Peta Semenanjung Arab pada masa pra-nasionalisme. Sejak berabad-abad silam, bangsa Arab pesisir sudah mengarungi lautan lepas dan bahkan menjadi pemain utama dalam perdagangan maritim internasional. | DOK WORLD DIGITAL LIBRARY
29 Nov 2020, 05:00 WIB

Arab, Islam, dan Lautan

Islam mengubah persepsi orang-orang Lembah Hijaz tentang lautan.

OLEH HASANUL RIZQA

Perang Sawari pada masa Khalifah Utsman bin Affan menjadi tonggak penting. Inilah kali pertama Muslimin memiliki angkatan laut. Romawi Timur tak pernah menyangka kekuatan maritim Islam begitu tangguhnya.

Masyarakat pesisir Jazirah Arab turut meramaikan jalur maritim perdagangan internasional sejak berabad-abad silam. Peter Boxhall dalam “Arabian Seafarers in the Indian Ocean” (2007) menukil kesaksian Agatharchides, seorang ahli sejarah Yunani Kuno yang hidup pada abad kedua sebelum Masehi (SM).

Menurutnya, penduduk Arab Selatan begitu dominan di pantai Laut Eritrea. Kawasan bahari yang mencakup Laut Merah, Teluk Aden, dan Teluk Persia itu memiliki banyak pelabuhan tempat transaksi berbagai komoditas ekspor, seperti rempah-rempah, emas, perak, dan sutra.

Terkait

Pada masa sesudahnya, para pelaut Arab terus berjaya. Dalam manuskrip Periplus dari Laut Erythraean, yang ditulis kira-kira pada abad pertama, disebutkan bahwa kaum saudagar Arab Selatan memonopoli perniagaan di rute maritim antara Yunani dan Mesir. Mereka menjadikan Eudaemon (Aden) dan Pulau Sokrota sebagai pelabuhan utama bagi kapal-kapal dagang dari India dan Afrika Timur.

Berbeda dengan penduduk Arab Selatan, penghuni Lembah Hijaz cenderung tidak mengakrabi lautan. Sebagai contoh, masyarakat kota tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, Makkah al-Mukarramah. Mereka lebih suka berdagang melalui jalur darat. Alquran surah Quraisy mengabadikan tradisi tersebut: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”

Para ahli tafsir, baik dari kalangan klasik maupun kontemporer, sepakat bahwa perjalanan dagang pada musim dingin yang dimaksud ayat tersebut dilakukan ke arah utara. Tujuannya adalah berbagai negeri, seperti Suriah, Turki, Yunani, dan sebagian Eropa Timur.

Memasuki musim panas, kabilah utama Kota Makkah itu berniaga ke arah selatan, yakni Yaman dan Oman. Di sana, mereka berinteraksi dengan para pedagang dari beragam bangsa yang singgah di bandar Aden.

Dalam Alquran, kata bahr (laut) tersebar dalam 32 ayat, sedangkan kata yang berarti 'daratan’ ada di 13 ayat. Bila dijumlahkan, semuanya menjadi 45 ayat. Bagian untuk 'laut' adalah 32/45 atau 71,11 persen. Sementara, 'daratan' sebesar 13/45 atau 28,22 persen. Perbandingan antara keduanya menunjukkan proporsi yang sebenarnya antara lautan dan daratan di bumi berdasarkan perhitungan sains modern.

Tidak mungkin Rasulullah SAW, seorang penduduk Makkah yang sepanjang hayatnya tidak pernah mengarungi lautan, mampu menciptakan sendiri ayat-ayat dengan komposisi seperti itu. Fakta matematis demikian menjadi salah satu tanda kebenaran Alquran sebagai wahyu Ilahi.

Begitu pula dengan macam-macam fenomena alam di lautan yang sudah disinggung Kitabullah, seperti batas antara dua lautan atau keberadaan sungai di bawah laut (QS ar-Rahman 18-20).

Boxhall mengatakan, umumnya bangsa Arab yang mendiami Lembah Hijaz kurang familiar terhadap laut. Di satu sisi, mereka andal dalam menjelajahi padang pasir. Kabilah-kabilah dagangnya masyhur di ujung utara dan selatan Jazirah Arabia. Akan tetapi, di sisi lain ketangguhannya tak tampak di lautan luas. Dunia maritim masih menjadi sesuatu yang asing bagi mereka.

