Sultan Mehmed II al-Fatih mendayagunakan armada laut untuk mengepung Konstantinopel pada 1453. | DOK WIKIPEDIA
06 Dec 2020, 05:00 WIB

Riwayat Gemilang Armada Utsmaniyah

Pada abad ke-14 dan 15, Turki Utsmaniyah merintis kekuatan maritim yang tangguh.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Turki Utsmaniyah mulai membangun angkatan laut pada awal abad ke-14. Sejak Sultan al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, armadanya pun kian solid. Mediterania menjadi arena perjuangan bahari kekhalifahan tersebut.

Pada mulanya, pendiri Dinasti Utsmaniyah Osman Ghazi hanya berfokus pada strategi perluasan wilayah di daratan Anatolia. Dengan penuh perjuangan, pasukannya kemudian dapat memukul mundur kekuatan Romawi Timur (Bizantium).

Bahkan, pertempuran sengit di Bapheus, sebuah distrik sekitaran Ismit atau Nikomedia, kira-kira 100 kilometer arah tenggara Konstantinopel, berhasil dimenangkannya pada 1301. Para sejarawan Bizantium, seperti Nikephoros Gregoras (1295-1359) atau George Pachymeres (1242-1310) menilai, mulai saat itu para kaisar Kristen tidak bisa lagi meremehkan Turki.

Mungkin, Bizantium dapat sedikit bernapas lega. Sebab, umumnya kawasan pesisir Anatolia dan lautan di sekitarnya masih dalam genggamannya. Namun, Osman segera menyadari hal itu. Ia pun mulai membangun armada yang tangguh.

Pada 1308, Turki Utsmaniyah berhasil menguasai Pulau Imrali. Meskipun Imrali adalah sebuah pulau kecil di Laut Marmara, penaklukan atasnya menjadi tonggak penting dalam sejarah armada Turki.

Dua tahun sebelum Osman wafat, kapal-kapal perang Turki bahkan berhasil mendarat di pantai Thrace—kawasan Eropa yang berbatasan langsung dengan Konstantinopel. Tentu saja, Bizantium menjadi cemas karena dengan begitu kerajaan Muslim tersebut sudah membuktikan ketangguhannya di lautan.

photo
Sultan Osman I atau Osman Ghazi, sang peletak Dinasti Utsmaniyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada 1354, Turki berhasil menguasai Semenanjung Gallipoli. Putra Osman, Orhan Ghazi, kemudian membangun pangkalan angkatan laut di sana. Hingga akhir abad ke-14, armada Turki dikerahkan untuk misi penaklukan atas berbagai daerah. Di antaranya adalah Selat Dardanella, Thessaloniki, Makedonia, dan pesisir Laut Hitam di Anatolia Utara.

Thessaloniki atau Salonika merupakan sebuah pelabuhan utama dan terbesar di pesisir Yunani. Pada era pemerintahan Sultan Murad I atau tepatnya tahun 1374, untuk pertama kalinya pasukan Turki mengepung salah satu kota penting yang dimiliki Bizantium itu. Walaupun berujung kegagalan, upaya tersebut menjadi penyemangat bagi sultan-sultan berikutnya.

Rival Turki Utsmaniyah di lautan tidak hanya Bizantium. Sejak pecahnya Perang Salib pada akhir abad ke-11, polarisasi dunia Kristen di Benua Eropa semakin terlihat. Belahan timur memunculkan Kristen Ortodoks yang berpusat di Konstantinopel. Adapun belahan baratnya mengakui Roma sebagai pusat legitimasi gereja Katolik.

Republik Venesia merupakan salah satu andalan Roma untuk mengadang kekuatan maritim Bizantium maupun Turki. Sebagai contoh, Penjarahan Konstantinopel yang terjadi dalam Perang Salib IV pada 1204. Pasukan Salib yang direstui Paus Innosensius III melakukannya dengan dukungan penuh armada Venesia.

