Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham di Jakarta, Jumat (6/11). | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Tajuk

27 Nov 2020, 02:00 WIB

Tawaran Jokowi untuk Investor

Modal Indonesia untuk menarik investor sudah cukup besar, dengan berbagai potensi kelebihan yang dimiliki.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat dunia menanamkan investasi di Indonesia. Presiden menegaskan komitmen Indonesia untuk membangun ekonomi yang inklusif dan membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya, serta mampu beradaptasi dan siap menghadapi krisis.

Tawaran Presiden Jokowi tersebut disampaikan dalam pidatonya di pertemuan World Economic Forum Special Virtual on Indonesia melalui video konferensi dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (25/11) malam. Ini merupakan ajakan kedua kalinya Jokowi bagi para investor internasional untuk menanamkan modalnya di Indonesia, setelah pekan lalu, tawaran serupa juga disampaikan dalam sambutannya di acara APEC CEO Dialogues 2020.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang besar sebagai tujuan investasi dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, atau terbesar nomor lima di dunia, pasar domestik kita sangat menggiurkan. Apalagi, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber alam yang bisa diproduksi untuk kemudian bisa diekspor atau bisa juga untuk pasar dalam negeri.

Namun pada kenyataannya, sampai saat ini, Indonesia bukan negara paling favorit di antara negara-negara ASEAN sebagai tempat untuk menanamkan modal. Bahkan, Indonesia di bawah Vietnam yang pada era 2000-an dipandang sebelah mata para investor, termasuk pelaku usaha nasional. 

 
Namun pada kenyataannya, sampai saat ini, Indonesia bukan negara paling favorit di antara negara-negara ASEAN sebagai tempat untuk menanamkan modal.
 
 

Sampai tahun 2018, Indonesia bukan termasuk tiga besar negara di kawasan ASEAN tujuan investasi bila dilihat dari nilai foreign direct investment (FDI) atau jumlah investasi langsung asing yang ditanamkan. Vietnam menjadi negara ASEAN dengan jumlah investasi asing terbesar pada 2018, yakni senilai 300 miliar dolar AS. Dikutip dari Bloomberg, lonjakan investasi terjadi pada Januari sampai September 2018 hingga 18 persen. Posisi kedua, Thailand yang mencatatkan prestasi lonjakan nilai investasi asing hingga 53 persen pada Januari sampai Juli 2018. Sedangkan Filipina di posisi ketiga yang berhasil meraih investasi sebesar 861 juta dolar AS pada Januari sampai Juli 2018. Padahal, periode yang sama pada 2017, hanya bernilai 144 juta dolar AS.  

Indonesia terlempar dari tiga besar karena dinilai ribet dan rumitnya perizinan serta peraturan yang membuat investor antipati dan pindah ke negara lain. Pasar domestik dan perekonomian Indonesia yang cukup kuat dibandingkan negara ASEAN lainnya, contohnya Filipina atau Vietnam, tidak mampu membuat para investor jatuh hati.

Berdasarkan laporan “World Competitiveness Report” yang dirilis oleh WEF tahun 2018, butuh waktu 25 hari untuk mengurus perizinan di Indonesia. Waktu tersebut diperlukan untuk mengurus 11 prosedur agar bisa mendapatkan izin legal berinvestasi. Padahal, negara tetangga, Singapura, hanya butuh tiga prosedur dan maksimal tiga hari agar investor asing bisa segera menanamkan modalnya. 

Jokowi bukan tidak sadar bahwa masalah perizinan menjadi salah satu problem terbesar bagi para investor asing yang ingin berinvestasi. Karena itu, dalam tawaran terbaru kepada para investor asing, Jokowi kembali menyinggung Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja. UU Cipta Kerja ini diyakini Jokowi akan mempercepat proses perizinan yang selama ini menjadi salah satu keluhan terbesar para investor.

Dengan perizinan yang akan lebih cepat dari waktu-waktu sebelumnya, Jokowi optimistis, para investor akan jatuh hati kepada Indonesia. Apalagi, Indonesia memiliki sejumlah nilai lebih dibandingkan negara lainnya di kawasan ASEAN. Selain pasar domestik yang paling besar dan sangat menjanjikan, kondisi politik Indonesia jauh lebih stabil dibandingkan beberapa negara ASEAN.

Lagi-lagi kita memang menunggu, bagaimana pemerintah mengambil kesempatan untuk memikat hati para investor asing di tengah berbagai kelebihan yang Indonesia miliki. Kita mengetahui Thailand dalam beberapa bulan terakhir, dikepung aksi demo yang ingin menuntut perubahan konstitusi negara, setelah bertahun-tahun setiap kali ada konflik politik segera mereda karena keputusan raja. Kita juga menyaksikan Malaysia, dalam dua tahun terakhir ini terjadi perubahan pucuk pimpinan pemerintahan dan saat ini pun kembali memanas.

Modal Indonesia untuk menarik investor sudah cukup besar, dengan berbagai potensi kelebihan yang dimiliki. Namun, bila yang ditawarkan Presiden Jokowi tersebut tenyata semangatnya tidak diikuti aparat di bawahnya, bukan tidak mungkin, Indonesia kembali hanya akan menjadi pilihan ke sekian dibandingkan negara ASEAN lainnya. 


×