KH Muhammad Yusron Shidqi, pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa al-Hikam, Depok, Jawa Barat. Dai yang juga putra KH Hasyim Muzadi itu memandang, teknologi digital harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk pendidikan Muslim Generasi Z. | DOK Pondok Pesantren Mahasiswa al-Hikam
06 Dec 2020, 04:30 WIB

KH Muhammad Yusron Shidqi Mendidik Muslim Generasi Z

Bagaimana mengarahkan penggunaan teknologi agar memberikan maslahat bagi Generasi Z.

Setiap zaman memunculkan tantangan tersendiri. Pada saat ini, perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan umat manusia. Orang-orang yang lahir pada tahun 1996 hingga 2010-an atau disebut pula sebagai Generasi Z merasakan dampak yang cukup besar.

Tim penulis The Washington Post dalam Generation Z: What It's Like to Grow up in the Age of Likes, LOLs and Longing (2016) mengatakan, anak-anak yang tergolong generasi tersebut sangat bergantung pada gawai untuk mengetahui dunia di sekitarnya. Untuk mendidik mereka, para orang tua dan guru memerlukan paradigma yang berbeda dari sebelumnya. Tidak bisa menerapkan cara-cara untuk, umpamanya, generasi 1980-an atau baby boomers.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mahasiswa al-Hikam KH Muhammad Yusron Shidqi menyoroti pola pendidikan untuk Muslimin Generasi Z. Menurut dia, metode pengajaran masa kini harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dengan demikian, orang tua dan pengajar dapat mengimbangi kemampuan generasi tersebut dalam memanfaatkan berbagai perangkat canggih.

“Generarasi Z yang merupakan konsumen teknologi digital ini adalah tantangan dan juga peluang bagi para guru,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yusron itu.

Terkait

Bagaimana mengarahkan Generasi Z agar lebih tertarik untuk mendalami Islam secara baik dan tepat? Dan, seperti apa pola-pola edukatif yang diterapkan di lembaga yang ia pimpin? Berikut wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin, dengan alumnus Universitas Abu Noor Kaftaroo, Damaskus, itu beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda melihat semangat keagamaan yang muncul pada Generasi Z?

Generasi Z itu merupakan konsumen utama teknologi digital. Berarti, pembagian generasi “XYZ” itu adalah tentang konsumen dan produsen. Kelihatannya, pembagiannya itu berdasarkan pada suatu riset atau pengelompokan untuk urusan pemasaran, urusan jual-beli.

Maka, ketika ditanya bagaimana semangat Generasi Z saat ini, berarti kita mengiaskan perilaku ekonomi dengan perilaku keagamaan. Walaupun kiasnya itu tidak pas, tetapi mungkin ada kesamaan.

Seperti apa religiositas Generasi Z yang Anda amati?

Anak-anak muda yang lahir pada 1996 sampai 2015 itu mengerti percepatan teknologi. Mereka sudah mengalami percepatan sehingga, saya kira, pola pikir keagamaan mereka sedikit-banyak terpengaruh oleh itu.

Dulu, perilaku agama yang kelihatannya lambat sekali dilakukan, seperti sedekah atau distribusi zakat, sekarang sudah mengalami percepatan. Orang bisa sedekah dan zakat di mana saja, cukup dengan (melalui) gawai smartphone mereka.

Jadi, semangat keagamaan anak-anak Generasi Z itu ikut pula mengalami percepatan. Ini menjadi salah satu sisi positifnya. Sebab, mereka lebih realistis dan aplikatif dalam menerjemahkan ajaran-ajaran syariat. Hanya saja, cepat di sini kadang-kadang tidak tahan terhadap benturan.

 

Apakah artinya itu Generasi Z “kurang sabar” menurut Anda?

Bukan begitu. Mereka ketika berhadapan dengan benturan, biasanya akan mundur atau memberikan respons yang kurang baik. Walaupun demikian, kalau saya lihat juga, orang-orang generasi sebelumnya-lah yang justru gampang “tersulut”.

Sementara, kalau Generasi Z itu saya lihat lebih toleran. Sebab, waktu tahun 1995 itu kemajemukan sangat digaungkan, setidaknya di Tanah Air. Alhasil, Generasi Z menjadi orang-orang yang lebih bisa menerima perbedaan. Mereka tidak terlalu terpangaruh dengan stigma-stigma.

Menurut Anda, bagaimana cara yang ideal dalam mengajarkan Islam kepada Generasi Z?

Kalau kita mengikuti pola pikir mainstream, pendidikan Generasi Z di era teknologi sekarang, tentu cara mendidiknya adalah dengan mengoptimalkan teknologi itu sendiri. Itu akan membuat nyaman para Generasi Z. Walaupun begitu, tetap saja tatap muka diperlukan.

Namun, melihat kondisi di Indonesia saat ini teknologinya belum merata. Misalnya, kita melihat bahwa Indonesia bagian barat masih lebih maju dari bagian timur. Maka, Generasi Z bagian Indonesia timur bila dibandingkan dengan Indonesia bagian barat pola pendidikannya pun akan berbeda.

