Sejumlah pasukan TNI yang tergabung dalam Satgas Tinombala berjalan disekitar perkampungan warga yang menjadi lokasi penyerangan yang diduga dilakukan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, di Dusun Lewonu, Desa Lembantongoa | ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
02 Dec 2020, 03:05 WIB

Pasukan Pendahulu Tiba di Poso

Pasukan khusus untuk membur kelompok teroris MIT diberangkatkan ke Poso.

JAKARTA -- Pasukan khusus untuk memburu kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) telah diberangkatkan ke Poso, Sulawesi Tengah. Satu peleton yang diberangkatkan tersebut berasal dari Kostrad TNI AD dan Marinir TNI AL.

Pemberangkatan dilakukan kemarin pagi dengan pesawat milik TNI Angkatan Udara (AU) melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. "Pemberangkatannya tadi," ujar Kabidpenum Pusat Penerangan TNI, Letkol Sus Aidil, Selasa (1/12).

Dari Jakarta, pasukan tersebut kemudian mendarat di Palu, Sulawesi Selatan, sekitar lima jam perjalanan darat dari Poso. Jumlah pasukan pendahulu tersebut sebanyak satu peleton atau berkisar 30 sampai 50 orang.

"Hari ini ada informasi tambahan dari TNI AD dan Marinir Angkatan Laut, sebanyak 30 orang baru tiba digeser dari Poso. Tentunya kami juga akan menunggu update informasi tambahan dari Jakarta," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (1/12).

Terkait

Kemudian di Sigi, lanjut Awi, pasukan dari Satgas Tinombala, Densus 88 Antiteror Polri, Satbrimob Polda Sulawesi Tengah yang dibantu oleh TNI sudah bersiaga. Namun, Awi mengakui masih ada kesulitan terkait medan yang menjadi persembunyian kelompok teroris MIT.

"Rentang wilayahnya memang mereka selama ini dari Poso, kemudian Parigi Moutong, kemudian Sigi di pegunungan di atas 2.500 mdpl (meter di atas permukaan laut). Jadi, sama-sama harus bersabar karena tim masih melakukan pengejaran," tutur Awi.

Komandan Korem 132/Tadulako, Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf, memerinci, pasukan dari Jakarta kemarin adalah tim pendahulu. “Nanti tim intinya juga akan datang berikutnya, waktunya sedang diatur," katanya di Palu, Selasa.

Pasukan tersebut, menurut Farid, terdiri atas anggota kostrad dan marinir yang mempunyai keahlian intelijen dan tempur. “Jadi sinergitas TNI dan Polri selama ini yang terbangun dalam Satgas Tinombala, akan mendapatkan kekuatan yang lebih besar dengan kedatangan pasukan khusus ini," katanya.

Danrem meyakini, kedatangan pasukan khusus ini bakal sangat berperan menemukan titik persembunyian dan pengejaran terhadap kelompok MIT yang dipimpin Ali Kalora tersebut. "Mereka berada di suatu wilayah bila terjadi kontingensi, mereka akan bergerak dan pasukan khusus ini bertugas sampai kelompok MIT itu bisa dilumpuhkan sampai tuntas," ujar dia.

Ia menuturkan, keberadaan kelompok itu dicurigai masih di wilayah Kabupaten Sigi. “Tetapi, tidak menutup kemungkinan mereka telah bergerak ke wilayah lain dan kita sedang melaksanakan pencarian," ujarnya.

