ILUSTRASI Peta Mediterania Timur pada abad ketujuh. Di masa Khalifah Utsman bin Affan, Muslimin mulai memiliki angkatan laut. Walaupun baru terbentuk, armada itu berhasil mengalahkan kapal-kapal perang milik Romawi Timur dalam Pertempuran Sawari. | DOK WORLD DIGITAL LIBRARY
29 Nov 2020, 05:30 WIB

Jihad Maritim Perdana

Inilah pertama kalinya Muslimin menghadapi pertempuran di lautan lepas.

 

OLEH HASANUL RIZQA

 

Ummu Haram merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan perempuan. Wanita kelahiran Madinah itu termasuk yang kerap meriwayatkan hadis-hadis, terutama dari keponakannya, Anas bin Malik. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan penuturan Anas sebagai berikut.

Suatu hari, Rasulullah SAW mengunjungi rumah keluarga Ummu Haram dan suaminya, Ubadah bin Shamit. Beliau sering bertamu ke rumah tersebut sehingga menandakan keluarga Ummu Haram termasuk yang dimuliakan. Sebelum menikah dengan Ubadah, Ummu Haram pernah menikah dan memiliki seorang putra. Namun, suami dan anaknya itu gugur saat mengikuti Perang Badar.

Dengan sukacita, Ummu Haram dan Ibnu Shamit menyambut kedatangan Nabi SAW. Mereka pun makan bersama. Setelah itu, Rasulullah SAW menyenderkan kepalanya pada dinding dan tertidur. Beberapa saat kemudian, beliau tiba-tiba terbangun dan tertawa.

Ummu Haram pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?”

Nabi SAW lantas menuturkan, dirinya bermimpi melihat sekelompok umatnya mengarungi lautan. Dalam mimpi itu, mereka tampak bagaikan para raja di atas singgasana.

 
Nabi SAW bermimpi melihat sekelompok umatnya mengarungi lautan.
 
 

 

Mendengar itu, Ummu Haram memohon kepada Rasulullah SAW untuk mendoakannya supaya dirinya termasuk dalam kelompok tersebut. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya engkau akan ada di antara mereka.”

Nubuat Rasulullah SAW itu menjadi kenyataan pada 649 M atau 28 H. Ummu Haram dan Ibnu Shamit turut serta dalam ekspedisi militer yang diinisiasi Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Inilah misi jihad fii sabilillah pertama yang dilakukan umat Islam di lautan. Gubernur Suriah tersebut hendak merebut Pulau Siprus dari tangan Romawi Timur (Bizantium). Bila misi tersebut berhasil, Kekhalifahan Islam diyakini akan semakin aman dari gangguan imperium tersebut.

Sesungguhnya, Mu’awiyah sejak tahun-tahun sebelumnya sudah menganjurkan amirul mu'minin agar membangun sebuah angkatan laut untuk mengimbangi Bizantium. Namun, Umar bin Khattab, sang khalifah yang mengangkatnya sebagai gubernur di Suriah, menolak keras usulan tersebut. Menurut al-Faruq, bangsa Arab belum cukup tangguh untuk bertempur di lautan.

photo
Armada laut bagian dari Perang Arab-Bizantium - (DOK Wikipedia)

Masa berganti, Utsman bin Affan pun naik menggantikan Umar. Sahabat Nabi SAW yang bergelar “Pemilik Dua Cahaya” itu ternyata merestui masukan Mu’awiyah. Hal itu dengan syarat, tidak ada kewajiban bagi Muslimin untuk mendaftar di angkatan laut. Sifatnya hanya sukarela. Namun, ajakan untuk berjihad di lautan justru disambut gegap gempita oleh umat Islam, termasuk Ummu Haram dan suaminya.

Muhammad Husain Haekal dalam buku biografi Usman bin Affan (2002) menguraikan jalannya penaklukan Siprus. Pertama-tama, misi yang dipimpin sendiri oleh Mu’awiyah. Ikut dalam rombongannya, antara lain, ialah istrinya sendiri Fakhitah binti Qarazah dan beberapa sahabat Nabi SAW yang sudah tinggal di Suriah dan berasal dari Hijaz. Ummu Haram dan Ibnu Shamit termasuk di antaranya.

