Warga Palestina mengumpulkan biji gandumg seteah pasukan Israel menghandurkan lumbung di Khirbet Hums, Lembah Yordan, Tepi Barat, Jumat (6/11). | AP/Majdi Mohammed
16 Nov 2020, 02:00 WIB

Peace Now: Israel Kebut Permukiman

Permukiman Givat Hamatos akan memutus Yerusalem Timur dari Tepi Barat.

YERUSALEM -- Peace Now, Ahad (15/11), mengatakan Israel mengejar pembangunan ratusan unit rumah di permukiman Yahudi yang strategis di Yerusalem Timur. Permukiman ini mengancam akan memotong wilayah yang diklaim Palestina yaitu Yerusalem Timur, dari Tepi Barat.

Peace Now menyebutkan, badan pertanahan Israel yaitu Land Authority mengumumkan membuka tender untuk pembangunan lebih dari 1.200 unit rumah. Pengumuman tender di laman resmi mereka itu menyebutkan, lokasi tersebut ada di permukiman Givat Hamatos di Yerusalem Timur. 

Juru bicara Peace Now, Brian Reeves, mengatakan badan pertanahan Israel menetapkan batas tender bertepatan dengan beberapa hari sebelum pelantikan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Setelah itu, maka pembangunan dapat dimulai dalam beberapa bulan.

"Ini hantaman mematikan pada prospek perdamaian," ujar pernyataan Peace Now, lembaga masyarakat sipil Israel yang mengawasi permukiman Yahudi.

Terkait

Israel, ujar mereka, "Memanfaatkan keuntungan pada pekan-pekan terakhir dari Pemerintahan (Presiden AS Donald) Trump untuk memasang patok di lapangan yang tentu akan sulit untuk dibatalkan."

Laman Hamodia melaporkan, pengumuman tender ini keluar menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke kawasan, pekan ini. Ia diperkirakan akan berkunjung ke komunitas Israel di Shomron. Para menteri luar negeri AS sebelumnya biasanya menghindari berkunjung ke lokasi tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memang telah berjanji membangun kawasan Givat Hamatos. Pembangunan itu, tulis Hamodia, "penting untuk membakukan kedaulatan Israel atas Yerusalem Timur."

Selama ini Palestina dan sejumlah pihak yang mengritik kebijakan Israel mengatakan, pembangunan permukiman Givat Hamatos akan menyegel Kota Bethlehem dan wilayah selatan Tepi Barat dari Yerusalem Timur. Pemotongan ini akan membuat warga Palestina semakin sulit memiliki Yerusalem Timur. 

"Ini kelanjutan dari kebijakan Pemerintah Israel saat ini dalam menghancurkan solusi dua negara," ujar Nabil Abu Rdeneh, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

photo
Warga Palestina duduk di Khirbet Humsu, Tepi Barat, Jumat (6/11). Pasukan Israel merobohkan sedikitnya tiga bangunan di wilayah itu. - (AP/Majdi Mohammed)

Berdasarkan konsensus internasional, penyelesaian konflik Israel dan Palestina diselesaikan dengan solusi dua negara. Dengan solusi itu, Palestina bercita-cita mendirikan negara dengan batas wilayah sebelum Perang 1967 yaitu meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Namun, kini hampir 500 ribu pemukim Yahudi tinggal di Tepi Barat. Lebih dari 200 ribu pemukiman tinggal di Yerusalem Timur. 

Bagi Palestina, kenyataan tersebut, harapan mereka mendirikan negara kian redup. Israel memandang keseluruhan Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka secara utuh. 

Sebaian besar dari wilayah Yerusalem telah diputus dari Tepi Barat dengan pendirian serangkaian pos pemeriksaan dan pagar pembatas oleh Israel. Israel juga telah melangkah lebih jauh dengan berencana untuk membangun kawasan E1, yang dikenal sebagai kawasan sensitif di sebelah timur Yerusalem. Dengan pembangunan Givat Hamatos, maka Yerusalem Timur akan teputus sepenuhnya dari Tepi Barat.

Selama empat tahun, kebijakan Trump lebih cenderung pada kepentingan Israel. Trump juga tak menentang pembangunan permukiman Yahudi. Di bawah kepemimpinan presiden baru AS yaitu Biden, Israel mungkin menghadapi kenyataan berbeda. 

photo
Anak-anak Palestina bermain di reruntuhan bangunan yang dihancurkan pasukan Israel di Rojeeb, Tepi Barat, awal November ini. - (AP/Nasser Nasser)

Biden diperkirakan akan memulihkan kembali kebijakan AS seperti semula. Kebijakan yang selama ini dipegang pemerintahan AS sebelum Trump yaitu menilai pembangunan permukiman oleh Israel sebagai tindakan tidak sah dan menjadi penghalang perdamaian dengan Palestina. 

Sebelum pemerintahan Trump, Israel menahan diri untuk tidak membuat rencana pembangunan di wilayah sensitif termasuk Givat Hamatos. Hal ini karena ada penolakan dari AS dan komunitas internasioal yang mendukung solusi dua negara. 

Namun, di bawah pemerintahan Trump, Israel telah menyetujui pembangunan ribuan unit rumah baru di permukiman Yahudi. Pembangunan itu diperkirakan akan mulai dikerjakan saat Biden mulai memerintah. 

Sumber : Associated Press


×