Syiar Islam ternyata mendorong orang-orang Makkah, khususnya Muslimin, untuk tidak lagi memunggungi laut. Itu bermula sejak Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah secara terang-terangan.

Persekusi yang dilakukan elite Quraisy semakin keras. Kira-kira tiga tahun sesudah kenabiannya, Rasulullah SAW mengizinkan sebagian kaum Muslimin untuk berhijrah ke Habasyah (Etiopia). Untuk sampai ke sana, muhajirin tidak hanya menempuh perjalanan darat, melainkan juga menyeberangi Laut Merah.

Sejak berhijrah ke Yastrib (Madinah), Rasulullah SAW dan kaum Muslimin dapat mengonsolidasi kekuatan. Masa damai dengan musyrikin Makkah terjadi sejak penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah pada 629. Periode itu dimanfaatkan beliau untuk mengirimkan surat kepada sejumlah penguasa di Semenanjung Arab dan sekitarnya. Tujuannya untuk mengimbau mereka agar memeluk Islam.

Di antara para penerima surat tersebut ialah kepala-kepala suku di kawasan pesisir Arab, seperti Yaman, Oman, atau Bahrain. Masyarakat setempat semakin banyak yang memeluk Islam, khususnya sejak Pembebasan Makkah (Fathu Makkah). Mereka itulah yang kelak menjadi pendukung utama angkatan laut pertama dalam sejarah Islam.

Angkatan laut pertama

Nabi Muhammad SAW wafat pada 632. Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih sebagai khalifah pertama. Tugasnya menggantikan peran Rasulullah SAW dalam memimpin negara dan umat. Waktu itu, kekuasaan Islam mencakup nyaris seluruh Semenanjung Arabia.

Dalam masa pemerintahannya, Abu Bakar tidak hanya sukses meredam pemberontakan. Ia juga merintis perluasan wilayah sehingga membentengi teritori Islam dari ancaman dua adidaya kala itu, Romawi Timur (Bizantium) dan Iran (Persia).

Ia menunjuk Khalid bin Walid untuk memimpin penaklukan Irak. Adapun pembebasan Suriah ditangani tiga pimpinan, yakni Amr bin Ash, Yazid bin Abu Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah.

Sebelum wafat pada 634, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Pada era al-Faruq, ekspansi wilayah Islam berlangsung secara pesat. Empat tahun sejak dirinya menjabat khalifah, Yerusalem berhasil dibebaskan. Sang amirul mu'minin juga membuka jalan penaklukan atas Persia. Mesir pun jatuh ke tangan Muslimin sehingga membuat gentar penguasa Bizantium.

Khalifah Umar mengangkat Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai gubernur Suriah. Dalam menjalankan perannya, Mu’awiyah mampu membendung rongrongan pasukan Bizantium di daerah perbatasan kekhalifahan.

Namun, sosok berjulukan Abu Abdurrahman itu menyadari, ancaman terbesar justru datang dari lautan. Dan, pertahanan Muslimin di kawasan pesisir masih lemah, tidak sebanding dengan armada tempur Bizantium.

 
Mu'awiyah kemudian mengusulkan kepada Umar agar Kekhalifahan segera membangun angkatan laut.
 
 

Ia kemudian mengusulkan kepada Umar agar Kekhalifahan segera membangun angkatan laut. Dalam suratnya, ia berargumen bahwa Muslimin tidak bisa terus-menerus mengandalkan pergerakan pasukan di daratan. Orang-orang Arab memang piawai bertempur di darat. Bila unggul, mereka terus menyerang. Sebaliknya, mereka akan mundur teratur atau berpencar ke gurun bila musuh kian mendesak.

Namun, keinginan Mu’awiyah ditolak sang khalifah. Al-Faruq beralasan, orang-orang Arab tidak terbiasa bertempur di lautan. Dalam buku biografi karya Ali Muhammad as-Sallabi disebutkan jawaban Umar terkait usulan itu, “Demi Zat yang mengutus Nabi Muhammad SAW dengan kebenaran, tidak akan pernah kuizinkan seorang Muslim berperang di lautan. Demi Allah, seorang Muslim lebih kuinginkan (keselamatannya) daripada semua yang dimiliki Bizantium. Jadi, berhentilah dengan saranmu itu.”

Perkataan Umar menggambarkan kecenderungan umumnya masyarakat Lembah Hijaz. Tidak seperti penduduk pesisir Arab, menurut Boxhall, mereka menilai lautan sebagai "daerah asing". Mu’awiyah tak bisa berbuat banyak untuk meyakinkan pemimpinnya.