Sejak September 1423, Venesia merebut Salonika dari tangan Bizantium. Namun, Turki terus menggempur bandar strategis tersebut dengan armada tempurnya. Akhirnya, Sultan Murad II berhasil mengusir pemerintahan Venesia dari sana pada 1430.

photo
Sultan Murad II yang dilukis oleh Konstantin Kapidagli - (DOK Wikipedia)

Sejak Penaklukan Salonika, Turki semakin giat memperbesar kekuatan maritimnya. Dalam hal ini, peran serta orang-orang Venesia tak dapat dipungkiri. Adalah benar bahwa secara resmi, konflik 15 tahun lamanya terjadi antara Dinasti Utsmaniyah dan Republik Venesia, khususnya di Morea, Laut Aegea, ataupun Albania.

Akan tetapi, masyarakat dari kedua belah pihak sesungguhnya memiliki pandangan yang sama terkait Bizantium, yakni ingin melemahkan dominasi Konstantinopel. Karena itu, tak sedikit orang Venesia yang ikut membantu Turki dalam memperkuat armada tempurnya demi menyerang Bizantium.

Selain Venesia, orang-orang Genoa pun berperan signifikan dalam sejarah angkatan laut Turki pada abad ke-15. Kalangan Venesia dan Genoa tidak hanya terdaftar sebagai personel pasukan, tetapi juga terlibat dalam proses konstruksi kapal-kapal besar yang kemudian berbendera bulan sabit-bintang.

Kedua bangsa itu tidak hanya dikenal sebagai pedagang yang sukses di kota-kota pelabuhan Laut Mediterania, melainkan juga perancang kapal yang ulung. Bagaimanapun, masing-masing pihak, secara resmi sebagai negara, tidak dapat disamakan. Bahkan, Republik Venesia dan Republik Genoa memandang satu sama lain sebagai rival walaupun sama-sama beragama resmi Katolik.

Armada Sang Penakluk

Puncak konfrontasi antara Turki dan Bizantium terjadi pada 1453. Mehmed II, saat itu masih berusia 21 tahun, telah mempelajari dengan saksama berbagai kegagalan yang dilalui para sultan sebelumnya.

Sultan ketujuh Dinasti Utsmaniyah tersebut menyadari, armada tempur Bizantium adalah kendala utama yang selama ini selalu menggagalkan upaya para pendahulunya dalam menaklukkan Konstantinopel. Alhasil, itulah yang pertama-tama harus dibereskannya.

Pada 1452, Benteng Rumelihisari tuntas dibangun di wilayah selatan daratan Eropa, pesisir Selat Bosphorus. Lokasinya tepat berseberangan dengan benteng yang dibangun sebelumnya pada masa Sultan Bayezid I. Mehmed II juga berhasil meningkatkan balatentaranya hingga 250 ribu orang—jumlah yang terbilang besar dibandingkan negeri-negeri lain waktu itu.

Mereka tidak hanya dibekali kemampuan tempur, tetapi juga penguatan rohani. Sang sultan tak pernah bosan mengingatkan pasukannya tentang sabda Rasulullah SAW, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.”

Mehmed II menaruh perhatian khusus pada aspek persenjataan. Salah satu yang terpenting adalah meriam. Arsitek kebanggaannya bernama Orban, seorang berdarah Hongaria yang sangat mahir merakit meriam.

photo
Lukisan Sultan Mehmed II, 1480, oleh Gentile Bellini (1429–1507) - (DOK Wikipedia)

Dituturkan bahwa meriam-meriam buatannya memiliki bobot hingga ratusan ton. Perlu ratusan lembu untuk menariknya. Sultan turun langsung dalam mengawasi pembuatan dan uji coba meriam-meriam tersebut.

Aspek terakhir yang disorotinya adalah armada laut Utsmaniyah. Bisa dikatakan, inilah sendi kekuatan yang paling krusial. Sebab, Konstantinopel merupakan sebuah kota pesisir yang dikelilingi tiga kawasan perairan, yakni Selat Bosphorus, Laut Marmara, dan Selat Tanduk Emas (Golden Horn).

Mustahil mengepungnya kecuali dengan menggunakan kapal-kapal laut yang tangguh. Untuk misi jihad di lautan ini, Mehmed II menyiapkan sekitar 400 unit kapal. Laksamana Suleiman Baltoghlu bertanggung jawab memimpin armada tersebut.

Sementara itu, pasukan Turki Utsmaniyah di daratan terus mengepung tembok-tembok benteng bagian barat Konstantinopel. Meriam-meriam juga terus disiagakan. Pada saat yang sama, kapal-kapal pasukan Utsmaniyah menyebar dari arah timur dan selatan di perairan yang mengitari ibu kota Bizantium itu.

