Cerpen Telepon Genggam Mang Dolak | Daan Yahya/Republika

Sastra

Telepon Genggam Mang Dolak

Cerpen Syabaharza

Oleh SYABAHARZA

Telepon genggam berantena itu terus digenggam mang Dolak. Walau sangat sederhana, tapi benda jadul itu sangat canggih menurut mang Dolak. Benda itu berhasil dibeli oleh mang Dolak di sebuah pasar loak di sudut pasar kota yang kumuh. Mang Dolak berhasil memperoleh benda itu setelah tiga bulan ia mengumpulkan penghasilannya. Penuh perjuangan untuk mang Dolak memiliki benda itu. Mungkin bagi sebagian orang benda tersebut sudah ketinggalan zaman, bahkan jika diberikan secara cuma-cuma sebagian orang akan menolaknya.

Mang Dolak sangat sayang dengan benda tersebut, mengingat perjuangannya untuk mendapatkan benda itu sangat luar biasa. Penghasilannya sebagai satpam di sebuah toko besar di kota itu disisihkannya sedikit demi sedikit. Terkadang ia harus menahan rasa penasarannya terhadap sebuah makanan mahal, bahkan terkadang ia rela makan apa adanya demi untuk mendapatkan benda tersebut.

Benda dengan huruf di keyboardnya mulai memudar itu bahkan sulit menerima signal. Sehingga terkadang ada yang menghubungi mang Dolak sering merasa kesal bahkan sampai marah-marah, karena menganggap mang Dolak tidak punya sopan santun. Bahkan terkadang ada pesan yang masuk baru terbaca oleh mang Dolak tiga hari kemudian. Sebenarnya bukan hanya tidak bisa menerima signal, telepon genggam mang Dolak juga sering tidak memiliki pulsa dan itu juga salah satu penyebab pesan dari orang terlambat diketahui mang Dolak. Walau demikian mang Dolak selalu membawa barang kesayangannya itu ketika bekerja sebagai sekuriti.

Sebenarnya mang Dolak pernah ditawari beberapa sales telepon pintar agar segera mengganti telepon jadulnya. Tetapi mang Dolak selalu menolak. Alasannya tentu sudah bisa ditebak karena mang Dolak tidak mempunyai uang untuk membelinya. Jangankan membeli telepon pintar yang harganya jutaan tersebut, untuk makan sehari-hari saja terkadang mang Dolak mencari pekerjaan tambahan di saat libur kerja. Sehingga mang Dolak tetap setia dengan telepon genggamnya tersebut. 

 

***

 

Pagi itu mang Dolak sudah rapi dengan seragam satpam warna putihnya. Walau terlihat sudah lusuh dan kusut seragam satpam itu tetap keren dipakai mang Dolak. Seragam satpam itu lusuh karena sudah bertahun-tahun tidak diganti ditambah tidak ada setrika untuk merapikannya membuat seragam itu bertambah karut marut. Peluit warna putih sudah melinggar di tangan kanannya. Sebuah benda bulat berukuran setengah meter bergelantungan di pinggangnya. Itulah satu-satunya senjata yang dibekali dari toko tempat ia bekerja. Celana dengan banyak kantong sudah membungkus kaki mang Dolak. Ia bertambah gagah dengan sepatu PDL yang menyelimuti kakinya. Dan yang tidak pernah ketinggalan adalah telepon genggam jadul kesayangannya.

Mang Dolak sedikit beruntung karena tempat ia bekerja tidak jauh dari tempat tinggalnya, sehingga hanya dalam hitungan menit ia sudah sampai di tempat kerjanya. Kedekatan tempat kerja dengan huniannya membuat mang Dolak selalu datang lebih awal dan tidak sekalipun ia pernah terlambat, hal itulah yang membuat pimpinan tempatnya bekerja sangat sayang dan perhatian kepadanya. Terkadang ia mendapatkan hadiah berupa makanan yang lezat dari pimpinannya tersebut. Bahkan tidak jarang mang Dolak diajak pimpinannya itu ke sebuah acara resmi untuk membicarakan masalah bisnis. Sebagai seorang satpam tentu diajak oleh seorang bos merupakan penghormatan yang luar biasa. 

