Warga berada di rumah duka korban penyerangan kelompok terduga teroris di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (29/11/2020). Aparat keamanan terus memburu para pelaku penyerangan yang diduga dilakukan kelompok tero | ANTARA FOTO/Faldi/Mohamad Hamzah
05 Dec 2020, 12:50 WIB

Ungkap Akar Masalah Teror Sigi

Aksi teror Ali Kalora berpotensi menghidupkan jaringan MIT dan kelompok teroris lain.

 

Aksi terorisme di Dusun Lima Lewonu, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu mengguncang masyarakat Sigi. Kepala Kanwil Kemenag Kabupaten Sigi As'ad Latopada menjelaskan, peristiwa berdarah yang menewaskan jemaat gereja merupakan kasus pertama di daerah tersebut.

Menurut dia, selama ini kerukunan antarumat beragama di wilayahnya cenderung baik. "Kabupaten Sigi ini wilayah yang aman, masyarakatnya hidup dalam kedamaian dalam keberagaman. Maka, jujur saja, kami kaget dan prihatin dengan peristiwa ini," kata As'ad saat dihubungi Republika, Rabu (2/12).

Dia menilai peristiwa teror tersebut tak terlepas dari aksi provokasi yang berkembang di tengah masyarakat di Kabupaten Sigi. Provokasi itu menciptakan aksi teror dan merusak kerukunan umat beragama.

Terkait

As'ad pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Bersama sejumlah pemangku jabatan, As'ad mengunjungi keluarga korban untuk memberikan dukungan moral agar dapat kuat menghadapi musibah. Tak lupa, As'ad menekankan kepada masyarakat Sigi agar menghargai perbedaan.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nur Waid mengatakan, aksi teror yang dilakukan kelompok Ali Kalora mempunyai potensi besar menghidupkan jaringan-jaringan MIT dan kelompok teroris lainnya. "Bisa juga menghidupkan JAD dan sebagainya. Untuk itu, upaya penegakan hukum itu kan selalu masif," tutur Nur kepada Republika, beberapa waktu lalu.

photo
Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020) - (ANTARA FOTO/Humas Polres Sigi)

Menurut Nur, upaya pencegahan semakin diperkuat untuk memperkecil potensi jaringan-jaringan teroris bangkit kembali dan melakukan perekrutan anggota baru. Nur menjelaskan, sejak berlakunya UU Nomor 5 Tahun 2018, upaya penegakan hukum untuk mencegah aksi-aksi terorisme cukup membuahkan hasil.

Tercatat, sejak 2018 ada sebanyak 535 orang yang ditangkap karena diduga terkait dengan terorisme. Penindakan kembali berlanjut dengan penangkapan terhadap 172 orang terduga teroris sejak Maret 2020.

Nur menegaskan, bidang Pencegahan BNPT terus berupaya melakukan upaya preventif dengan berlandaskan UU Nomor 2 Tahun 2018 dan PP Nomor 77 Tahun 2019. Menurut Nur, upaya pencegahan dilakukan melalui tiga hal, yakni kesiapsiagaan nasional, baik pada faktor manusia, sarana, anggaran, maupun imunitas ideologi melalui pembangunan karakter masyarakat, revolusi mental, pendidikan akhlak karimah, dan lainnya.

Pihaknya juga melakukan kontraradikalisasi melalui kontrapropaganda, kontranarasi, dan kontraideologi. Semisal menyebarkan narasi persatuan, kedamaian, atau Pancasila melalui media sosial dan media lainnya. BNPT pun menyosialisasikan bahwa radikal terorisme mengatasnamakan agama merupakan musuh agama dan musuh negara karena bertentangan dengan prinsip agama serta konsensus bernegara.

 
Radikal terorisme mengatasnamakan agama merupakan musuh agama dan musuh negara.
 
 

Menurut Nur, kelompok-kelompok terorisme seperti kelompok Ali Kalora maupun jaringan sel teroris lainnya terus berupaya melakukan perekrutan anggota baru secara masif. Akan tetapi, dia mengeklaim, hal itu selalu dapat digagalkan. "Sebetulnya, untuk kelompok Ali Kalora sekarang ini jumlahnya hanya kurang lebih 12-an," tutur Nur.

Upaya pengejaran terhadap kelompok Ali Kalora terus dilakukan Satgas Tinombala. TNI telah menerjunkan pasukan khusus untuk memperkuat personel yang telah bertugas mencari keberadaan Ali Kalora dan komplotannya. Kapolri Jenderal Idham Azis bahkan langsung memerintahkan kepala Polda Sulteng untuk berkantor di Poso agar dapat berfokus memburu kelompok MIT.

"Perintah Kapolri pada Selasa, 1 Desember 2020, Kapolda Sulteng berkantor di Poso dan di-backup oleh tim terbaik Bareskrim Polri," ungkap Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/12).

Satgas Tinombala yang merupakan gabungan aparat TNI-Polri, kata Argo, masih mengejar kelompok MIT. "Tim Densus 88, pasukan TNI, dukungan drone, serta intel TI dikerahkan guna membantu proses pengejaran. Pasukan Satgas Operasi Tinombala ke wilayah Desa Lembantongoa, Sausu, Salatanga," ujar dia.

Selain memburu Kelompok MIT, aparat gabungan TNI-Polri juga melakukan trauma healing kepada warga pascaaksi teror yang dilakukan kelompok MIT. Penempatan personel Brimob di tiga lokasi di area transmigrasi Desa Levonu Sigi juga dimaksudkan untuk memberikan rasa aman kepada warga.

