Subroto | Daan Yahya | Republika
19 Oct 2020, 05:00 WIB

Menyusup di Bus Rombongan Jepang

Melakukan wawancara cegatan alias doorstop ada taktiknya tersendiri.

SUBROTO, Jurnalis Republika

Ranah Minang diguncang gempa 7,6 Skala Richter pada  30 September 2009  sekitar pukul 17.16 WIB. Guncangan dahsyat itu menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah. Tak hanya Kota Padang, ibu kota Sumbar yang luluh lantak, dua kota dan empat kabupaten juga menderita.

 Gedung-gedung  perkantoran roboh.  Satkorlak Penanggulangan Bencana mencatat  ratusan ribu rumah rusak. Lebih dari 1.000  orang meninggal dunia. 

 Tentu saja aku sedih dengan musibah itu.  Aku teringat keluargaku di Sawahlunto, 90 kilometer dari Kota Padang. Segera saja aku mengajukan diri untuk meliput gempa itu di Padang. Selain liputan, aku juga beralasan untuk menengok keluarga di Sawahlunto. Walaupun Sawahlunto tak terdampak gempa, tapi aku tetap khawatir dengan keluarga disana.

Terkait

Saat aku sampai di Kota Padang beberapa hari setelah gempa, kota itu masih luluh lantak. Banyak bangunan hancur. Malam hari jalan-jalan gelap dan sepi. Transportasi umum masih jarang.

Aku menyaksikan Hotel Ambacang yang roboh.  Disitu diperkirakan paling banyak warga meninggal. Puluhan mayat masih tertimbun di reruntuhan.  Bau anyir mayat menyengat sampai kejauhan.  Tak terbayangkan, beberapa bulan sebelum gempa, aku sempat menginap di hotel itu.

 
Saat aku sampai di Kota Padang beberapa hari setelah gempa, kota itu masih luluh lantak. Banyak bangunan hancur. Malam hari jalan-jalan gelap dan sepi. Transportasi umum masih jarang.
 
 

Selain melakukan liputan di lapangan, aku berencana mewawancarai Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.   Gamawan adalah narasumbar kunci untuk mendapatkan  informasi penanganan gempa.

Siang itu aku menuju  rumah dinas gubernur di Jalan Sudirman. Rumah itu juga dijadikan posko penanggulangan bencana. Suasana ramai. Orang-orang lalu lalang,  tim SAR, relawan,  petugas medis, polisi, tentara, juga wartawan.

Kesempatan untuk mewawancarai  gubernur sangat terbatas. Gamawan terlihat sibuk berkoordinasi dan menerima tamu-tamu.

Tapi aku sabar menunggu. Dari ajudan gubernur aku dapat informasi bahwa  Gamawan bersiap-siap  berangkat ke bandara. Dia akan menjemput menteri yang melakukan peninjauan ke Sumbar.

Aku tunggu Gamawan di pintu keluar. Aku akan melakukan doorstop saat dia keluar nanti.  Doorstop  adalah wawancara dengan cara  mencegat nara sumber. Biasanya saat dia keluar pintu ruangan.

Tak lama menunggu,  Gamawan keluar diikuti oleh sejumlah pejabat Pemprov Sumbar. Deretan mobil sudah bersiap di luar. 

Begitu  berada di depannya, langsung aku ajukan pertanyaan. Sambil memperkenalkan, aku wartawan Republika dari Jakarta.

 
Selesai menulis berita aku bersiap kembali ke  Kota Padang. Jaraknya sekitar 30 km dari bandara. Tapi  suasana sudah sepi. Aku bingung naik apa? 
 
 

“Wah saya tak ada waktu. Mau ke bandara, ” jawab Gamawan sambil tetap berjalan. “Sebentar saja Pak. Sudah jauh-jauh  datang dari Jakarta nih,” pintaku sambil menahan jalannya.

Dia diam sejenak. “Ayo naik ke mobil saya. Kita ngobrol di dalam mobil,”  tak disangka dia malah mengajakku ikut ke bandara.

Tentu saja aku girang. Segera saja aku ikuti langkah Gamawan ke dalam mobilnya.  Rombongan bergerak  ke bandara.

Aku mewawancarai Gamawan  sendiri di mobilnya sepanjang perjalanan ke bandara.  Bertanya tentang situasi terakhir gempa Sumbar dan langkah-langkah yang sudah dan akan diambil oleh Pemprov Sumbar.