Namun kedekatannya dengan bos tempatnya bekerja itu terkadang membuat sebagian karyawan yang lain merasa cemburu. Bagi sebagian karyawan tidak pantas seorang satpam bergaul dengan pimpinan. Hal itu sebenarnya disadari oleh mang Dolak, sehingga terkadang ia menolak ajakan bosnya tersebut. Namun karena ia hanya bawahan membuatnya tidak kuasa menolak ajakan. Ia sendiri tidak tahu kenapa sang bos lebih percaya kepada dirinya dibanding karyawan yang lain. Ada sebuah kata-kata keramat yang membuat mang Dolak takut ketika menolak ajakan bosnya. 

“Kalau Kamu tidak mau, nanti saya pecat”

Kalimat itulah yang selalu menjadi momok bagi mang Dolak ketika hendak menolak bosnya.

“Kamu jangan takut, nanti saya tanggung jawab jika ada yang iri kepadamu”

Dan kalimat yang ini seakan menjadi perisai bagi mang Dolak dalam menangkis serangan kecemburuan sosial karyawan yang lain. Dua kalimat keramat itu selalu terngiang dan disimpan mang Dolak dalam hatinya. 

 

***

 

“Hey…Dolak kenapa kamu masih bekerja di sini”

Pertanyaan dari seorang karyawan yang ditujukan ke mang Dolak terasa terdengar aneh. Kenapa karyawan itu bertanya seperti itu? Bukankah ia tahu kalau mang Dolak adalah satpam di toko tersebut. Atau mungkinkah karyawan tersebut terkena amnesia?

“Lho….kenapa Bapak bertanya seperti itu?”

Masih dengan perasaan heran dan penuh tanda tanya, mang Dolak meminta konfirmasi dengan bapak yang bertanya tadi.

“Kamu ini memang belum tahu atau pura-pura tidak tahu sih?”

Mang Dolak bertambah bingung mendengar ucapan karyawan tersebut.

“Memang ada apa? Coba jelaskan kepada saya”

Mang Dolak masih bingung dan berusaha meminta penjelasan atas ucapan karyawan tersebut.

“Dolak…..Dolak,”

“Ya sudah, nanti kamu akan tahu sendiri”

Karyawan itu berlalu tanpa menjawab pertanyaan mang Dolak. Ia berjalan santai menuju ke dalam toko meninggalkan mang Dolak yang masih kebingungan dengan berjuta pertanyaan.

Mang Dolak mengambil telepon genggam bututnya dari kantong celana satpamnya. Ia berniat ingin mencari informasi tentang ucapan karyawan tadi. Ia berniat melihat isi telepon genggamnya, siapa tahu ada pesan masuk atau kalau tidak ia ingin memberanikan diri menelepon sang bos. Tapi mang Dolak lupa kalau hari itu tanggal tua, sehingga telepon genggamnya tidak berdaya karena tidak ada pulsa yang masuk. Sekedarnya info jika sudah tanggal tua dompet mang Dolak seperti kontrakan yang tidak ada penghuninya. Keadaan itu membuat mang Dolak bertambah penasaran.

Harapan mang Dolak sedikit hidup kembali setelah ia melihat sang bos datang mengendarai sebuah mobil Pajero putih. Dengan sabar mang Dolak menunggu sang bos keluar. Mang Dolak sudah mempersiapkan satu pertanyaan ketika sang bos melewati pintu yang dijaganya. Sang bos sudah keluar dari mobilnya dan merapikan jas warna hitamnya dan dasi sewarna dengan jasnya. Dengan bergegas sang bos berjalan menuju pintu masuk. Mnag Dolak sudah bersiap-siap mengajukan pertanyaan. Tapi, mang Dolak merasakan sesuatu yang aneh dengan bosnya hari itu. Sang bos tampak dingin, tidak ada senyum yang biasa dilihat mang Dolak. Bahkan sekedar menyapa mang Dolak saja sang bos tidak sempat lagi. Ia langsung saja masuk ke pintu toko tanpa memperdulikan mang Dolak. Seakan-akan sang bos tidak melihat mang Dolak di depannya. 