Pada November 644, Khalifah Umar ditusuk seorang budak Persia kala sedang memimpin shalat Subuh. Ia meninggal dunia beberapa hari kemudian. Utsman bin Affan lantas terpilih sebagai penggantinya.

Berbeda dengan Umar, sahabat Nabi SAW yang berjulukan “Pemilik Dua Cahaya” itu cenderung mempertimbangkan masukan Mu’awiyah. Bagaimanapun, sang khalifah tidak langsung menyetujuinya. Sebab, dengan mengizinkan berarti ia telah menyalahi kebijakan Umar dan merusak janjinya dahulu sewaktu dibaiat.

 
Pasukan Muslimin tidak sampai diwajibkan untuk mendaftar di angkatan laut, tetapi juga tidak akan dihalang-halangi bila berminat mengikutinya.
 
 

Maka, Utsman sekadar membolehkan Mu’awiyah untuk membangun serangan via jalur laut secara sukarela. Artinya, pasukan Muslimin tidak sampai diwajibkan untuk mendaftar di angkatan laut, tetapi juga tidak akan dihalang-halangi bila berminat mengikutinya.

Dengan kebijakannya itu, inisiatif sang gubernur Suriah pun mulai diwujudkan. Inilah armada yang pertama dalam sejarah Islam.

Siprus, misi pertama

Pembentukan angkatan laut Islam merupakan kabar buruk untuk Bizantium. Sebab, tidak ada celah bagi kekaisaran Kristen itu untuk merebut kembali Mesir kecuali dengan serangan laut. Di daratan, pasukan Muslimin terlalu sukar untuk dikalahkan. Terlebih lagi, tidak sedikit penduduk lokal yang justru memihak Islam.

Dengan keluarnya restu dari Madinah, Mu’awiyah pun memulai kampanye di seluruh Suriah. Ternyata, umat Islam menyambut antusias imbauannya untuk berjihad di lautan.

Jumlah simpatisan bahkan melampaui dari yang telah diperkirakan Utsman dan Mu’awiyah sendiri. Mereka tidak hanya datang dari Suriah atau Mesir, tetapi juga suku-suku bangsa Arab di pesisir Yaman, Oman, dan Bahrain.

Dalam waktu yang relatif singkat, armada Islam menjadi kekuatan yang disegani di Mediterania Timur. Markasnya tersebar di kota-kota pelabuhan penting, seperti Tripoli, Beirut, Tyre, Akka, dan Jaffa. Keunggulannya tidak hanya ditopang para prajurit yang siap mengorbankan nyawa di jalan Allah (fii sabilillah). Kekhalifahan juga didukung para ilmuwan yang berkontribusi khususnya dalam bidang astronomi, navigasi, persenjataan, dan teknik perkapalan.

 
Dalam waktu yang relatif singkat, armada Islam menjadi kekuatan yang disegani di Mediterania Timur.
 
 

Mu’awiyah pertama-tama mengincar Siprus yang hanya berjarak sekitar 250 km dari pantai Tripoli (Lebanon). Pulau tersebut merupakan salah satu pangkalan perang yang sangat strategis di Mediterania Timur sejak dahulu kala. Dengan merebutnya dari tangan kekuasaan Bizantium, menurut gubernur Suriah itu, Kekhalifahan Islam akan dapat membungkam armada musuh untuk jangka waktu yang lama.

Sejak awal tahun 648, sosok yang kelak mendirikan Dinasti Umayyah itu menyusun kekuatan angkatan laut Islam. Strategi juga disusunnya agar rencana pembebasan Siprus berlangsung dengan baik. Menurut Ryan J Lynch dalam “Cyprus and Its Legal and Historiographical Significance in Early Islamic History” (2016), ada dua sumber tentang misi tersebut.

Pertama, keterangan dari seorang sejarawan Muslim abad kesembilan, Ahmad bin Yahya al-Baladzuri, yang menyatakan bahwa Mu’awiyah sendiri yang memimpin armada Muslimin untuk mengepung Siprus. Sang gubernur diiringi panglima Ubadah bin ash-Shamit.

Istrinya, Katwa binti Qaraza, wafat dalam perjalanan di Siprus. Adapun sumber kedua menyebutkan, ekspedisi militer itu dipimpin laksamana Abdullah bin Qais atas instruksi Mu’awiyah. Pasukannya berhasil mendarat di Salamis, Siprus Timur.


×