Hikmah Republika Hari ini | Republika
25 Nov 2020, 03:30 WIB

Budaya Amal Saleh

Perintah untuk konsisten dalam beramal saleh ini sejatinya untuk kepentingan kita sendiri.

OLEH NUR FARIDAH

Pepatah mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitu pula dalam hal amal saleh. Amal sedikit, tetapi dilakukan secara konsisten, itu lebih baik daripada amal banyak, tetapi kemudian berhenti.

Idealnya tentu saja secara kuantitas banyak, secara kualitas juga baik. Nabi bersabda, “Jangan membiasakan ibadah, lalu meninggalkannya.” (HR ad-Dailami).

Ibadah di sini tidak sekadar ibadah yang sifatnya mahdah, seperti shalat, puasa, zikir, membaca Alquran, tapi juga yang sifatnya ghair mahdah, misalnya berbuat baik terhadap sesama, menolong dan membantu orang, dan seterusnya. Seperti dikatakan pada hadis di atas, kita jangan sampai melakukan satu ibadah atau amal beberapa hari saja, lalu tidak lagi melakukannya. Sesuatu yang baik terkadang bisa jadi buruk ketika kita berhenti melakukannya, misalnya berhenti beramal saleh setelah sebelumnya melakukan.

Terkait

Diriwayatkan, pada suatu ketika Alqamah pernah bertanya pada Ummul Mukminin Aisyah, istri Rasulullah, mengenai amal suaminya itu, “Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” Aisyah menjawab, “Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Jika beliau beramal, beliau selalu konsisten melakukannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Rajab dalam kitabnya, Fath al-Bari menjelaskan, Nabi selalu melakukan amal secara konsisten, dan melarang memutuskan atau meninggalkan amal begitu saja. Dalam hadis disebutkan, Nabi pernah melarang melakukan hal seperti itu kepada Abdullah bin Umar (Ibnu Umar). Nabi mencelanya karena meninggalkan amal (absen) shalat malam.

Nabi berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, tetapi sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Mendengar nasihat ini, ia pun menjadi rajin beribadah malam, tanpa pernah meninggalkannya lagi.

Imam Hasan al-Bashri, seperti dikutip Ibnu Rajab dalam kitabnya, al-Mahajjah fi Sair ad-Duljah, mengingatkan, “Wahai kaum Muslimin, konsistenlah dalam beramal, konsistenlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir amal dari seseorang selain kematiannya. Jika setan melihatmu konsisten dalam melakukan amal ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun, jika setan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin bersemangat untuk menggodamu.”

Perintah untuk konsisten dalam beramal ini sejatinya untuk kepentingan kita sendiri. Kita didorong untuk terbiasa dengan hal-hal baik tanpa pernah meninggalkannya. Sehingga, itu menjadi budaya atau habit positif kita sehari-hari.

Seperti dikatakan Nabi, “Siapa yang membiasakan suatu sunah (tradisi) yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya, dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim menjelaskan, amal saleh sedikit yang konsisten dilakukan akan melanggengkan amal ketaatan, zikir, taqarub kepada Allah, niat, dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amal tersebut diterima oleh Allah SWT. Wallahu a’lam.


×