Sastra
Akhir Zaman
Puisi-puisi Mu’min Roup
Oleh MU'MIN ROUP
Akhir Zaman
Para tetangga Fulan memberi peringatan,
“Untuk apakah kau menanam pohon apel itu?
Bukankah sebentar lagi akan datang hari kiamat?”
Dengan tekun dan cekatan pohon-pohon apel itu
tetap ditanam Fulan dalam keadaan gelap,
karena asap-asap dukhan berdatangan
menyelimuti langit.
Keesokan pagi di hari Jumat,
tepat sekali dugaan mereka,
Malaikat Israfil meniup sangkakala,
hingga bergelimpangan umat manusia
menghembuskan nafas terakhirnya.
Tak berapa lama, Fulan terbangun dari tidurnya,
serta menemukan dirinya tersadar
di sebuah balai-balai tempat peristirahatan,
dikelilingi pohon-pohon apel
dengan buahnya yang ranum dan matang.
Sedangkan di kejauhan sana,
tampak para tetangga Fulan terbangun
di sekitar pohon-pohon ilalang yang kering,
tanpa sebatang pun pohon berbuah
di sekeliling mereka.
***
Ulama dan Pendengki
Seorang pendengki membisiki tukang jahit,
agar menjahitkan baju Imam Syafi’i
dengan lengan yang panjang sebelah.
Ia memprovokasi ulama dan penulis besar itu
agar dirinya merasa kesal dan jengkel.
Namun demikian keesokannya,
Imam Syafi’i justru merasa senang
dengan lengan bajunya yang panjang sebelah.
Sambil mengucap terima kasih pada tukang jahit,
Imam Syafi’i berkata,
“Biasanya saya merasa terganggu
dengan lengan baju sebelah kanan
yang menjorok mengenai tinta pada saat menulis.
Tetapi sekarang alhamdulillah,
saya tak perlu melingkis lengan baju lagi,
karena lengan sebelah kanan sudah cukup pendek.”
Maka sang pendengki semakin menjadi-jadi
kedengkian dan kejengkelannya.
***
Sang Visioner
Seorang sahabat memprotes larangan Rasulullah,
karena dirinya siap menghunuskan pedang
untuk memenggal leher Hindun
yang telah merobek-robek tubuh Hamzah
di medan pertempuran (Perang Uhud).
Sebagian sahabat berpendapat,
bahwa sikap keji perempuan tua itu
hendaknya dibalas dengan kekerasan yang setimpal.
Namun beberapa tahun kemudian,
para sahabat memahami kebijakan Rasulullah,
karena pada mulanya tak seorang pun menduga
bahwa sosok Hindun akhirnya menyadari kekhilafannya,
serta menyatakan keislamannya.
***
Menolak Dendam
Pada saat legitimasi kekuasaan
berada di tangan kaum muslimin,
justru Rasulullah memaafkan kaum Qurays,
kaum Thaif, dan seluruh penduduk Mekah,
yang dulu menorehkan luka,
baik secara fisik, emosi dan kejiwaan.
Hal serupa pernah dilakukan Ali bin Abi Thalib,
ketika ia hendak memenangkan pertarungan
dan siap memenggal leher lawannya,
justru ia membatalkan untuk membunuhnya
lantaran sang lawan meludahi mukanya.
Hal tersebut dikarenakan Ali
tak mau membunuh sang musuh
atas dasar hawa nafsu dan dendam kesumat.
***
Kualitas Kesabaran
Kesabaran adalah anugerah Allah
yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya.
Bahkan para Nabi bersikap sabar
lantaran kesabaran dikaruniakan kepada mereka.
Untuk itu, hendaknya setiap hamba terkoneksi
dan selalu berzikir mengingat Allah
di setiap ruang dan waktu.
Karena ketika seorang hamba merasa putus asa
sambil berdalih bahwa kesabaran ada batasnya.
Pada hakikatnya dia sendirilah
yang membatasi nilai-nilai kesabaran
yang ada pada dirinya.
***
Puisi Mu’min Roup adalah dosen dan peneliti pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional cetak dan online.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