Begitu sampai di pantai timur Siprus, Muslimin tidak menjumpai perlawanan dari pejabat yang berkuasa di sana maupun penduduk lokal. Karena itu, kedua belah pihak membuat kesepakatan damai.

Belakangan, Mu’awiyah mengetahui bahwa mereka pun mengadakan perjanjian dengan Bizantium. Dan, pada akhirnya pihak Siprus mengkhianati persetujuan yang dibuat dengan Muslimin.

Dalam perjalanan pulang, unta yang ditunggangi Ummu Haram meronta-ronta. Perempuan mulia itu terjatuh dan akhirnya meninggal dunia. Terbuktilah apa yang telah diramalkan Rasulullah SAW.

Jenazah sang syuhada dikebumikan di tempatnya mengalami kecelakaan. Lokasinya tak jauh dari Kota Larnaca, Siprus. Sewaktu Turki Utsmaniyah berhasil menguasai pulau tersebut, makam Ummu Haram diperbaiki dan sebuah masjid dibangun di sebelahnya. Kompleks tersebut dikenal sebagai Hala Sultan Tekke.

photo
Peta Mediterania Timur pada abad ketujuh. Di masa Khalifah Utsman bin Affan, Muslimin mulai memiliki angkatan laut. Walaupun baru terbentuk, armada itu berhasil mengalahkan kapal-kapal perang milik Romawi Timur dalam Pertempuran Sawari. - (DOK WORLD DIGITAL LIBRARY)

Pertempuran pertama

Para pemuka Siprus mengingkari janjinya terhadap Muslimin. Mereka rupanya merasa percaya diri akan dukungan dari Bizantium. Mengetahui kabar itu, Mu’awiyah segera mempersiapkan armada tempurnya dari pelabuhan-pelabuhan Tripoli, Beirut, Tyre, Akka, dan Jaffa.

Bahkan, gubernur Mesir Abdullah bin Sa’ad juga mengirimkan kapal-kapal pendukung dari Iskandariah. Hal itu semakin membuktikan, umat Islam tidak gentar menghadapi musuh meskipun di lautan lepas.

Ya, inilah pertama kalinya Muslimin mengikuti pertempuran bukan di daratan. Dalam misi tersebut, sosok yang kelak mendirikan Dinasti Umayyah itu didampingi dua orang laksamana, Abdullah bin Qais al-Harisi dan Abdullah bin Sa’ad. Sejarawan dari abad kesembilan, at-Tabari, mendeskripsikan Abdullah bin Qais sebagai komandan yang cukup mahir menghadapi musuh di laut.

Seumur hidupnya, ia sudah memimpin 50 serangan di laut antara musim dingin dan musim panas tanpa sebuah kapal pun dari pihaknya yang tenggelam atau rusak.

Sebelum berlayar, Ibnu Qais berdoa, “Ya Allah, berilah keselamatan untuk pasukanku. Jangan ada di antara mereka yang mendapatkan musibah.” Kelak, doanya itu terkabul, tetapi dirinya tak lepas dari bahaya.

Sesudah berhasil meredam kapal-kapal musuh, ia mengumpulkan beberapa pasukannya. Dengan perahu perintis, mereka kemudian bergerak ke Erzerum.

Begitu tiba di sana, Ibnu Qais menjumpai banyak pengemis. Ia pun bersedekah kepada beberapa orang setempat. Salah seorang perempuan dari kelompok pengemis itu pulang ke desanya dan mengabarkan tentang sosok yang telah dilihatnya.

“Benarkah kalian mencari-cari Abdullah bin Qais?”

“Ya! Dia musuh kita. Di mana dia sekarang?” kata sebagian mereka bertanya balik.

