Hikmah Republika Hari ini | Republika
28 Sep 2020, 03:30 WIB

Berkatalah yang Baik

Memerintahkan untuk berkata dalam hal yang baik-baik dan diam untuk hal yang buruk.

 

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam." (HR Muslim no 222). Dalam hadis ini, Nabi SAW mengaitkan antara berkata baik dengan keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir.

Hal ini disebabkan penjagaan terhadap lisan, mempergunakannya untuk ucapan-ucapan yang baik dan diam untuk ucapan yang buruk, adalah salah satu tanda dari keimanan.

Terkait

Sesuatu yang paling berat bagi lisan adalah menjaganya, sebagaimana hadis terkenal yang datang dari Mu'az RA, ketika beliau bertanya kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah apakah kami akan disiksa karena perkataan yang kami ucapkan?" Beliau SAW menjawab, "Celaka engkau wahai Mu'az, bukankah manusia telungkup di atas hidungnya atau di atas wajahnya di neraka disebabkan perbuatan lisannya?"

Hal ini menunjukkan bahaya lidah tak bertulang, mudah mengucapkan kata, tapi jika tidak digunakan dalam kebaikan bisa menjadi senjata makan tuan. Ini memberi isyarat bahwa seseorang yang ingin berbicara sesuatu hendaknya dia pikir-pikir dahulu.

Jika terlihat tidak ada bahaya yang ditimbulkan, ia boleh berbicara. Namun, jika ada tanda-tanda bahaya atau dia ragu-ragu, sebaiknya dia diam. Dengan kata lain memerintahkan untuk berbicara dalam hal yang baik-baik dan diam untuk hal yang buruk.

Perkataan yang baik mencakup berkata untuk dirinya sendiri dan berkata baik untuk orang lain. Berkata baik untuk dirinya sendiri ketika seseorang berzikir kepada Allah, bertasbih kepada-Nya, memuji-Nya, termasuk juga membaca Alquran, mengajarkan ilmu, serta amar makruf nahi mungkar, maka ini semua menjadi kebaikan untuknya. Adapun berkata baik kepada orang lain itu berupa perkataan yang membuat senang teman duduknya, meskipun belum tentu baik untuk dirinya sendiri.

Termasuk dalam menjaga tulisan. Saat ini, begitu mudah kita menorehkan kata, dalam pesan singkat (SMS), Whatsapp, forum, blog, jejaring sosial, dan kolom komentar di situs berita daring menjadi media utama sebagai ganti ucapan lisan, sejatinya tetap terjaga dalam kerangka saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran (QS al-Ashr [103]: 3).

Sahabat Ali bin Abi Thalib RA memberi nasihat, "Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang bermanfaat" dan "Seseorang mati karena tersandung lidahnya, dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya. Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan." Wallahu a'lam.


,
×