Kendaraan berhenti di dekat tiang pancang monorel di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (3/11). Tiang pancang proyek monorel yang terbengkalai itu dimanfaatkan sebagai billboard untuk menyosialisasikan vaksin Covid-19. | Republika/Putra M. Akbar
10 Nov 2020, 05:00 WIB

Babak Baru Vaksin Merah Putih Unair

Unair terus menggenjot percepatan pengembangan vaksin yang diberi nama Vaksin Merah Putih.

Cahaya di ujung terowongan pandemi Covid-19 adalah vaksin. Kini, dunia terus berlomba menjadi yang terbaik dan tercepat untuk menemukannya. Di Indonesia, selain Lembaga Eijkman, beberapa institusi seperti Universitas Airlangga (Unair) juga sedang dalam penelitian. Ada perkembangan signifikan dari kerja ilmiah yang dilakukan Unair. Berikut liputan wartawan Republika, Dadang Kurnia.

Sejak awal wabah Covid-19 merebak, peneliti Unair aktif bergerak. Tidak saja mengembangkan vaksin, tapi juga obat, hingga stem cell yang diharapkannya mampu memberikan dampak signifikan dalam upaya memerangi Covid-19.

Unair terus menggenjot percepatan pengembangan vaksin yang diberi nama Vaksin Merah Putih. Vaksin Merah Putih Unair kini telah selesai melakukan uji tahap 1, 2, dan 3, yakni tahap menghasilkan rekombinan viral vector adenovirus dan adeno associate virus. 

Untuk mencapai kesempurnaan, Vaksin Merah Putih Unair harus menempuh dua tahap tersisa. Yakni tahap 4 validasi dan uji pre klinis. Setelah itu, baru akan masuk di tahap 5, yakni uji klinis sebanyak tiga tahap. Prosesnya memang diakui masih panjang.

“Tapi nggak apa-apa. Yang penting kami semua, akademisi Unair terus bergerak untuk bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ujar Rektor Unair, Prof Muh Nasih, di Surabaya, Senin (9/11).

Guna terlaksananya tahapan keempat, Unair menggandeng PT Biotis Pharmaceutical Indonesia. Pada tahapan tersebut, vaksin Covid-19 yang dikembangkan akan dilakukan uji coba terhadap hewan. Mulai dari tikus hingga kera. Jika proses uji coba terhadap hewan berjalan sukses dan efektif, selanjutnya akan diujicobakan terhadap manusia.

“Ada proses-proses yang memerlukan teknologi yang lebih maju lagi berkaitan dengan masalah pembiakan dan lain-lain. Sehingga dijalin kerja sama dengan PT Biotis Pharmaceutical Indonesia untuk itu. Di sana akan dilakukan animal trial dalam waktu beberapa bulan,” ujar Nasih.

Nasih belum bisa memastikan apakah setelah seluruh tahapan penyempurnaan ini terlewati hasilnya bisa diproduksi massal atau tidak. Ia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pihak-pihak terkait untuk memutuskan. Dia hanya menegaskan, institusi yang dipimpinnya hanya ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara.

“Soal nanti (vaksin) ini dipakai atau nggak dipakai, soal industri dan bisnisnya, tentu kami serahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak yang relevan dan punya kewenangan di sana,” kata Nasih.

photo
Rektor Unair Muh Nashih - (Dadang Kurnia/Republika)

Salah satu peneliti dari konsorsium pengembangan Vaksin Merah Putih Unair, Ni Nyoman Tri Puspaningsi, mengatakan, pengembangan vaksin telah sampai pada tahap validasi. Vaksin Merah Putih Unair telah menghasilkan rekombinan dan memasukkan spike, baik spike world type atau strain Wuhan maupun strain spike mutan yang ditemukan di Surabaya.

Direktur Utama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia, FX Sudirman, menyatakan, pihaknya akan memulai uji coba terhadap hewan pada Desember 2020. Perusahaan yang dipimpinnya sangat siap membantu meningkatkan keterampilan institusi-institusi yang mengembangkan vaksin Covid-19. Ia menegaskan kesiapannya memproduksi massal, jika Vaksin Merah Putih Unair nantinya dinyatakan ampuh.

Sudirman mengakui, untuk memproduksi vaksin tersebut dibutuhkan investasi besar, yang nilainya mencapai ratusan juta dolar AS. Namun, dia meyakini, jika proses pembuatan vaksin tersebut berjalan lancar, nilai investasi yang fantastis tersebut layak dikesampingkan. 

Nggak usah hitung investasinya, tapi manfaat buat ekonomi akan jauh lebih tinggi dari investasinya,” ujar Sudirman.

Staf Ahli Bidang Infrastruktur pada Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Ali Ghufron Mukti, menegaskan pihaknya sangat mendukung dan berkomitmen untuk mengembangkan riset dan inovasi guna merespons, mengatasi, dan memitigasi Covid-19. Terkait pengembangan vaksin Covid-19, Ali menekankan tiga isu, yakni masalah kecepatan, efektivitas dan keamanan, serta kemandirian.

“Sehingga ke depan itu tidak impor, justru ekspor (vaksin Covid-19). Untuk efektivitas dan keamanan, produksi Vaksin Merah Putih sejak dini kita minta didampingi BPOM,” ujar Ali Ghufron.


×