Peserta parade menampilkan aksi teatrikal pertempuran pejuang Indonesia melawan pasukan Inggris di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/11/2019). | ZABUR KARURU/ANTARA FOTO

Opini

10 Nov 2020, 05:05 WIB

Pertempuran Surabaya

Pertempuran Surabaya bukan hanya perang fisik, melainkan juga perang psikologis.

MUHAMMAD YUANDA ZARA, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta

Pertempuran Surabaya yang bermula pada 10 November 1945 adalah peristiwa besar dalam sejarah perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kedatangan Inggris dan Belanda untuk menduduki Surabaya dilawan para pejuang Surabaya. Publik mengetahui, Bung Tomo dengan radio pemberontakannya adalah elemen penting di balik usaha memobilisasi masyarakat Surabaya dalam pertempuran itu.

Namun, ada satu unsur lain yang terlupakan dalam historiografi pertempuran Surabaya, yang juga berperan krusial dalam menyerukan perjuangan melawan pendudukan asing, yakni media cetak.

Sementara itu, seruan Bung Tomo lebih banyak ditujukan kepada kaum nasionalis di Jawa Timur, media cetak membawa narasi tentang pertempuran Surabaya dan sentimen kebangsaan yang melingkupinya, ke level nasional bahkan internasional.

Media cetak berperan menyampaikan informasi mutakhir tentang jalannya pertempuran dengan perspektif pro-Republik.

 
Ada beberapa media cetak yang berperan penting membentuk opini publik Indonesia dan internasional terhadap pertempuran Surabaya, dan semuanya terbit di luar Surabaya.
 
 

Ide bahwa pertempuran Surabaya bukan kontak senjata lokal antara masyarakat Surabaya melawan Inggris, melainkan juga serangan Inggris atas semua orang Indonesia, dikonstruksikan lewat berita dan pandangan yang dipublikasikan media massa cetak ke luar Surabaya, Jawa, bahkan ke luar Indonesia.

Alhasil, munculnya dukungan publik berskala nasional dari luar Jawa Timur, harus dilihat dari kontribusi media cetak dalam mewartakan pertempuran ini ke bagian-bagian lain Indonesia, yang berjarak ratusan dan ribuan kilometer dari Surabaya.

Ada beberapa media cetak yang berperan penting membentuk opini publik Indonesia dan internasional terhadap pertempuran Surabaya, dan semuanya terbit di luar Surabaya. Di Surabaya, media cetak seperti Soeara Rakjat berhenti terbit karena serangan Inggris.

Pertama, Berita Indonesia (Jakarta), yang mewartakan perang di Surabaya pada audiens di Ibu Kota RI. Koran ini tidak hanya menarasikan pertempuran dalam konteks kontak senjata antara dua pihak yang berseteru.

Selain itu, dalam konteks kekejaman dari suatu bangsa imperialis dari Eropa terhadap kaum pribumi, yang hanya menginginkan kemerdekaannya. Koran ini, misalnya, menyebut apa yang terjadi di Surabaya sebagai “Amritsar kedua”.

 
Artinya, Berita Indonesia menekankan, peristiwa di Surabaya lebih dari sekadar insiden tembak-menembak dan membuktikan Inggris masih bersikap sebagai negara kolonial yang kejam, bahkan setelah Perang Dunia II.
 
 

Istilah ‘Amritsar’ adalah aib dalam sejarah kolonialisme Inggris. Pada 1919 atau 26 tahun sebelumnya, pasukan yang dikomandoi Inggris membunuh 379 orang India yang berkumpul di Kota Amritsar, India, untuk mengekspresikan aspirasi politiknya.

Artinya, Berita Indonesia menekankan, peristiwa di Surabaya lebih dari sekadar insiden tembak-menembak dan membuktikan Inggris masih bersikap sebagai negara kolonial yang kejam, bahkan setelah Perang Dunia II.

Koran selanjutnya, Soeloeh Merdeka, membawa kisah perlawanan pejuang Surabaya ke tempat berjarak hampir 2.000 km dari Surabaya. Terbit di Medan, Sumatra Utara, koran ini sarana komunikasi penting tentang apa yang terjadi di Jawa kepada masyarakat di Sumatra. Koran ini menjadikan siaran Radio Surabaya sebagai sumber beritanya.

Jiwa nasionalisme

Hal menarik, dalam pertempuran Surabaya tak hanya digambarkan bagaimana kedua belah pihak saling berbalas serangan, tapi juga kuatnya nuansa nasionalis di dalam bagaimana koran itu merepresentasikan peristiwa pertempuran itu. 

Pasukan Inggris, misalnya, diejek sebagai pasukan pengecut dan hanya bisa menggertak. Inggris juga dinarasikan lemah karena selalu meminta bantuan pasukan negara lain di medan perang, termasuk di Perang Dunia I dan II.

Pembingkaian semacam ini menciptakan citra populer pada masyarakat di luar Surabaya, dalam hal ini Medan, tentang kekejaman dan karakter kolonial di pasukan Inggris. Di sini, koran menjadi fondasi persepsi, pertempuran Surabaya merupakan perjuangan nasional.

Media lainnya adalah The Voice of Free Indonesia. Terbit di Jakarta, majalah pro-Republik ini menggunakan bahasa Inggris, karena audiens yang ditujunya adalah orang asing yang ingin tahu apa yang terjadi di Indonesia dari sisi Indonesia.

Ini peran yang vital, mengingat kala itu Inggris dan Belanda punya lebih banyak saluran komunikasi kepada dunia luar, untuk menjustifikasi pendudukannya terhadap Indonesia.

 
Pertempuran Surabaya bukan hanya perang fisik, melainkan juga perang psikologis. Dalam konteks ini, media cetak adalah ujung tombaknya.
 
 

Ketika pertempuran Surabaya pecah, Presiden Sukarno tak tinggal diam seperti anggapan banyak orang. Ia mengirim telegram ke Presiden AS Harry S Truman dan Perdana Menteri Inggris Clement Attlee.

Sukarno memprotes hujan bom yang dijatuhkan sekutu di Surabaya karena penolakan orang Indonesia terhadap pendudukan sekutu atas kota itu. Banyak korban dari berbagai bangsa yang jatuh, lanjut Sukarno. 

Sukarno mendesak atas nama kemanusiaan dan keadilan agar yang ia sebut sebagai pembunuhan massal sipil  tak berdosa itu dihentikan. Telegram Sukarno dalam bahasa Inggris itu dimuat The Voice of Free Indonesia dan membantu untuk menarik perhatian internasional.

Di pertempuran Surabaya, dua peran krusial media massa tak bisa diabaikan, yakni  menginformasikan pertempuran ke masyarakat di luar Jawa Timur dan membangun kesadaran kolektif bahwa serangan pada salah satu bagiannya, merupakan serangan ke seluruh bangsa. 

Pertempuran Surabaya bukan hanya perang fisik, melainkan juga perang psikologis. Dalam konteks ini, media cetak adalah ujung tombaknya.


×