Mang Dolak bertambah bingung, kenapa orang-orang hari itu bertingkah aneh. Tadi seorang karyawan melontarkan pertanyaan yang aneh kepadanya. Dan baru saja ia menjumpai kejadian yang tidak kalah anehnya. Sang bos yang biasanya ramah dan murah senyum, hari itu sangat kontras dengan hari-hari sebelumnya. Sang bos bagai orang baru yang tidak kenal dengan mang Dolak. Mang Dolak menggelengkan kepalanya sambil tangannya tetap memegang telepon genggamnya. Ia berusaha melupakan semua kejadian hari itu. Ia berhusnuzzhon saja, mungkin hari itu semua orang mendapat masalah yang berat.

 

***

 

“Kenapa Bapak mengirim SMS seperti ini?”

Ruangan mewah dan dingin dengan AC nya itu terasa panas oleh mang Dolak. Suaranya bagai gemuruh di musim kemarau. Ia bertanya dengan nada kecewa terhadap bosnya yang duduk di kursi mewah.

“Tolong jelaskan pak, apa salah saya?”

Mang Dolak terus melontarkan pertanyaan.

Sementara sang bos masih bergeming. Sang bos asyik dengan telepon genggam canggihnya. Terlihat jemarinya begitu lincah mengusap layar benda yang juga disebut i-phone itu. 

“Bapak tolong beri saya penjelasan?”

Kali ini suara mang Dolak bergetar. Ia menahan antara marah dan sedih. Bahkan ia sudah berlutut di depan kursi sang bos. Mang Dolak tidak perduli lagi derajatnya direndahkan dengan berjongkok di depan sang bos. 

Suasana hening menyelimut ruangan mewah itu. Hanya ada suara sesenggukkan dari sisa tangisan mang Dolak. Pendingin ruangan itu tidak mampu menghalau rasa panas pada tubuh mang Dolak. Tubuhnya penuh dengan peluh. Baju satpamnya tampak sudah basah, apalagi mukanya sudah penuh dengan air mata penasaran, karena sampai detik itu sang bos membiarkannya memohon tanpa memberikan jawaban yang diminta mang Dolak.

“Kamu sih yang salah!”

Ucapan sang bos begitu mengejutkan mang Dolak. Bagai disambar petir mang Dolak merasa tersengat dengan ucapan yang mengarah kepada tuduhan itu.

“Maksud Bapak apa?”

Kembali mang Dolak meminta kepastian dari sang bos.

“Coba kamu tidak buka suara, pasti kamu selamat!”

Ucapan bosnya kembali membuat Dolak penasaran, sebenarnya kesalahan apa yang pernah ia lakukan, sehingga kejadian tersebut menimpa dirinya.

“Jelaskanlah pak, biar saya tahu salah kesalahan saya!”

Pertanyaan sekaligus permohonan kembali dilontarkan mang Dolak. 

Sang bos menghela napas panjang, kemudian ia mengambil botol air mineral di mejanya dan meminumnya beberapa teguk. Mang Dolak masih tidak sabar menunggu penjelasan dari sang bos.

“Kamu sudah memeriksa pesan di telepon genggammu?”

Mang Dolak kembali tersentak. Ia teringat dengan barang jadul miliknya itu. Tangannya meraba-raba dengan tergesa-gesa, bahkan hampir saja telepon genggamnya terjatuh ke lantai. Setelah ia menguasai telepon genggamnya, ia membuka menu pesan masuk, tetapi mang Dolak lupa kalau tadi barang kesayangannya itu tidak memiliki pulsa sedikitpun, sehingga tidak ada jawaban yang ia dapatkan.

Mang Dolak bergegas keluar dari ruangan itu dengan membawa telepon genggamnya, meninggalkan sang bos yang tampak masih acuh.

 

***

 

“Kenapa Bapak tega mengirimkan SMS seperti ini?”

Mang Dolak bertanya dengan pertanyaan berbeda setelah kembali ke ruangan bosnya. Ia baru mendapatkan informasi setelah ia mengisi pulsa telepon genggamnya.

Sebuah SMS yang membuat mang Dolak bagai disayat sembilu, sebuah pesan yang dikirim oleh orang yang selama ini baik kepadanya, terttera jelas nama bosnya sebagai pengirim pesan tersebut.

