Para panelis dalam Forum Group Discussion bertemakan | Republika/nur hasan murtiaji
30 Nov 2020, 05:06 WIB

Perkokoh Semangat Berbagi Saat Pandemi

Semangat berbagi penting diperkokoh agar masyarakat terdampak pandemi bisa melewati ujian Allah SWT ini.

JAKARTA -- Berbagi merupakan kultur masyarakat Muslim Indonesia yang harus dijaga sebagai wujud tolong-menolong antarsesama. Karena itu, di tengah pandemi Covid-19, semangat berbagi itu sangat penting diperkokoh agar masyarakat yang terdampak pandemi bisa melewati ujian Allah SWT ini.

"Pandemi menjadi ujian bagi kita bersama untuk menguji sejauh mana daya tahan kehidupan sosial kita. Kita diuji sejauh mana rasa sosial itu," kata Pemimpin Redaksi Harian Republika, Irfan Junaidi, saat membuka focus group discussion (FGD) virtual bertema "Semangat Berzakat di Tengah Pandemi", Kamis (22/10).

Dalam forum yang diselenggarakan oleh Republika bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu menghadirkan panelis dari lembaga-lembaga filantropi Islam, perwakilan MUI, Dewan Masjid Indonesia Jakarta Selatan, akademisi, pengusaha UKM, dan mahasiswa.

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Sholahudin al-Aiyub menyampaikan bahwa ibadah yang memiliki dampak sosial itu nilainya lebih utama daripada ibadah yang bersifat ritual, seperti shalat dan puasa. Karena itu, ibadah yang sifatnya sosial, seperti zakat, infak, dan sedekah (ZIS) harus terus dikampanyekan.

Terkait

"Almarhum KH Ali Mustafa Yaqub itu mengkritik seorang Muslim yang menunaikan ibadah haji berkali-kali sementara di sekitarnya ada orang yang kurang mampu," kata dia.

Kiai Sholahudin menerangkan, ZIS merupakan instrumen yang diajarkan dalam Islam untuk membantu saudara-saudara Muslim yang membutuhkan. Umat Islam diharapkan memberikan sumbangsih melalui instrumen syariat tersebut dan tidak harus bergantung pada bantuan pemerintah dalam menghadapi pandemi.

"Ketika berzakat, harta yang dikeluarkan itu prinsipnya akan bertambah. Ini janji Allah SWT," ujar dia.

 
Ketika berzakat, harta yang dikeluarkan itu prinsipnya akan bertambah, ini janji Allah SWT.
 
 

Dalam forum yang sama, Chief Marketing Officer Rumah Zakat Irvan Nugraha menyampaikan, di tengah pandemi, masyarakat Indonesia menjadi lebih berempati. Hal ini terlihat dari penghimpunan donasi yang masuk. Untuk melancarkan penghimpunan donasi saat pandemi, Rumah Zakat mengintensifkan edukasi untuk berdonasi secara digital.

Rumah Zakat melakukan beberapa inovasi untuk memudahkan masyarakat dalam menunaikan ZIS. Lembaga filantropi ini juga berkolaborasi melalui kanal Youtube untuk memudahkan masyarakat berdonasi. "Masyarakat juga kita libatkan untuk menjadi mitra sosialisasi yang kita sebut program Sahabat Kebaikan," tutur Irvan.

Semua itu, kata dia, dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tetap bersemangat menunaikan ZIS. Menurut dia, Rumah Zakat terbantu oleh peran masyarakat dan influencer dalam membuat konten kreatif yang disosialisasikan di media sosial.

"Sehingga ada peningkatan (donasi), alhamdulillah," ujarnya.

photo
Tangkapan layar Forum Group Discussion secara virtual bertemakan Semangat Berzakat di Tengah Pandemi yang diadakan Republika bekerja sama dengan BNPB, Kamis (22/10) - (Republika/nur hasan murtiaji)

Sementara, Chief Marketing Office Global Zakat ACT Syahrul Mubaraq mengungkapkan, pihaknya telah membagikan lebih dari 1,6 juta kg beras kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Sejauh ini, ia menilai, penghimpunan ZIS masih terjaga, tetapi dia melihat adanya kekhawatiran terkait kondisi ekonomi di masa mendatang.

Untuk menghadapi kondisi itu, menurut Syahrul, diperlukan edukasi secara masif bahwa zakat bukan bersifat sukarela melainkan wajib. Edukasi ini penting mengingat sebagian masyarakat masih menganggap zakat bersifat sukarela. Dia pun mengingatkan, zakat tidak boleh ditahan dan wajib ditunaikan.

ACT juga mengusulkan dibentuknya gugus tugas filantropi yang berperan menyampaikan informasi yang sejuk di tengah pandemi Covid-19. Tujuan lainnya, supaya ada gerakan dalam satu frekuensi yang sama.

Syahrul menilai, tiga pilar penting, yaitu pemerintah, ulama, dan masyarakat belum berada di satu frekuensi yang sama. "Hari ini umat Islam bisa jadi belum menemukan sosok yang bisa menjadi komando. Kita berharap, ulama kita bersatu dan menyerukan umat untuk peduli pada sesama, peduli pada tetangganya," katanya.

Dalam pandangan Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, Sigit Pramono, krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 memang berbeda dari krisis pada 1997 dan 2008. Menurut dia, krisis kali ini juga melibatkan krisis kesehatan yang selama ini tidak pernah dialami di Indonesia.

"Maka hemat saya, kita harus merespons dengan cara yang tidak sederhana," tutur dia.

Menurut Sigit, diperlukan sikap ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim yang dilandasi itsar (mendahulukan kepentingan orang lain) dalam hal sosial dan tasamuh (toleransi). Dia mengatakan, sikap itsar menemukan momentumnya saat ini, termasuk bagi lembaga filantropi Islam.

"Kita bisa mendorong ini menjadi satu keunikan bahwa inilah saatnya praktik terbaik tentang Islamic finance dengan semangat berbagi," ujarnya.

FGD yang diselenggarakan Republika ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh filantropi lain di antaranya Bendahara Dewan Masjid Indonesia Jakarta Selatan Rahadi Mulyanto, Indah Nur Maulina dari Forum Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma, Deputi Direktur Yayasan Baitul Maal PLN Salman Alfarisi, Manajer Humas Baznas Yudhiarma MK, Direktur Laznas Panti Yatim Indonesia (PYI) Tomy Irawan, dan Raya Sulistyowati dari Canvazzone & Magasky.


,
×