bidang, termasuk maritim.

Penduduk Yunani sejak dahulu kala dikenal sebagai bangsa pelaut yang tangguh. Mereka juga berperan besar di jalur niaga Mediterania Timur. Kota pelabuhan paling penting di Yunani—setelah Konstantinopel—adalah Thessaloniki atau Salonika, yang kemudian berhasil ditaklukkan Sultan Murad II pada 1430.

Murad II kemudian menjadikan Salonika sebagai kota yang majemuk. Penduduk Nasrani setempat dilindungi dan dijamin hak-haknya. Berbagai infrastruktur, seperti pasar, sekolah, dan masjid, didirikannya. Tidak hanya kaum Muslimin dan Kristen Yunani yang hidup dengan tenteram di sana.

Belakangan, terutama pada zaman Sultan Bayezid II (1481-1512) komunitas Yahudi pun dapat bertempat tinggal di Salonika. Tak sedikit dari mereka adalah pengungsi, yang sebelumnya terusir dari Spanyol sejak rezim Inkuisisi berkuasa pada 1478.

Barbarossa Bersaudara

Para pelaut Yunani turut menjadi andalan untuk mendukung kejayaan maritim Utsmaniyah sejak abad ke-15. Di antara yang paling terkemuka adalah Barbarossa Bersaudara. Dua tokohnya yang legendaris, yakni Oruc (Aruj) dan Hayreddin (Khair ad-Din), membawa kebesaran negeri Islam itu di seluruh Mediterania.

Dalam berbagai literatur, Barbarossa Bersaudara kerap disebut sebagai sebuah kelompok “bajak laut". Namun, istilah itu pertama-tama mesti ditelaah sesuai dengan konteks zaman mereka. Bruce Masters dalam artikelnya di Encyclopedia of the Ottoman Empire (2008) menjelaskan, terminologi “bajak laut” pada akhir abad pertengahan di Eropa tidak serta merta dapat disamakan dengan masa kini. Bajak laut kala itu bukan hanya soal perompakan atau pelbagai bentuk kejahatan lainnya yang terjadi di bahari.

Kawanan bajak laut (pirate) dapat berperan sebagai kelompok liar, abdi negara (privateer), atau di antara keduanya. Jika menjadi gerombolan liar (outlaw), mereka bertindak demi kepuasan pribadi. Sebagai kelompok privateer, mereka mengabdikan kepiawaiannya dalam menempuh lautan untuk kepentingan sebuah negara. Misalnya, mengawal ekspedisi berbendera negara tertentu agar aman saat melintasi kawasan perairan atau merampas kapal-kapal milik armada musuh negara itu.

photo
Hayreddin Barbarossa, sebelum menjadi laksamana atau kapudan pasha, dirinya lebih dikenal sebagai corsair yang tangguh di Mediterania. - (DOK WIKIPEDIA)

Masters mengatakan, di Laut Mediterania sejak medio abad ke-14 ada peran bajak laut yang sama independennya seperti kelompok outlaw, tetapi mereka bertindak demi kejayaan negeri tertentu. Itulah yang disebut sebagai corsair. Terminologi corsair berasal dari bahasa Italia, corsaro, yang berakar dari bahasa Latin abad pertengahan, cursarius. Artinya secara harfiah, 'bajak laut’ atau 'pelarian'. Pemakaian istilah tersebut, lanjut Marsters, mulai marak seiring dengan pecahnya Perang Salib pada abad ke-12.

Kelompok-kelompok corsair pun muncul baik dari kaum Salibis maupun Muslimin. Bahkan, Masters menegaskan, konotasinya di Mediterania cenderung mengatasnamakan agama. Menjadi anggota corsair Kristen berarti menarget kapal-kapal milik Muslim. Menjadi anggota corsair Muslim pun berarti mengincar kapal-kapal berbendera Salib.

Corsair Kristen paling terkenal pada masa itu ialah Ksatria Santo John yang bermarkas di Pulau Malta. Sementara itu, Barbarossa Bersaudara menjadi corsair termasyhur dari kubu Muslimin.