“Bukan saya yang mengirim pesan itu!”

Jawaban yang membuat mang Dolak bertambah bingung. Mengapa bosnya tidak mau mengaku, padahal jelas-jelas tertera di telepon genggamnya tulisan “Pak Bos” nama bosnya yang disimpanya di memori telepon genggamnya.

“Tapi, ini nomor Bapak!”

Mang Dolak kembali meminta kepastian sambil menyodorkan layar telepon genggamnya ke hadapan sang bos.

“Betul itu nomor saya”

Mang Dolak kembali merasa aneh, karena sang bos mengakui kalau itu nomor simcard iphone nya, tetapi di sisi lain ia tidak mengaku kalau menjadi pengirim pesan. Atau mungkin telepon pintar sang bos sudah disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Atau itu hanya alasan sang bos saja untuk berkelit.

“Tapi, bukan saya yang mengirim pesan itu”

Kembali sang bos membuat mang Dolak bertambah bingung.

“Jadi siapa yang mengirim pesan ini, bos?”

“Saya yang mengirim pesan itu”

Belum hilang rasa bingung mang Dolak, tiba-tiba seorang wanita cantik masuk ke ruangan tempat mereka bersitegang. Wanita itu berpakaian sangat rapi, dress yang dipakai sangat modern serta wewangiannya sangat mencolok. Dengan kacamata hitam tipis dan tas sandang yang juga mewah ia berjalan mendekati mang Dolak dan sang bos. Sang bos tampak seperti tikus yang tercebur di air mengkerut tanpa bisa berkata apa-apa. Wibawanya sebagai bos mendadak hilang. 

“Ya..saya yang mengirim pesan itu!”

Wanita itu kembali mempertegas bahwa ia pelakunya, setelah ia mendekati meja sang bos. Mang Dolak dan sang bos tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata yang selama ini mengirimkan SMS meresahkan itu adalah istri sang bos.

 

***

 

Sore ini mang Dolak hanya bisa bersandar di dinding kontrakannya. Penyesalan kini menyelimutinya. Kenapa dulu ia tidak berterus terang saja kepada istri bosnya. Karena ia tidak berterus terang itulah ia dianggap sekongkol dengan sang bos. Kejadian yang akan selalu dikenang mang Dolak. Kejadian yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Kejadian yang mungkin saja akan menghancurkan kisah hidupnya. Kejadian yang akan membuat sejarah baginya.

Kejadian itu tatkala ia mengantar sang bos menemui seorang cewek yang ternyata selingkuhan bosnya. Apesnya ternyata istri bosnya yang datang ke kantor waktu itu berhasil merekam pertemuan itu dan celakanya mang Dolak juga ada dalam rekaman itu. Sehingga suatu hari istri bos meminta konfirmasi dengan mang Dolak, tetapi mang Dolak berdusta. Memang saat itu istri bosnya pura-pura percaya dengan cerita mang Dolak. Tapi ternyata diam-diam istri bosnya meminjam iphone suaminya untuk mengirim SMS pemecatan kepada mang Dolak. Celakanya lagi mang Dolak mengetahui isi SMS itu ketika semua orang heboh. Dan ia juga barus sadar bahwa isi SMS itu merupakan jawaban dari karyawan yang dianggap mang Dolak mengajukan pertanyaan aneh tempo hari.

Kalau waktu bisa diputar mungkin mang Dolak akan berkata jujur ketika diinterogasi istri bosnya, tapi ia berpikir semua sudah terjadi. Mang Dolak kembali menggenggam telepon genggamnya. Dibukanya kembali menu massage, terlihat pesan yang membuat ia sekarang menjadi pengangguran.

“HAY DOLAK, MULAI BESOK KAMU TIDAK USAH BEKERJA LAGI. KAMU DIPECAAAAT!!!

Sebuah tulisan dengan huruf kapital yang menggambarkan kemarahan luar biasa dari sang pengirim. Sebenarnya yang masih menjadi pertanyaan mang Dolak, kenapa ia harus dipecat melalui pesan SMS. Kenapa tidak dipanggil langsung. Kenapa ketika ia sedang melaksanakan tugas. Kenapa melalui telepon genggamnya.

 

***


Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat