Sejumlah murid mengenakan masker dan pelindung wajah saat proses belajar mengajar di salah satu Sekolah Dasar Negeri, Desa Garut, Kecamatan Darul Imara, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (2/12). | ANTARA FOTO/Ampelsa
03 Dec 2020, 03:00 WIB

IDAI: Sekolah Tatap Muka Berisiko

Kemendikbud menyebut PJJ memberi banyak dampak negatif pada siswa.

JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai kegiatan belajar mengajar tatap muka berisiko tinggi memperburuk penularan Covid-19. Kendati pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak gampang dengan sejumlah kendala yang menyertainya, IDAI memandang hal tersebut masih lebih baik.

Ketua Umum IDAI Aman B Pulungan mengatakan, pelaksanaan PJJ merupakan pilihan sulit namun sangat perlu diterapkan, mengingat jumlah kasus konfirmasi Covid-19 di Indonesia saat ini masih terus meningkat. Satu dari sembilan kasus konfirmasi Covid-19 di Indonesia adalah anak usia 0 sampai 18 tahun.

“Anak yang tidak bergejala atau bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami gejala Covid-19 yang berat,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (2/12).

Terkait

Data menunjukkan proporsi kematian anak akibat Covid-19 masih tinggi. Per 29 November 2020, tercatat sebesar 3,2 persen dari total kasus kematian di Indonesia tergolong berusia anak, dan merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik saat ini.

Aman mengatakan, peningkatan jumlah kasus yang signifikan pascapembukaan sekolah dilaporkan juga terjadi di beberapa negara maju seperti Korea Selatan, Prancis, Amerika, Israel. Ia meminta orang tua memikirkan dan mempertimbangkan matang-matang sebelum memberi persetujuan pembelajaran tatap muka anaknya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebut PJJ memberi dampak negatif pada siswa. “Mulai dari ancaman putus sekolah, yang disebabkan anak terpaksa bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah pandemi Covid-19,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbud, Jumeri.

Dia mengatakan, pelaksanaan PJJ membuat orang tua memiliki persepsi tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka. Dampak berikutnya, menurut Jumeri, adalah kendala tumbuh kembang, yang mana terjadi kesenjangan capaian belajar.

Dia melanjutkan, dampak buruk lainnya adalah akan terjadi risiko kehilangan pembelajaran yang terjadi secara berkepanjangan dan menghambat tumbuh kembang anak secara optimal. Dampak selanjutnya adalah tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga yang mana mengakibatkan anak stres akibat minimnya interaksi dengan guru, teman dan lingkungan luar, ditambah tekanan akibat sulitnya pembelajaran jarak jauh yang menyebabkan stres pada anak.

“Juga kasus kekerasan banyak yang tidak terdeteksi, tanpa sekolah banyak anak terjebak pada kekerasan di rumah tanpa terdeteksi oleh guru,” kata dia.

Siswa dan guru positif

Sebanyak 15 dari 150 siswa di salah satu SMP swasta di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terkonfirmasi positif Covid-19 setelah dilakukan tes usap. Uji usap terhadap 150 siswa SMP swasta di Kabupaten Jepara itu sebagai tindak lanjut dari penelusuran kontak erat terhadap pasien Covid-19.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Jepara Muhammad Ali mengatakan, belasan siswa yang dinyatakan positif Covid-19 tersebut diminta menjalani isolasi di rumahnya masing-masing karena memang tidak disertai gejala. “Jika di rumahnya sendiri tentu ada pihak keluarga yang akan mengawasi,” ujar dia.

photo
Sejumlah murid memperlihatkan poster sosialisasi pencegahan Covid-19 sebelum pembagian masker di salah satu Sekolah Dasar Negeri, Desa Garut, Kecamatan Darul Imara, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (2/12). Pemerintah Aceh meluncurkan Gerakan Masker Sekolah (Gemas) dengan menyasar sebanyak 1,08 juta pelajar. - (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Di Kudus, Jawa Tengah, sebanyak tiga guru di SMP 3 Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dinyatakan meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. “Meskipun kematian ketiga guru tersebut tidak bersamaan, tetapi hasil tes usap ketiganya memang terkonfirmasi positif Covid-19 dan masing-masing memiliki penyakit penyerta,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kudus Andini Aridewi.

Tim Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kudus, kata dia, langsung menindaklanjuti hasil tes usap tenggorokan ketiganya yang dinyatakan positif Covid-19 dengan melakukan penelusuran kontak erat. Andini mencatat, ada 43 guru di SMP 3 Jekulo yang harus menjalani tes usap tenggorokan untuk memastikan apakah terpapar virus korona atau tidak.

Penelusuran kontak tidak hanya di lingkungan SMP 3 Jekulo. Melainkan, masing-masing anggota keluarga dari ketiga guru yang meninggal tersebut juga dilakukan guna memastikan ada tidaknya penularan di lingkungan keluarga.


×