Sebelum mengabdi pada Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, karier Barbarossa Bersaudara bermula dari Yunani, tepatnya Lesbos di pesisir timur Laut Aegea. Saat dewasa, mereka berpindah iman dari Kristen menjadi Muslim. Keahliannya dalam menerjang lautan membuatnya cepat terkenal sebagai salah satu kelompok paling tangguh di seluruh Mediterania.

 
Sebelum mengabdi pada Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, karier Barbarossa Bersaudara bermula dari Yunani.
 
 

Si sulung yang akrab disapa Baba Oruc berperan besar dalam menolong ribuan umat Islam dan Yahudi Andalusia pada akhir abad ke-15. Para pengungsi itu terusir dari Spanyol akibat gelombang Inkuisisi sehingga harus menyeberang ke Maghribi.

Kisah kepahlawanan mereka menjadi buah bibir bagi masyarakat Muslimin Afrika Utara, tetapi justru menjadi stigma di tengah orang-orang Nasrani. Folklor Italia mempelesetkan namanya menjadi “si janggut merah”—barbarossa dalam bahasa setempat.

Masa gemilang

Pada dasawarsa awal abad ke-16, Baba Oruc berjuang mengusir invasi Spanyol dari Afrika Utara, khususnya Aljir (Aljazair). Sejak 1516, ia menjadi pemimpin wilayah Aljazair dan sekitarnya.

Untuk melindungi rakyat setempat, pilihan terbaiknya ialah bekerja sama dengan Utsmaniyah. Ia mengirimkan utusan dan berbagai hadiah kepada Sultan Selim I. Sebagai balasan, dirinya ditunjuk selaku gubernur (bey) Utsmaniyah untuk kawasan Mediterania Barat yang berkedudukan di Aljir. Sang sultan juga memberikan untuknya dukungan persenjataan, armada, dan beberapa pasukan yanisari.

Pada Mei 1518, Spanyol menyerang Tlemcen—sekitar 500 km arah barat Aljir. Oruc gugur dalam pertempuran di sana. Sepeninggalannya, Hayreddin mengambil alih komando atas pasukan untuk melawan aliansi Spanyol. Setelah berjuang sekian lama, akhirnya pada 29 Mei 1529 Aljir dapat direbut kembali oleh corsair Muslim ini.

Keberhasilan itu dicapai terutama berkat dukungan dari Konstantinopel. Kepada Heyreddin, Sultan Suleiman I al-Qanuni memberikan dana, berbagai artileri, dan lebih dari 2.000 pasukan yanisari. Sokongan demikian dapat dipahami. Sebab, sejak Januari 1529 Utsmaniyah mendeklarasikan perang terhadap sang penerus raja Spanyol Charles V, Ferdinand I. Baik sultan maupun sang corsair menghadapi musuh bersama, yakni rezim Kristen-Andalusia.

Pada 1531, Hayreddin sukses merebut Tunis untuk Utsmaniyah. Konstantinopel pun kian yakin akan keandalannya sebagai pemimpin pertempuran di lautan. Dua tahun kemudian, dirinya diundang secara khusus ke Ibu Kota. Di hadapan Sultan Suleiman I dan Perdana Menteri Ibrahim Pasha, corsair Muslim itu diangkat sebagai marsekal atau kapudan pasha.

Di bawah kepemimpinan Hayreddin Barbarossa, Angkatan Laut Utsmaniyah mencapai masa gemilang. Setelah menjadi kapudan pasha, ia langsung menjalankan ekspedisi militer gabungan Turki-Prancis. Setelah sukses menyerang bandar-bandar di Teluk Naples, sasaran selanjutnya adalah Lazio, Terracina, dan bahkan Ostia—yang hanya berjarak 30 km dari Roma. Karena itu, penduduk Roma segera membunyikan lonceng-lonceng gereja mereka sebagai tanda keadaan sangat genting.

photo
Lukisan Tommaso Dolabella (1632) yang menggambarkan Pertempuran Lepanto. Perang yang terjadi pada 1571 di Teluk Lepanto, Yunani, itu menjadi penanda kemunduran armada Turki Utsmaniyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Lepanto, Awal Kemunduran Utsmani

 

Kapudan Pasha Hayreddin Barbarossa menjadi motor penggerak kejayaan Turki Utsmaniyah di lautan awal abad ke-16. Pada Juni 1543, armadanya nyaris saja menguasai Roma, jantung dunia Kristen Latin.