“Dia mungkin sudah bersembunyi, tetapi tadi dia memberi ke para pengemis di Erzerum,” jawabnya,

Orang-orang itu lalu bergegas ke tempat yang ditunjuk perempuan itu. Terjadilah kontak senjata. Sebagian besar pasukan Muslimin dapat lolos, tetapi Ibnu Qais tidak. Laksamana yang tak terkalahkan di lautan itu akhirnya gugur karena kelalaian rekan-rekannya yang tak mampu mengalahkan para musuh.

 
Laksamana yang tak terkalahkan di lautan itu akhirnya gugur karena kelalaian rekan-rekannya yang tak mampu mengalahkan para musuh.
 
 

 

Abdullah bin Sa’ad lalu menggantikan Abdullah bin Qais sebagai komandan. Gubernur Mesir itu dan pasukannya kembali berupaya mengepung Siprus. Belum sampai ke tujuan, mereka mengetahui kabar bahwa pasukan Bizantium telah berangkat dari pantai Anatolia. Putra Heraklius, Konstantin, memimpin balatentaranya dengan 600 kapal. Adapun armada Muslimin berjumlah sepertiganya atau 200 kapal.

Kapal-kapal Bizantium berlabuh cukup jauh dari Iskandariah. Ketika matahari hampir terbenam, kedua armada mulai tampak berhadapan. Namun, sepanjang malam masing-masing pihak menahan diri. Orang-orang Bizantium membunyikan loncengnya, sedangkan pasukan Muslimin melaksanakan shalat dan membaca Alquran.

Keesokan paginya, Abdullah bin Sa’ad menyusun armadanya untuk menyongsong serbuan kapal-kapal Bizantium. Angin bertiup kencang dari arah daratan sehingga membuat armada Muslimin harus ekstra hati-hati. Berbeda halnya dengan armada Bizantium yang merasa tidak perlu khawatir karena kuatnya kapal-kapal mereka.

Sesudah angin mereda, Abdullah mengirimkan utusan kepada Konstantin. Delegasi itu menyampaikan pesan dari sang komandan Muslim, “Kalau kalian setuju, mari kita turun ke darat agar pertempuran dapat lebih dipercepat.”

photo
Api Yunani, pertama kali digunakan oleh Angkatan Laut Bizantium selama Perang Arab-Bizantium. - (DOK Wikipedia)

Namun, pihak Bizantium menolak tawaran tersebut. Sebab, mereka sudah merasakan sendiri bagaimana tangguhnya pasukan Islam di daratan.

Karenanya, balasan untuk Abdullah ialah, “Sekali laut, tetap laut.” Toh pemimpin Muslim itu tidak pula ragu-ragu. Ia yakin, atas izin Allah SWT, armadanya akan memenangkan pertempuran ini. Semangat jihad begitu membara dalam dirinya dan Muslimin seluruhnya.

Kini, kapal-kapal para pejuang Islam mulai bergerak maju. Begitu pula dengan armada musuh. Seketika, berkobarlah pertempuran yang sengit. Kedua pasukan sudah bercampur baur. Tiap orang melompat ke kapal lawannya untuk menghancurkan pihak musuh. Satu sama lain sudah tidak lagi mengenal belas kasihan.

Sementara itu, gelombang laut menggeser kapal-kapal kedua armada tersebut ke arah pantai. Mayat-mayat pun terempas ke atas pasir atau digulung luapan air. Baik pasukan Muslimin maupun Bizantium berperang dengan mati-matian. Begitu banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Konstantin sendiri mengalami luka-luka yang cukup parah sehingga dirinya tak berdaya lagi.

Kesombongannya berganti dengan rasa cemas, takut mati. Tak pernah disangkanya bahwa peperangan Romawi dengan bangsa Arab di lautan akan berakhir dengan kekalahan.

Sejarah mengenang peristiwa tersebut sebagai Perang Sawari. Istilah sawari berarti ‘tiang kapal'. Haekal mengatakan, nama tersebut mungkin terinspirasi dari kesiapan Muslimin yang hendak bertempur.

