Dalam sepak terjangnya sebagai seorang pakar kedokteran, Ibnu Sina pernah menyembuhkan seorang pangeran yang mempercayai diri sebagai seekor sapi. | DOK PXHERE
01 Nov 2020, 06:50 WIB

Ibnu Sina Sembuhkan Pangeran Delusional

Pangeran Abu Thalib Rustam mengidap penyakit kejiwaan atau delusi menganggap dirinya sapi.

OLEH HASANUL RIZQA

Nama lengkapnya adalah Abu Ali bin Abdullah bin Hasan bin Sina. Dunia Islam memanggilnya sebagai Ibnu Sina. Adapun orang-orang Eropa Barat, khususnya dari abad pertengahan, menyebutnya Avicenna.

Ia merupakan seorang ahli agama sekaligus pakar kedokteran yang lahir pada 3 Agustus 980 M di Afhshana, dekat Bukhara, Asia Tengah. Ibnu Sina merupakan salah satu ilmuwan serba bisa (polymath) dalam sejarah peradaban Islam.

Sebagai penulis yang sangat produktif, tokoh berdarah Persia itu telah menghasilkan tak kurang dari 450 buku. Beberapa di antaranya menjadi mahakarya yang dibaca luas hingga saat ini, seperti Al-Qanun fii ath-Thibb dan Kitab asy-Syifaa. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherrado de Cremona pada abad ke-12, keduanya menjadi bacaan standar bagi akademisi Eropa.

Terkait

Ibnu Sina sangat dihormati seluruh kalangan. Reputasinya membuat decak kagum masyarakat maupun elite negeri. Dari begitu banyak tindakan medis yang pernah dilakukannya, ada sebuah kisah yang cukup menarik. Cerita itu disampaikan oleh seorang penulis Samarkand, Nizami atau Ahmad bin Umar bin Ali sekitar tahun 1110 M dalam karyanya, Chaqar Maqala (Empat Uraian).

Pada zaman dahulu, Kerajaan Buwaihiyah di Iran mengalami masalah cukup pelik. Pangerannya yang bernama Abu Thalib Rustam mengidap penyakit kejiwaan atau delusi. Putra sulung pasangan Raja Fakhr al-Dawla dan Ratu Sayyida Shirin itu menganggap dirinya sebagai seekor sapi.

Alih-alih menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang, pangeran bergelar Majd al-Dawla itu justru lebih sering bermuram durja. Kepada para pelayannya, ia selalu berkata, “Aku ini seekor sapi, sudah seharusnya disembelih dan kalian makan dagingku!”

 
Aku ini seekor sapi, sudah seharusnya disembelih dan kalian makan dagingku!
 
 

Mereka yang baru pertama kali mendengarnya mungkin akan terheran-heran atau tertawa. Namun, sorot matanya saat mengucapkan kalimat itu menandakan dirinya tidak bercanda.

Bahkan, tak jarang Abu Thalib Rustam bertingkah seolah-olah binatang ternak berkaki empat. Ia mengeluarkan suara melenguh atau berjalan seperti sapi—dengan kedua kaki dan tangannya menapaki tanah berumput.

Dan, berkali-kali Rustam minta disembelih. Tentu saja, permintaan itu tidak dikabulkan kedua orang tuanya. Mereka sangat sedih melihat buah hatinya tidak kunjung sembuh dari penyakit mental tersebut. Raja dan ratu telah mendatangkan banyak tabib dan dokter untuk memulihkan kondisi sang pangeran. Apa daya, tidak ada satu pun yang sanggup meyakinkan anak bangsawan itu bahwa dirinya bukanlah sapi, melainkan manusia.

Karena permintaannya tidak dituruti juga, Rustam pun berhari-hari lamanya mogok makan. Ia menolak setiap sajian yang disuguhkan kepadanya. Setiap pagi, pemuda tersebut pergi ke padang rumput, menunjukkan gelagat seakan-akan dirinya seekor sapi. Ayahnya, Sultan Fakhr al-Dawla, pun nyaris menyerah. Penguasa negeri Buwaihiyah itu tidak tahu lagi ke mana akan meminta pertolongan.