Namun, semuanya tidak bisa berlayar sampai ke Tanduk Emas. Pergerakan mereka terhalang rantai-rantai besar yang dipasang Bizantium antara Gallata dan ujung timur pantai Konstantinopel.

Awalnya, pengepungan berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, armada yang dipimpin Suleiman Baltoghlu kemudian porak poranda dihantam kapal-kapal bantuan yang dikirim penguasa Kristen Eropa untuk Konstantinopel. Sultan menjadi sangat murka dan nyaris saja menghukum mati laksamana itu. Eksekusi urung dilakukan setelah Mehmed II mendengarkan pembelaan dari bawahannya. Baltoghlu hanya dipecat dari jabatannya, dan akhirnya diasingkan.

Nyatalah bahwa angkatan laut aliansi Eropa-Kristen lebih unggul. Apalagi, adanya rantai-rantai besar penghalang sangat menyulitkan armada Turki untuk merangsek masuk ke kawasan Golden Horn. Bila itu terus dibiarkan, boleh jadi Konstantinopel gagal ditaklukkan.

Mehmed II lantas mendapatkan ilham. Idenya adalah memindahkan kapal-kapal Utsmaniyah dari pangkalan di Bayskatasy ke pelabuhan pesisir Golden Horn via jalur darat. Dengan demikian, armada tersebut tak harus berurusan dengan rantai-rantai besar yang membentang di perairan. Eksekusi gagasan ini tentu memerlukan perjuangan luar biasa.

photo
Lukisan yang menggambarkan penerapan strategi Sultan Mehmed II, yang memindahkan puluhan kapal tempurnya melalui jalur darat, alih-alih laut, untuk menembus blokade Bizantium di Golden Horn. - (Facebook Mustafa Armagan)

Pemindahan itu dilakukan dengan cara menarik kapal-kapal armada Turki. Jarak yang mesti ditempuh sekitar 3 mil dengan kontur tanah perbukitan dan dataran rendah yang belum pernah dijamah sebelumnya. Rute yang akan dilalui pun harus menjauh dari Gallata. Sebab, khawatir akan diserang pasukan Bizantium dari selatan.

Mehmed II menginstruksikan pasukannya untuk mengeluarkan kapal-kapal dari Selat Bosphorus ke daratan. Semua kapal itu kemudian dinaikkan ke atas kayu-kayu licin. Selanjutnya, para prajuritnya mulai menarik kapal-kapal itu menuju pelabuhan Golden Horn.

Malam itu, mereka berhasil menarik lebih dari 70 unit kapal. Hal itu dilakukan di tengah kelengahan pihak musuh. Kapal-kapal yang “berlayar” di daratan, itulah strategi tak biasa dari sang sultan untuk armadanya.

Subuh tanggal 22 april 1453, penduduk Konstantinopel yang sedang lelap dalam tidurnya tiba-tiba terbangun. Mereka kaget mendengar suara takbir bersahut-sahutan dari ribuan pasukan Turki yang semakin mendekat. Kapal-kapal Utsmaniyah telah menguasai Golden Horn.

Sia-sialah strategi Bizantium dalam memasang rantai-rantai besar antara Gallata dan ujung timur Konstantinopel. Kini, tidak ada lagi penghalang antara tembok kota tersebut dan gelombang tentara bulan sabit-bintang.

Setelah beberapa pekan dikepung, Konstantinopel akhirnya berhasil ditaklukkan pada 29 Mei 1453. Di antara reruntuhan dan gelimang mayat musuh, tampaklah jasad Konstantinus XI Palaiologos, sang kaisar terakhir Bizantium. Melihat itu, Sultan Mehmed II meminta para tokoh setempat untuk menguburnya dengan penghormatan yang layak.

Demikianlah jihad Sultan Sang Penakluk (al-Fatih). Seluruh pasukan Muslimin diperintahkannya agar tidak mengganggu—apalagi membunuh—orang-orang Kristen dan penduduk sipil setempat, termasuk pendeta, perempuan, orang tua, dan anak-anak. Konstantinopel lalu dijadikannya sebagai ibu kota baru Utsmaniyah.


Terkini

×