Pemberangkatan pasukan itu terkait penyerangan di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Jumat (27/11). Dalam kejadian itu, enam rumah warga dan satu rumah tempat ibadah pelayanan umat dibakar serta empat orang korban tewas dibunuh, yakni Yasa, Pinu, Naka, dan Pedi. Istri salah seorang korban memberi kesaksian bahwa salah satu pelaku terlihat mirip dengan anggota MIT, yang selama ini dicari aparat keamanan.

photo
Terorisme di Sulteng - (Republika)

Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis sebelumnya meminta aparat keamanan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menindak tegas pelaku. “Saya sudah bilang ke anggota, tindak tegas mereka. Jika ketemu lalu mereka melawan, tembak mati saja,” kata Idham Azis dalam keterangannya, Senin (30/11). Idham Azis menegaskan, negara tidak boleh kalah dengan kelompok teror yang sudah melakukan tindakan pembunuhan terhadap masyarakat apa pun dalihnya.

Presiden Joko Widodo juga telah mengutuk keras tindakan pelaku penyerangan, yang menurutnya melampaui batas kemanusiaan itu. "Sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada tempat di Tanah Air kita ini bagi terorisme," ujar Presiden.

Ketakutan masyarakat

Sementara itu, pascaserangan, kebanyakan masyarakat di Desa Lembantongoa, masih takut beraktivitas di kebun. Penghuni Desa Lembantongoa hampir seluruhnya berprofesi sebagai petani. Mereka menanam berbagai komoditas, seperti padi sawah, padi ladang, jagung, kedelai, tomat, cabai, pisang, ubi-ubian, kopi, cengkih, dan kakao.

"Kami tidak berani pergi ke kebun meski jaraknya tidak jauh dari rumah. Sebab, sangat khawatir dengan keamanan dan keselamatan jiwa kami," kata Huber SP, salah seorang pengurus kelompok tani di Desa Lembantongoa, Selasa.

Ia mengatakan, peristiwa berdarah itu membuat warga transmigran ataupun tempatan di Desa Lembantongoa memilih untuk sementara tinggal di rumah.

photo
Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Abdul Rakhman Baso (kanan) mengunjungi dan memberikan bantuan kepada warga korban serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11).  - (ANTARA FOTO/Humas Polres Sigi)

Padahal, menurut Huber, untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari mereka selama ini adalah dari hasil pertanian dan perkebunan. “Tapi mau bagaimana lagi, lebih baik kami tidak ke kebun, daripada jiwa kami terancam dari serangan teroris,'' katanya.

Jefri, salah seorang warga Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, menuturkan bahwa sudah banyak aparat yang datang ke Desa Lembantongoa. Meski begitu, masyarakat umumnya masih trauma berat dengan kejadian pekan lalu. Ia mendoakan agar aparat TNI/Polri segera menumpas habis para kelompok teroris. Dengan begitu, ia dan masyarakat bisa beraktivitas dengan aman untuk mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga.

Evaluasi Satgas Tinombala

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) meminta pemerintah dan DPR memanggil TNI-Polri untuk melakukan audit dan evaluasi terbuka dari pelaksanaan Operasi Tinombala. Itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam pemberantasan terorisme.

"Cara-cara penanganan terorisme yang kontroversial, tidak transparan, dan tidak memperhatikan parameter HAM dan aturan hukum yang ada justru akan memicu, menyuburkan, atau membuat rantai ekspresi atau tindakan terorisme lainnya," kata Koordinator Kontras, Fatia Maulidiyanti, dalam keterangan pers, Selasa (1/12).

photo
Sejumlah prajurit TNI AD melakukan penyisiran untuk memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), di Desa Lembangtongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selassa (1/12). Penyisiran itu dilakukan pascaterbunuhnya empat warga di desa tersebut pada Jumat (27/11/2020) lalu yang diduga dilakukan oleh kelompok MIT Poso pimpinan Ali Kalora - (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Operasi Tinombala sejauh ini sudah berjalan lima tahun sejak 2016, dengan melibatkan sedikitnya 3.000 personel TNI-Polri. Operasi tersebut merupakan kelanjutan Operasi Camar Maleo yang dimulai awal 2015. 

Anggota Satgas Tinombala berhasil menewaskan Santoso, pimpinan Mujahiddin Indonesia Timur di Poso pada 2016. Meski begitu, ternyata anggota-anggota MIT masih beroperasi di bawah pimpinan Ali Kalora.