Jadi, pemerataan teknologi masih menjadi kendala untuk pendidikan yang ideal?

Kalau yang kita maksud di sini adalah Generasi Z yang hidup dengan sistem komunikasi dan internet yang ideal, maka itu mudah saja. Kita tinggal mengoptimalkan media yang didukung oleh teknologi untuk mengajarkan nilai-nilai agama.

Dahulu, setidaknya pada masa saya, di pondok pesantren itu kan memakai baliho untuk menanamkan atau melecut motivasi para santri. Nah, sekarang, minimal kita bisa menggunakan running text atau menggunakan layar yang besar sehingga kita bisa menanamkan nilai-nilai agama kepada mereka.

Jadi pesan-pesan agama itu harus ditampilkan dengan teknologi. Itu poinnya. Sebab, mereka lama kelamaan akan sangat familiar dengan itu. Maka, logika yang mesti dibangun pertama-tama haruslah baik. Rencanakan untuk membuat konten yang mendidik. Lalu, penyampaiannya didukung dengan penerapan teknologi yang bijak, yang memang ada di dekat kita.

Apakah ketergantungan Generasi Z pada teknologi komunikasi menjadi tantangan atau peluang bagi kalangan pendidik?

Kalau menurut saya, tantangan dan peluang. Dua-duanya ada. Tantangannya adalah apakah gurunya sendiri mau dan siap untuk mengubah cara pembelajarannya dari berbasis non-digital menjadi digital.

Kehidupan Generasi Z tak mungkin lepas dari teknologi digital. Maka, solusinya adalah tentang kontrol atas teknologi itu sendiri. Artinya, bukan melarang sama sekali. Intinya, bagaimana mengarahkan penggunaan teknologi itu agar memberikan maslahat, bukan mafsadat, bagi Generasi Z.

Kemudian, peluangnya tentu, yang namanya pendidik harus menyesuaikan situasi dengan peserta didiknya. Jangan sampai kita sudah mendidik dengan susah payah dan sudah nyaman, tetapi ternyata pendidikannya gagal.

Oleh karena itu, Generasi Z yang merupakan konsmumen teknologi digital ini adalah tantangan dan juga peluang bagi para guru. Sebab, pada akhirnya proses pendidikan itu adalah transformasi kearifan-kearifan sehingga berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya.

Kalau kita tak mampu mentransfer kearifan itu, yang terjadi adalah kegagalan pendidikan. Efeknya juga buruk kepada masyarakat.

Kalau di lembaga yang Anda pimpin, apa saja metode edukatif yang diterapkan?

Di Ponpes Mahasiswa al-Hikam Depok (Jawa Barat), kami masih dalam penyesuaian. Artinya, yang kami gunakan hari ini adalah metode peralihan. Kalau dulu, pola pendidikannya terpusat pada pendidik. Nah, sekarang al-Hikam mulai berpikir untuk bagaimana agar sentralnya diarahkan kepada para peserta didik.

Jadi, kita mempunyai program jangka panjang, yaitu program edukasi kami sesuaikan dengan karakter dasar santri. Pondok pesantren akan mengidentifikasi karakter dasar mereka sebagai manusia. Berangkat dari situ, kami akan mengelompokkan mereka sesuai dengan potensinya masing-masing.

Itu proyeksi jangka panjang kami. Jadi, kami menginginkan para mahasiswa-santri atau mahasantri itu bukan berwarna homogen seperti warnanya pesantren, tetapi bagaimana agar mereka bisa optimal di bidang masing-masing, sesuai dengan bakat dan minatnya.

Seperti apa luaran (output) yang ingin dihasilkan?

Jadi, kami ingin mendorong mereka (para mahasantri) bukan lagi seperti yang diinginkan pihak pondok pesantren. Misalnya, kalau seperti di Pesantren Gontor itu kan orang-orang sepakat bahwa pondok modern seperti itu sangat bagus dalam bidang administrasi dan manajemen. Maka, lulusan dari Gontor pun biasanya sudah mengerti bagaimana sistem itu berjalan.

Kemudian, ada juga pondok pesantren yang mengajarkan tahfizul qur’an. Ada pesantren yang fokus mengajarkan tentang bahasa Arab, dan sebagainya. Namun, pada akhirnya saya berpikir kalau al-Hikam itu lebih ingin menjadikan para santri atau mahasiswa berfokus pada bidang masing-masing, sesuai dengan karakter bakat dan minatnya.

Tidak sedikit anak muda yang terpikat ekstremisme, bagaimana solusinya?

Paham-paham ekstremisme itu memang sangat mudah menyeruak di dunia digital. Sebab, di dunia internet orang seakan-akan boleh dan bebas mengatakan apa saja. Antara perkataan seorang profesor dan orang awam dianggap sama. Sering kita juga tidak mengetahui siapa yang berbicara.

Oleh karena itu, ekstremisme tidak pernah bisa diselesaikan kecuali dengan menampilkan nilai-nilai moderasi. Saya memahaminya begini. Ketika ekstremisme dilawan oleh para pendukung liberalisme, maka polarisasi yang semakin besar akan terjadi. Jadinya, bukan justru memadamkan.