Mereka mengikat tiang kapal-kapal dengan kuat. Ada pula yang menganggap, lokasi peperangan yang pecah pada tahun 31 H itu berdekatan dengan suatu tempat yang disebut Dzat Sawari.

photo
Peta Pulau Siprus yang dibuat kartografer Utsmaniyah, Piri Reis. Siprus menjadi medan pertempuran armada Islam dan Bizantium. Seperti yang telah dinubuatkan Rasulullah SAW, pasukan Muslimin akan berjaya di lautan. - (DOK WIKIPEDIA)

Sesudah Perang Tiang Kapal

Alih-alih merebut kembali Iskandariah, Romawi Timur (Bizantium) menderita kekalahan yang memalukan dalam Perang Sawari. Meskipun memiliki jumlah kapal yang lebih banyak, armada Bizantium tak kuasa menahan kekuatan Muslimin yang dipimpin sang gubernur Mesir, Abdullah bin Sa’ad.

Putra Heraklius, Konstantin, bahkan terpaksa memerintahkan pasukannya untuk mundur ke arah barat laut, menuju Pulau Sisilia. Sang laksamana Bizantium pun mengalami luka-luka yang cukup parah, hingga nyaris tak sadarkan diri.

Melihat musuh tunggang langgang, Abdullah tidak lantas memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka. Biarlah kapal-kapal itu menghilang dari pandangan mata. Ia yakin, mulai saat ini armada laut Islam tidak kurang tangguhnya dari kekuatan tempur di daratan. Kini, musuh tidak lagi meremehkan gelora jihad Muslimin di lautan!

Abdullah menginstruksikan armadanya agar tetap berada di lokasi pertempuran. Selama beberapa hari, mereka bertahan. Ia kemudian memberi kesempatan bagi anak buahnya untuk beristirahat. Setelah itu, barulah para pejuang kembali ke pelabuhan Iskandariah.

Bukannya disambut dengan suka cita, kepulangan Abdullah justru dipandang kontroversial. Sebagian kalangan, terutama para pengkritik pemerintahan Utsman bin Affan, memprotes keputusan sang laksamana Muslim. Mengapa Konstantin dan pasukannya dibiarkan kabur? Bukankah seharusnya mereka diburu dan dihabisi sama sekali?

Berulang kali Abdullah menerangkan kepada mereka bahwa tak ada gunanya menumpas Konstantin. Sebab, armada Muslimin toh sudah meraih kemenangan gemilang. Bukannya mereda, para pengkritik justru kini mengecam keras Khalifah Utsman.

Peristiwa masa silam pun diungkit-ungkit kembali. Dahulu, pada periode Pembebasan Makkah (Fathu Makkah) nama Abdullah bin Sa’ad sebenarnya masuk dalam daftar yang pantas dihukum mati. Namun, Ustman kemudian memintakan perlindungan kepada Nabi SAW untuk Ibnu Sa’ad. Akhirnya, eksekusi yang sedianya dijatuhkan kepadanya urung dilakukan.

Bagi Abdullah, perkataan para anti-Utsman begitu keras. Ia sampai-sampai sempat menolak duduk bersama dengan beberapa tokoh dari kalangan tersebut, seumpama Muhammad bin Huzaifah atau Muhammad bin Abu Bakar.

Sementara itu, Konstantin dan armadanya yang babak-belur akhirnya tiba di Pulau Sisilia. Masyarakat setempat kemudian menyadari alasan kedatangan mereka. Bukannya menolong, penduduk lokal justru mengecam Konstantin.

Laksamana ini dianggap telah mempermalukan umat Nasrani di mata orang-orang Arab. Ada pula yang khawatir bila armada Muslimin memburunya hingga ke pulau ini.

Pada suatu malam, beberapa orang mengggiringnya ke sebuah kamar untuk dibunuh. Setelah Konstantin mati, awak kapalnya yang tersisa dibiarkan pulang ke Konstantinopel.


Terkini

×