Kami juga ngobrol soal situasi politik terakhir. Soal isu dia yang  akan dijadikan menteri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Belakangan Gamawan memang diangkat jadi menteri dalam negeri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

 Tak terasa mobil sudah sampai di parkiran gedung ruang tunggu  VIP bandara Internasional Minangkabau. Gamawan sudah ditunggu disana.

 Aku segera pamit dan berterima kasih. Tapi aku tak segera kembali ke Padang.   Bertahan di ruang tunggu,  menulis berita. 

Selesai menulis berita aku bersiap kembali ke  Kota Padang. Jaraknya sekitar 30 km dari bandara. Tapi suasana sudah sepi. Aku bingung naik apa? Kulihat di parkiran sudah tak ada lagi kendaraan. Rombongan gubernur sudah berangkat bersama tamu-tamunya dari Jakarta.

Hanya satu bus  wisata yang masih tersisa di parkiran. Aku lihat bus itu berisi orang-orang Jepang.  Jelas mereka bukan wisatawan. Mungkin rombongan yang akan membantu pemulihan gempa Sumbar. Pasti mereka akan menuju ke Kota Padang. Tanpa berpikir panjang aku ikut naik.  

Aku tak kebagian tempat duduk. Terpaksa berdiri. Bus melaju meninggalkan areal bandara.  Sambil berdiri aku masih memikirkan rencana liputan berikutnya. Tak lama bus berjalan seorang pemandu wisata mengabsen isi penumpang. Satu-satu dipanggil, sampai orang terakhir. Dia memandangiku.  

“Namanya  koq tidak ada Bang ?” tanyanya.

“Maaf saya bukan anggota rombongan, “ jawabku.

“Koq bisa naik bus ini ?”

“Maaf tadi saya habis wawancara gubernur dan sekarang  mau kembali ke Padang.”

“Tapi bus ini tidak ke Padang,” kata si pemandu, yang membuatku terkejut.

 Aku memandang keluar. Ternyata memang bukan arah ke Kota Padang. Arah jalan yang dilalui  bus ini justeru menjauhi Kota Padang. Sudah jauh sekali.  Aku tak memperhatikan tadi karena sibuk memikirkan  liputan.

“Kita mau ke Padang Pariaman, ” lanjut si pemandu wisata.

 Sang sopir menyadari ada satu penyusup di dalam busnya. Si pemandu berbicara ke sopir dalam bahasa Minang. Kebetulan aku tahu artinya.  Tapi aku pura-pura tidak mengerti. 

Si sopir  mempertanyakan kenapa aku bisa masuk ke dalam bus.  Katanya kan berbahaya kalau ada orang tak dikenal di rombongan tamu dari Jepang. Rombongan Jepang itu tentu tak mau ada orang asing menyusup ke bus mereka.

Seorang anggota rombongan Jepang mendekatiku. Dia bicara bahasa Jepang yang aku tak tahu artinya. Aku ajak berbicara bahasa Inggris, tapi dia tetap saja memakai bahasa Jepang. Anggota  rombongan yang lainnya terdengar ikut bicara. Sepertinya mereka mempertanyakan aku yang ikut rombongan tanpa izin. Semua mata menatapku dengan sinis.  Ada yang menunjuk-nunjuk. Mungkin mereka minta aku turun. Suasana makin riuh. 

“Turun disiko se Da (turun disini saja Kak) ,” kataku.

Si sopir dan pemandu wisata kaget,  karena ternyata aku bisa berbahasa Minang.  Segera saja bus berhenti. Penumpang masih ramai bicara satu sama lain.

Aku tak pedulikan seisi bis yang memandang kesal ke arahku.  Aku turun. Selanjutnya  susah payah mencari angkutan kembali ke Kota Padang. #

Tips melakukan doorstop

- Tunggu  narasumber di pintu masuk atau keluar 

- Waspada dengan narasumber yang mengecoh dengan keluar atau masuk di pintu lain

- Rencanakan pertanyaan yang akan diajukan

- Jangan menyampaikan pertanyaan panjang

- Dalam kondisi waktu sempit  ajukan pertanyaan dimana narasumber cukup menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ saja 

- Ajukan pertanyaan yang membuat narasumber terpaksa harus menjawab

- Jika ada pertanyan yang sensitif atau ekslusif lakukan //doorstop// sendiri

 

 


,
×