Sejumlah santri mengikuti kegiatan doa Istighosah di Pondok Pesantren An-Nuqthah, Kota Tangerang, Banten, Kamis (22/10/2020). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional dengan tema | ANTARA FANTARA FOTO/Fauzan
29 Nov 2020, 09:01 WIB

Pesantren Butuh Pendekatan Berbeda Tangani Covid-19

Covid-19 adalah persoalan bersama, bukan hanya pesantren. Harus ada keterbukaan antara pemerintah dan pesantren.

SEMARANG — Upaya penanganan Covid-19 di lingkungan pesantren tidak bisa dilakukan dengan menjadikan pesantren sebagai objek. Sebab, pesantren memiliki budaya tersendiri sebagai lembaga pendidikan mandiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan umum lainnya.

“Akan lebih tepat, jika menempatkan pesantren sebagai subjek,” ungkap Sekretaris Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abu Choir , dalam webinar bertajuk "Santri Sehat-Indonesia Sehat, Jogo Santri di Masa Pandemi Covid-19", Kamis (22/10).

Dalam webinar yang digelar Yayasan Setara bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro (LPPM Undip) serta UNICEF dalam memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ini, Abu Choir menyarankan pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan melakukan swab massal di pesantren. 

“Sebab, jika ada temuan kasus positif Covid-19 di lingkungan pesantren, apalagi meledak (banyak jumlahnya) dan itu dipublikasikan secara luas, saya khawatir masyarakat akan menjauhi pesantren,” katanya.

Terkait

Ia menilai, permasalahan Covid-19 di lingkungan pesantren bukan sekadar persoalan positif atau negatif. Sebab, ada pula ketakutan pesantren harus tutup jika ditemukan kasus positif Covid-19 pada santri.

Ia sepakat jika Covid-19 adalah persoalan bersama, bukan hanya pesantren. Harus ada keterbukaan antara pemerintah dan pihak pesantren. “Semoga ada titik temu, sekarang sudah ada Jogo Santri, Jogo Kiai, Pesantren Tangguh. dan lainnya,” kata Abu Choir menambahkan.

Dokter Budi Laksono dari Satgas Covid-19 Provinsi Jateng mengatakan, santri yang terpapar Covid-19 di pesantren itu seperti 'pemburu yang memburu ayam di dalam kandang'. Artinya, langsung bisa melihat banyak. Padahal, buruan yang berada di luar kandang lebih banyak lagi. “Hal tersebut, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi satgas maupun stakeholder yang lain dalam penanganan pandemi Covid-19," katanya.

photo
Sejumlah santri mengikuti apel dan doa memperingati hari santri nasional di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (22/10/2020). Peringatan hari santri nasional ke-5 tahun 2020 saat pandemi COVID-19 tersebut menggambil tema Santri Sehat Indonesia Kuat dengan harapan Indonesia segera bebas dari wabah COVID-19 - (ANANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa, Arie Rukmantara, mengatakan, Jogo Santri bisa menjadi percontohan atau inspirasi dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ia berharap satu pun anak terkena Covid-19.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum menekankan pentingnya keterbukaan pimpinan dan pengelola pondok pesantren (ponpes) dalam mengantisipasi penyebaran kasus Covid-19 di pesantren. Uu pun meminta pimpinan dan pengelola ponpes untuk berkoordinasi dengan pemerintah jika ditemukan adanya gejala penularan virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 di lingkungan ponpes.

Koordinasi dapat dilakukan dengan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 atau dinas kesehatan setempat. "Jika terjadi gejala Covid-19, diharapkan para kiai dan pimpinan ponpes untuk tidak segan melapor kepada Gugus Tugas setempat," ujar Uu pada agenda "Silaturahmi Pimpinan Pondok Pesantren se-Kota Tasikmalaya dalam rangka Peningkatan Kewaspadaan Pondok Pesantren dalam Menghadapi Covid-19" di Gedung Dakwah Kota Tasikmalaya, Kamis (1/10).

Uu meminta pimpinan pondok pesantren agar tak menyembunyikan kalau ada kasus positif covid 19. Uu berharap, kasus Covid-19 tidak terjadi lagi di seluruh ponpes di Jabar.


,
×