Dua kutub itu tidak bagus. Maka, tidak ada cara untuk menangkal radikalisme dan liberalisme sekaligus selain dengan menjadi pribadi yang moderat.

Bagaimana Anda melihat moderasi di Indonesia belakangan ini?

Pribadi yang moderat tak terjadi dengan sendirinya. Perlu ada proses pendidikan. Di lingkungan pesantren, misalnya, para santri diajak untuk selalu berpola pikir yang moderat. Kalau menggunakan teknologi, umpamanya, posting-lah konten-konten yang moderat. Dengan begitu, tangan, pikiran, dan lisannya menjadi terbiasa untuk mengucapkan sesuatu yang tidak menjurus pada ekstremisme.

Kalau saya melihatnya, yang banyak dilakukan selama ini adalah program deradikalisasi. Termasuk di sana, penanggulangan terorisme dan ekstremisme. Sementara, upaya-upaya untuk moderasi itu tidak dilakukan secara terstruktur, dari hulu ke hilir, khususnya di dunia pendidikan Indonesia.

Padahal, itu penting sekali untuk membuat kaum muda menjadi berhaluan moderat sekaligus menumbuhkan sikap kritis mereka terhadap pemikiran-pemikiran yang beredar. Sehingga, nantinya anak-anak muda tidak mudah terpancing atau tersulut. Mereka akan mengerti, mana yang provokasi dan mana yang ilmiah.

photo
ILUSTRASI KH Muhammad Yusron Shidqi mengenang ayahandanya, KH Hasyim Muzadi, sebagai sosok yang tidak pendendam serta vokal dalam membela umat dan agama. - (DOK REP Putra M Akbar)

Meneladani Abah Hasyim Muzadi

Bagi umat Islam di Indonesia, khususnya kalangan Nahdliyin, KH Hasyim Muzadi dikenal sebagai sosok yang berprinsip, egaliter, mengayomi, sekaligus cerdas. Ketokohannya diakui semua kalangan, baik Muslim maupun non-Muslim.

Sebagai seorang figur nasional, Kiai Hasyim tak kenal lelah dalam mengampanyekan karakteristik Islam rahmatan lil 'alamin. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2010 itu berpulang ke rahmatullah pada 16 Maret 2017 lalu dalam usia 73 tahun.

KH Muhammad Yusron Shidqi merupakan putra bungsu almarhum Kiai Hasyim Muzadi. Hingga kini, dirinya terus melanjutkan perjuangan sang abah, khususnya dalam dunia pendidikan Islam. Mubaligh kelahiran Malang, Jawa Timur, 24 Oktober 1986 itu tercatat pernah menempuh studi di Pondok Modern Darussalam Gontor hingga lulus pada 2005.

Pendidikan tinggi ditempuhnya di Universitas Abu Noor Kaftaroo, Damaskus, Suriah, pada jurusan kajian Islam dan bahasa Arab. Setelah lulus pada 2011, lelaki yang akrab disapa Gus Yusron itu melanjutkan studi S-2 di Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta dan berhasil meraih gelar magister pada 2019.

Kini, Gus Yusron menjadi Kepala Pondok Pesantren Mahasiswa al-Hikam di Depok, Jawa Barat. Baginya, sosok KH Hasyim Muzadi mewariskan keteladanan kepada anak-anak, keluarga, dan para santri seluruhnya. Satu hal yang begitu berkesan baginya ialah kepribadian sang ayah. Tidak pernah Abah Hasyim menaruh dendam secara pribadi kepada orang.

“Abah itu orang yang tidak punya dendam pribadi. Jadi, ketika Abah secara pribadi diserang, maka Abah tidak suka untuk menjawab serangan itu,” ujar Gus Yusron kepada Republika baru-baru ini.

 
Ketika Abah secara pribadi diserang, maka Abah tidak suka untuk menjawab serangan itu.
 
 

Keadaannya berbeda bila yang diserang adalah Islam dan kaum Muslimin. Abah Hasyim, lanjut dia, akan langsung memberikan kritik terhadap pihak-pihak penyerang. Jawabannya bukan dengan agitasi, melainkan pemikiran-pemikirannya yang ilmiah dan argumentatif.

“Kalau suatu hal menyinggung pribadinya, Abah lebih cenderung untuk memaafkan. Tapi, untuk umat Islam dan perjuangan Islam, beliau ketat sekali, ” katanya.

Selain itu, ulama yang pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI itu juga mengajarkan tentang pentingnya disiplin. Sebagai contoh, Gus Yusron menuturkan, pernah suatu ketika ayahnya berpesan agar dirinya segera naik pesawat sebelum jadwal keberangkatannya ke Suriah.

“Itu pesan sederhana, tetapi intinya beliau mengajarkan tentang momentum. Manfaatkan momentum sebaik-baiknya. Jangan sampai menunda-nunda pekerjaan. Karena kalau kamu tunda pekerjaan untuk besok, kamu sudah punya agenda lain yang pasti akan berantakan,” ucapnya.


Terkini

×