Fatia mengatakan, pihaknya memahami dilema dan tantangan yang dihadapi penegak hukum dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk memerangi terorisme. Karena itu, Kontras mengingatkan kepada aparat penegak hukum untuk memastikan langkah-langkah yang menyeluruh dan bermartabat dalam menyikapi masalah ini.

Dia mengatakan, peristiwa yang terjadi di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Sulawsi Tengah, juga harus menjadi titik evaluasi terhadap sistem deteksi dini kerja-kerja intelijen. Perbaikan sistem deteksi dini dengan mengedepankan unsur-unsur akuntabilitas merupakan kunci bagi aparat, untuk menggunakan sumber informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan pencegahan tindak pidana terorisme.

photo
Sejumlah anggota TNI bersiap untuk melakukan penyisiran kolompok sipil bersenjata Santoso di Watutau, Lore Peore, Poso, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. - (ANTARA FOTO)

Dalam kejadian di Lembantongoa, enam rumah warga dan satu rumah tempat ibadah pelayanan umat dibakar serta empat orang korban tewas dibunuh, yakni Yasa, Pinu, Naka, dan Pedi. Istri salah seorang korban pembunuhan tersebut memberi kesaksian, salah satu pelaku terlihat mirip dengan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang selama ini dicari aparat keamanan.

Kriminal

Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Malang, Yana Syafrie HI menilai, telah terjadi pergeseran perilaku teror kelompok tersebut. "Setelah ditinggal Santoso dan Basri, tampaknya kelompok ini lebih mengarah menjadi gerombolan kriminal ketimbang kelompok teroris," ujarnya kepada Republika, Selasa (1/12).

Menurut Yana, kelompok Ali Kalora yang diperkirakan tinggal berjumlah 11-13 orang ini didukung wilayah pegunungan dan hutan di wilayah Poso hingga Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Medan seperti itu membuat upaya penangkapan kelompok terhambat. 

Meski begitu, ia juga memertanyakan kinerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di bawah kepemimpinan Boy Rafli Amar, yang menjanjikan pemberantasan kelompok Santoso. Selepas kepemimpinan baru itu, pada awal Agustus 2020, Ali Kalora dan kelompoknya melakukan penyanderaan terhadap dua orang petani. Mereka merampok rombongan pegawai Pemda Poso di jalan Trans-Sulawesi.

photo
Petugas menunjukkan gambar dua orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO) teroris Poso yang menyerahkan diri di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (20/3). - (ANTARAFOTO)

"Mungkin keberadaan Ali Kalora sempat diremehkan karena dibandingkan Santoso yang memiliki kemampuan tempur dan perekrutan anggota, kapasitas Ali Kalora diragukan bisa membuat kelompok teror ini bertahan, apalagi di tengah kepungan intensif Operasi Tinombala," ujar Yana.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menggambarkan, kondisi di wilayah operasi MIT tersebut merupakan daerah pegunungan, dengan kondisi hutan yang sangat lebat. Masyarakat di sekitar tinggal berjauhan sehingga sulit untuk menjaga keamanan warga setempat. 

Sementara itu, pasukan TNI dan Polri masing-masing juga memiliki keterbatasan kemampuan untuk menghadapi medan operasi yang sangat sulit tersebut. “Maka sesungguhnya, kolaborasi TNI dan kepolisian yang lebih baik lagi itu diperlukan,” kata Moeldoko dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (1/12).

Kelompok yang tengah diburu oleh TNI dan Polri juga berjumlah kecil dan dapat membaur dengan masyarakat. Para pelaku juga lebih memahami daerah operasi mereka sehingga menjadi salah satu hambatan bagi pasukan yang diterjunkan. “Tapi panglima sudah menyiapkan pasukan khusus untuk menghadapi itu,” ujar dia.

Sumber : Antara


×