Hikmah Republika Hari ini | Republika
26 Nov 2020, 03:27 WIB

Meredam Benih Konflik

Kehadiran pihak yang tidak berkepentingan tentu hanya akan menghambat proses tabayun.

OLEH IMANUDDIN KAMIL

Sa'ad bin Ubadah pantas gusar. Desas-desus yang kurang baik tentang Rasulullah SAW pasca-Perang Hunain merebak di tengah kaumnya. Fitnah besar akan terjadi di kalangan kaum Muslimin seandainya isu itu dibiarkan berlarut-larut. Dengan sigap Sa'ad pun segera melapor kepada Rasulullah.

"Ya Rasulullah, sebagian dari golongan ansar ada perasaan-perasaan yang kurang baik terhadap apa yang telah engkau putuskan mengenai harta rampasan (ghanimah). Engkau telah memberi kaum Quraisy lebih banyak, sedangkan segolongan dari ansar engkau tidak beri sedikit pun," ujar Sa'ad.

Terdiam Rasulullah mendengar penjelasan Sa'ad. Beliau SAW lalu memerintahkan Sa'ad untuk mengumpulkan kaum ansar.

Terkait

Kaum ansar berkumpul di tenda. Rasulullah meminta agar selain kaum ansar supaya meninggalkan tempat pertemuan. Kehadiran pihak yang tidak berkepentingan tentu hanya akan menghambat proses tabayun.

Rasulullah mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya kehati-hatian dan kearifan dalam meredam benih-benih konflik. Kecermatan dan kearifan beliau tecermin dalam dialog-dialognya.

"Wahai kaum ansar, bukankah aku telah mendatangi kalian saat kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberi kalian petunjuk; saat kalian dalam keadaan kekurangan, lalu Allah memberi kalian kecukupan; saat kalian bermusuhan, lalu Allah menyatukan hati kalian," sabdanya yang kemudian diamini kaum ansar.

"Mengapa kalian tidak membantahku?" tanya beliau berulang kali.

Dalam kebingungan kaum ansar, Rasul kemudian mengejutkan mereka dengan kalimat yang membela diri dan kehormatan mereka. "Demi Allah, kalau kalian mau—dan kalian akan dibenarkan untuk mengatakannya—tentu kalian bisa mengatakan, ‘Engkau telah mendatangi kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; dalam keadaan teraniaya dan tertindas, lalu kami menolongmu; dalam keadaan terusir, lalu kami melindungimu dalam keadaan papa, lalu kami yang memberimu kemampuan; dalam keadaan takut, lalu kami yang memberikan keamanan untukmu ....'"

"Sesungguhnya aku telah memberi mereka (Quraisy) lebih banyak karena aku bermaksud melunakkan hati-hati mereka dalam Islam. Wahai segenap ansar, tidakkah kalian ridha sekiranya orang-orang pulang membawa kambing dan unta, sementara kalian pulang membawa Rasulullah. Demi Allah, sekiranya tidak karena hijrah, niscaya aku menjadi seorang dari ansar."

Tangis ansar pun tak tertahankan lagi, terlebih ketika Rasulullah menutupnya dengan doa. "Kami ridha, Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian," jawab mereka dengan linangan air mata membasahi janggut. Pertemuan itu akhirnya dibubarkan dan bara fitnah yang mengancam kaum Muslimin padam disimbah air mata penuh ketulusan.

Ada beberapa ibrah yang bisa dipetik dari kisah di atas. Pertama, seorang pemimpin hendaknya peka terhadap isu dan desas-desus yang berkembang dalam jamaahnya. Pemimpin yang arif akan selalu berusaha menyelesaikan setiap masalah, sekecil apa pun kasus tersebut.

Kedua, melokalisasi isu agar tidak sampai meluas adalah tindakan emergency yang harus dilakukan seorang pemimpin menanggapi sebuah isu konflik. Ketiga, sikap arif dan bijak dalam melakukan dialog.

Semoga kita dapat meneladaninya. Wallahu a’lam bishawab.


×