Namun, kota itu urung dikuasainya setelah mendengarkan saran dari duta besar Prancis untuk Turki, Antoine Escalin des Aimars. Diplomat yang juga akrab disapa Kapten Polin itu berusaha meyakinkan Hayreddin dengan mengatakan, Paus adalah salah satu sekutu Utsmaniyah di Eropa.

Memang, Prancis di bawah pemerintahan Raja Francis I menjalin aliansi yang tidak setara dengan Utsmaniyah. Dikatakan “tidak setara” karena dalam hal ini sang raja lebih membutuhkan bantuan Sultan Suleiman I al-Qanuni daripada sebaliknya. Kebutuhan itu terutama didasari persaingan yang keras antara Prancis dan Spanyol, yang kala itu dipimpin rival Suleiman I di Mediterania, Raja Charles V.

Karena bertindak di bawah bendera Utsmaniyah, Hayreddin tidak bisa sembarangan. Ia pun membiarkan Roma sesuai dengan saran sang duta besar Prancis. Keduanya lantas meneruskan misi untuk membebaskan kota-kota pelabuhan di Prancis selatan dari cengkeraman Spanyol.

Pada Agustus 1543, Nice berhasil dikuasai. Sebagai bentuk terima kasih, Francis I mengizinkan Hayreddin dan pasukannya untuk singgah di Toulon. Pada waktu itu, katedral setempat diubah sementara menjadi masjid. Azan untuk pertama kalinya berkumandang dari menara bangunan tersebut.

Dua tahun sesudah misi di Nice, Hayreddin kemudian pensiun dari jabatannya. Pada 1546, ia menghembuskan napas terakhir. Jenazahnya dimakamkan di Konstantinopel (Istanbul).

Sementara itu, aliansi Kristen di luar Prancis terus berupaya menyusun kekuatan. Spanyol menyatukan armadanya dengan Republik Venesia. Hasilnya, persekutuan ini dapat mengerahkan 200 unit kapal dan 60 ribu prajurit pada Oktober 1571.

Untuk menghadapinya, Turki di bawah komando Laksamana Muezzinzade Ali Pasha menerjunkan sebanyak 222 kapal dan 84 ribu pasukan. Kedua belah pihak lalu bertempur sengit di Teluk Lepanto, Yunani.

 
Inilah untuk pertama kalinya armada Utsmaniyah menderita kekalahan di sepanjang abad ke-16.
 
 

Di luar dugaan, kapal-kapal Turki tidak dapat mengatasi serangan Spanyol-Venesia. Bahkan, Muezzinzade gugur di medan pertempuran. Komando diteruskan oleh Uluc Ali, tetapi keadaan justru semakin memburuk. Inilah untuk pertama kalinya armada Utsmaniyah menderita kekalahan di sepanjang abad ke-16.

Dalam berbagai literatur disebutkan, Perang Lapanto menjadi tonggak penting yang menandakan surutnya kekuatan Utsmaniyah di Mediterania. Bahkan, secara de facto kawasan Laut Tengah mulai terbagi dua. Belahan baratnya dikuasai negara-negara Latin, sedangkan wilayah timurnya tetap dikendalikan Turki.

Menjelang abad ke-17, Spanyol dan Portugis semakin gencar mengadakan pelayaran jarak jauh demi mencapai sumber komoditas rempah-rempah di timur. Meskipun tetap tampil, kekuatan maritim Turki di Samudra Hindia kurang tangguh dalam mengusir armada berbendera Salib dari negeri-negeri Islam di Asia, termasuk Nusantara. Itulah awal dari imperialisme dan kolonialisme Barat yang berlangsung hingga abad ke-20.


Terkini

×