Suatu hari, Husamuddin Abu Ja’far Muhammad bin Dushmanziyar mendatangi istana. Bangsawan bergelar Alaud al-Dawla itu merasa iba dengan keadaan raja dan ratu yang lelah dengan penyakit anaknya. Gubernur Isfahan itu hendak pun menyampaikan, ada seorang dokter hebat yang pernah mengajar di kotanya. Dialah Ibnu Sina.

Sultan Fakhr merasa timbul harapannya. Bagaimanapun, lanjut Husamuddin, dokter tersebut mengajukan sebuah syarat agar dapat menyembuhkan sang pangeran. Ibnu Sina meminta agar tidak seorang pun menghalangi dirinya saat sedang menjalankan tindakan medis. Raja pun menyanggupi persyaratan itu.

 
Ibnu Sina meminta agar tidak seorang pun menghalangi dirinya saat sedang menjalankan tindakan medis.
 
 

Beberapa hari kemudian, Ibnu Sina pun tiba di istana. Saat bertemu dengan pasiennya, ia mengatakan kepada pangeran tersebut bahwa dirinya adalah jagal yang segera menyembelihnya.

Ia juga memperlihatkan beberapa pria di antara rombongannya yang disebutnya sebagai tim penyembelihan. Mendengar itu, Rustam melonjak kegirangan. Sebab, kabar itulah yang memang ditunggu-tunggunya selama ini.

Ibnu Sina kemudian memerintahkan beberapa temannya untuk mengikat tangan dan kaki sang pangeran dengan sekencang-kencangnya. Bukannya memprotes, anak raja tersebut malah pasrah begitu saja. Prosesi “penyembelihan” dilakukan di sebuah lapangan rumput dalam kompleks istana. Bahkan, lubang tempat menampung darah juga sudah digali.

Persiapan tuntas dilakukan. Rustam sudah terbaring di atas tanah dengan tangan dan kakinya terikat. Ibnu Sina mendekatinya dengan membawa sebilah pisau besar.

 
Ibnu Sina mendekatinya dengan membawa sebilah pisau besar.
 
 

Sebelum bermaksud menyembelih sang pangeran, ia terlebih dahulu mengasah senjata tersebut dengan batu. Sengaja hal itu dilakukannya di depan mata si pasien untuk mencitrakan dirinya sebagai tukang sembelih yang andal, tidak kenal ampun.

Rustam tampak biasa-biasa saja ketika melihat Ibnu Sina. Sebab, pikiran pangeran tersebut sudah begitu dalam meyakini bahwa dirinya adalah sapi yang menunggu disembelih.

Ibnu Sina lalu mengangkangi dada sang pangeran, seperti benar-benar akan menyembelihnya. Namun, saat menyentuh lengan, perut, dan wajah pasiennya, ia lalu berkata, “Sapi ini sangat lemah dan mudah remuk. Tidak ada gunanya menyembelih hewan yang kurus kering begini.”

“Sebaiknya sapi makan yang banyak terlebih dahulu sampai kenyang agar pantas disembelih!” ujar dokter itu lagi.

Rustam mengangguk-angguk tanda setuju. Ibnu Sina kemudian memerintahkan timnya untuk membuka ikatan pada tangan dan kaki pasiennya itu. Selanjutnya, sang putra raja diminta untuk duduk tenang. Para pelayan segera dipanggil. Mereka berduyun-duyun membawa aneka macam makanan dan minuman untuk Rustam.

Sajian itu tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga berkhasiat. Sebab, tanpa sepengetahuan sang pangeran, Ibnu Sina telah menambahkan beberapa ramuan obat dengan dosis yang pas pada makanan itu.

Keadaan pasiennya pun perlahan-lahan membaik. Dari hari ke hari, berat badannya menjadi normal kembali. Dalam keadaan itu, Ibnu Sina terus mendampinginya dan memberikan semacam psikoterapi untuknya. Beberapa pekan kemudian, Pangeran Rustam sembuh total, tidak lagi menganggap dirinya sapi.


,
×