Rasulullah SAW memberikan teladan tentang perbuatan baik bahkan terhadap musuh. Atas izin Allah SWT, akhlak mulia itu tak ayal mengubah lawan menjadi kawan. | DOK EPA Oliver Weiken
29 Nov 2020, 03:23 WIB

Akhlak tak Sekadar Jargon

Sebagai seorang penyampai wahyu, Rasulullah dikenal dengan kelembutan akhlak.

 

Kata akhlak kian populer belakangan ini. Sebelum Revolusi Akhlak yang digaung-gaungkan Habib Rizieq Shihab dan Front Pembela Islam (FPI) sebagai misi kepulangan dari Arab Saudi, Menteri BUMN Erick Thohir juga kerap menggunakan diksi tersebut.

Enggak ada akhlaknya disampaikan untuk menyentil masih banyak praktik pungutan liar dan korupsi oleh oknum pejabat di kementerian dan perusahaan pelat merah.

Akhlak merupakan salah satu bahasa yang digunakan dalam Alquran. Kata akhlak, menurut Prof Quraish Shihab dalam Kosa Kata Keagamaan, diambil dari bahasa Arab (akhlaq) yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq. Kata ini seakar dengan kata khalq atau ciptaan. Oleh karena itu, kata makhluq berarti 'yang diciptakan' atau 'dijadikan'.

Terkait

Oleh karena itu, Quraish mengungkapkan, khalq merujuk pada apa yang terjadi atau yang dijadikan ada yang berbentuk fisik sehingga dapat dilihat dengan mata kepala. Akhlak pun dipahami oleh banyak pakar sebagai kondisi kejiwaan yang menjadikan pemiliknya melakukan sesuatu yang mudah tanpa memaksakan diri bahkan melakukannya secara otomatis.

photo
Pesantren Ramadhan bertujuan untuk membentuk pribadi yang disiplin dalam beribadah dan memiliki akhlak karimah agar masa muda lebih bermakna - (Yasin Habibi/ Republika)

Ketika dilakukan sebagai sesuatu yang baik maka secara otomatis dia menyandang akhlak karimah (terpuji). Bisa juga sebaliknya ketika dia dinilai menyandang akhlak yang buruk.

Tidak mengherankan jika Rasulullah SAW mengajarkan doa yang berbunyi: "Allahumma hassin khuluqi kama hassanta khlaqi". Ya Allah, jadikanlah akhlakku indah sebagaimana Engkau telah memperindah jasadku.

Sungguh beruntung kaum Muslimin memiliki sosok panutan seperti Rasulullah SAW. Beliau adalah pemilik akhlak terbaik sepanjang zaman baik kepada kawan dan lawan.

 
Sungguh beruntung kaum Muslimin memiliki sosok panutan seperti Rasulullah SAW.
 
 

Tidak mengherankan jika di dalam Alquran Allah SWT menyuruh kita untuk meneladani Sang Nabi Penutup. "Sungguh di dalam Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi kalian. (Yaitu) bagi siapa yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir dan banyak menyebut Allah." (QS al-Ahzab: 21).

Ayat ini memerintahkan kita agar meneladani Rasulullah SAW. Segala yang beliau sampaikan sebagai nabi/rasul berasal dari Allah. Itulah wahyu yang kebenarannya pasti sehingga wajib diimani dan dilaksanakan. Wahyu yang disampaikan Rasulullah itu berupa pesan cinta dari Allah SWT.

Pelaksanaan wahyu disebut dengan akhlak. Sesuatu yang melekat pada diri seseorang sehingga telah menjadi kepribadian dan way of life (jalan hidup). Sejurus nilai yang diajarkan Alquran sudah terinternalisasi dalam dirinya dan telah menjadi akhlaknya. "Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berakhlak yang agung." (QS al-Qalam ayat 4).

Sebagai seorang penyampai wahyu, Rasulullah dikenal dengan kelembutan perangainya. Tidakkah cukup kisah tentang pengemis buta yang selalu menghina Rasulullah SAW di sudut Madinah. Bukannya balas mencaci, Rasulullah membalasnya dengan menyuapi pengemis tersebut tanpa mengenalkan siapa beliau. Perilaku yang amat tinggi untuk ditiru.

Tidak mengherankan jika Allah SWT menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW selalu berlemah lembut. "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS Ali Imran: 159).

Di sisi lain, Rasulullah pun dikenal sebagai sosok yang tegas. Dia memiliki perilaku yang adil, baik kepada lawan maupun kawan. Kepada putri kesayangannya pun, Fathimah RA, Rasulullah bahkan tak ragu akan menghukum jika Fathimah mencuri. Uniknya, perkataan Rasulullah disampaikan saat Usamah bin Zaid yang dikenal sebagai pemuda kesayangan Nabi SAW diminta untuk melindungi seorang perempuan terpandang di kalangan Quraisy.

 
Kepada putri kesayangannya pun, Fathimah RA, Rasulullah bahkan tak ragu akan menghukum jika Fathimah mencuri.
 
 

Permintaan Usamah lantas dijawab oleh Nabi SAW. "Sesungguhnya yang merusak/membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka dulu apabila orang mulia di antara mereka yang mencuri, maka mereka membiarkannya; tetapi kalau orang lemah di antara mereka yang mencuri maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya." (HR Bukhari).

Sejumlah pertanyaan patut kita sampaikan kepada bangsa ini baik kepada para pemimpin dan tokoh yang kerap mengibar- ngibarkan kata akhlak. Sudahkah akhlakul karimah kita lakukan di tengah kehidupan sehari-hari?

Sudahkah kita bicara dengan kelembutan, baik kepada lawan maupun kawan? Sudahkah kita tegas kepada semua perilaku korupsi yang rentan terjadi saat pandemi? Sudahkah kita bersikap adil saat menerapkan hukum atau justru memilih untuk tebang pilih?

 
Sudahkah kita tegas kepada semua perilaku korupsi yang rentan terjadi saat pandemi?
 
 

Wallahu a'lam. Hanya nurani yang bisa menjawab sendiri.

"Sungguh di dalam Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi kalian. (Yaitu) bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan banyak menyebut Allah." (QS Al Ahzab: 21).


×