Mantan kabid humas Polda Metro Jaya ini mengatakan, pihaknya sudah melakukan dialog dengan tokoh masyarakat, agama, serta tokoh adat Sulteng agar masyarakat tak termakan isu hoaks. "Pertemuan dengan pihak MUI, FKUB, media termasuk Komnas HAM sudah dilakukan untuk meredam suasana agar tetap kondusif," ujar Argo.

photo
Terorisme di Sulteng - (Republika)

Mengenal Ali dari Desa Kalora

Kalora digadang-gadang sebagai aktor yang bertanggung jawab atas tewasnya empat warga di Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (27/11). Siapa sebenarnya sosok Ali Kalora?

Pemilik nama asli Ali Ahmad ini berasal dari Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso. Pada mulanya, ia adalah orang kepercayaan Santoso alias Abu Wardah, pemimpin kelompok teroris bernama Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Ali Kalora menjadi pengikut Santoso paling senior. Kedekatannya dengan Santoso serta kemampuannya di medan hutan pedalaman Sulawesi membuatnya dipercaya memimpin sebagian kelompok MIT pascakematian Daeng Koro, salah satu pentolan di MIT.

Daeng Koro alias Sabar Subagio adalah salah satu gembong teroris di Sulawesi. Ia merupakan anggota TNI yang dipecat. Terakhir, Daeng bertugas di Sulawesi Selatan.

photo
Daeng Koro - (DOK Wikipedia)

Daeng bergabung dengan kelompok MIT di bawah kepemimpinan Santoso pada 2012 setelah menjalani pelatihan militer ilegal di Filipina. Ia tewas dalam baku tembak dengan aparat di Kabupaten Parigi Moutong pada 3 April 2015.

Setahun kemudian, Santoso tewas ditembak aparat dalam operasi satgas Tinombala pada 18 Juli 2016. Setelah Santoso tewas, kelompok yang menyatakan berafiliasi kepada ISIS itu pun dikomandoi oleh Basri. Basri pun berhasil ditangkap Satgas Tinombala. Masih pada 2016, Polri pun memburu Ali Kalora dan komplotan MIT yang tersisa. Ia menjadi target utama dari operasi Tinombala.

Menurut pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, sosok Ali Kalora sudah seperti simbol baru bagi perlawanan kepada rezim. "Saya lihat Ali Kalora ini menjadi simbol perlawanan terhadap rezim yang itu kemudian dia menggunakan narasi-narasi jihad fardhiyah bahwa penting ini jihad. Ada ketidaknyamanan warga Poso terhadap penanganan keamanan, jadi ekspresi itu juga bisa," kata Huda kepada Republika.

Meski anak buah kelompok MIT di bawah komando Ali Kalora diperkirakan hanya belasan orang saja, kelompok MIT di bawah Ali Kalora disebut memiliki militansi dan kemampuan survival tinggi di pedalaman. Menariknya lagi, Huda menjelaskan, ada satu di antara anak buah Ali Kalora yang bukan asli Poso.

Dia merupakan warga Banten yang gagal bergabung dengan ISIS. Menurut Huda, ini juga menunjukan gagalnya pola pencegahan.

"Mereka pasti akan berupaya merekrut, itu pasti. Jumlah mereka itulah sekarang hanya belasan. Tapi, ada satu di antara mereka itu deportan dari Banten, kegagalan proses mau bergabung ke ISIS, deportan itu gagal lalu melalui jaringan sesama ISIS-nya itu dia gabung dengan kelompok MIT. Artinya aparat sudah tahu orangnya, pernah dapat binaan tapi ternyata gagal," kata dia.

photo
Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Abdul Rakhman Baso (kanan) mengunjungi dan memberikan bantuan kepada warga korban serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020) - (ANTARA FOTO/Humas Polres Sigi)

Kekuatan yang tak sebanding

Pengamat terorisme Haris Abu Ulya menilai, aksi terorisme dan ekstremisme di Sulteng kerap terjadi tak lepas dari penyelesaian kasus Poso yang belum selesai. Jaringan teroris dari kelompok MIT terus berupaya menebarkan aksi terornya.

Jika diukur dari segi kemampuan fisik, logistik, dan persenjataan, dia menilai, masalah MIT seharusnya bisa diselesaikan negara. Sebab, kombatan MIT tidak memiliki sejumlah kemampuan yang sebanding dengan aparat keamanan RI.

"Faktanya ini, kan, orang-orang DPO (daftar pencarian orang), sementara mereka butuh logistik, maka mereka akan merespons keras kalau tak dapat. Pertanyaannya, mengapa mereka bisa lebih keras beraksi sementara keterbatasan mereka banyak?" kata dia.

Jika ditarik ke belakang, dia menilai, aksi terorisme yang terjadi ini merupakan residu dari konflik masa lalu di Poso yang tak tuntas.

Selanjutnya, kata dia, konflik ini diteruskan oleh Ali Kalora. Haris mempertanyakan mengapa kelompok sipil dengan kekuatan terbatas ini justru seolah menjadi hal yang sulit dituntaskan pemerintah. "Harusnya aparat yang lebih mengerti taktik perang. Maka, kemampuan untuk survive di tengah hutan, itu sangat mungkin dilakukan oleh pasukan-pasukan khusus. Mengapa tidak bisa dituntaskan?" ujarnya. 


×