Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
22 Sep 2020, 05:00 WIB

Muhammad Asad, Risalah Alquran, dan Dunia Melayu (II)

Sebagai pengembara, Asad berkelana di India dan negara sekitarnya selama 15 tahun.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pemandangan kontras diamatinya ketika suatu hari naik kereta api bawah tanah di Berlin bersama istri Jermannya, Elsa Schiemann (wafat tahun 1927 di Makkah). Para penumpang yang cukup makan dengan pakaian bagus, tetapi di wajahnya tersirat ketidakbahagiaan.

Mengapa demikian, sekalipun mereka hidup dalam suasana kemajuan material yang melimpah? Jawaban datang setelah Asad kembali ke rumah petak tempat tinggalnya. Dia melirik sekilas pada Alquran surah al-Takasur (102) yang sedang dibacanya, (Ibid.).

Terjemahannya dalam bahasa Melayu dari Risalah al-Qur’an sebagai berikut: (1) Kamu dikuasai sifat loba untuk mendapat habuan yang lebih dan lebih lagi (2) sehingga kamu terhumban ke kuburmu (3) Jangan, kelak kamu akan mengetahui! (4) Dan sekali lagi: Jangan, kelak kamu akan mengetahui! (5) Jangan, jika kamu dapat mengetahui [nya] dengan pengetahuan yang [berasal] daripada keyakinan, (6) niscaya kamu, benar-benar akan, melihat api yang menjulang [dari neraka]!

Terkait

(7) Kemudian sesungguhnya, kamu benar-benar, pasti melihatnya dengan penglihatan yang yakin: (8) Dan pada hari itu kamu pasti akan ditanya tentang [apa yang kamu perbuat dengan] nikmat kehidupan! (Lih. Muhammad Asad, Risalah al-Qur’an-The Message of the Qur’an, Juz 30, terj. Ahmad Nabil Amir. Kuala Lumpur: Islamic Renaisance Front Berhad, 2012, hlm. 97-98.

 
Di negara inilah pada 1934, ia bertemu dan berkenalan dengan Muhammad Iqbal (1877-1938), yang kemudian mengubah jalan hidupnya yang tak kurang dramatisnya.
 
 

Ayat-ayat dalam surah al-Takasur ini, jawaban yang dicari Asad. Asad menulis: “Untuk sesaat saya membisu. Saya pikir, kitab itu (Alquran) bergetar di tanganku. Kemudian saya berikan kepada Elsa. ‘Baca ini. Bukankah itu jawaban apa yang kita saksikan di atas kereta api bawah tanah?’ Sebuah jawaban yang begitu memberi kata putus sehingga semua keraguan tiba-tiba lenyap sudah. Saya tahu sekarang, tanpa ragu, ia sebuah kitab yang diwahyukan Allah yang terpegang di tangan saya. Karena sekalipun telah ditempatkan di depan manusia selama lebih daripada 13 abad yang silam, ia dengan gamblang telah memperkirakan sesuatu yang hanya telah menjadi kenyataan di abad kita yang ruwet, serba mesin, sarat dengan ilusi.” (Asad, op.cit.).

Setelah memeluk Islam, Asad menulis, “Islam tampak bagi saya ibarat karya arsitektur sempurna. Seluruh bagiannya tersusun harmonis, saling melengkapi dan mendukung; tak satu pun yang sia-sia dan tak satu pun yang kurang; dan hasilnya sebuah struktur keseimbangan yang mutlak dan kedamaian yang kuat.” (Ibid.).

Pengetahuan Asad tentang Islam, bahasa Arab, sunah Nabi, dan sejarah Islam, selama sekitar enam tahun tinggal di Makkah, Madinah, dan Kairo semakin lengkap, luas, dan mendalam. Penguasa Arab Saudi memberi fasilitas kepadanya selama tinggal di sana.

Ia pernah belajar pada Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi (1881-1945), mufasir Mesir dan pernah menjabat rektor Universitas al-Azhar. Pada 1932, Asad mengawini gadis Madinah dari Suku Shammar: Munira Hussein al-Shammari (wafat 1978).

Asad dikaruniai anak tunggal, Talal Asad, yang lahir pada 1933. Profesor Talal kemudian dikenal sebagai pakar antropologi pada the Cuny Graduate Center dari the City University of New York.

Sebagai pengembara, Asad berkelana di India dan negara sekitarnya selama 15 tahun. Di negara inilah pada 1934, ia bertemu dan berkenalan dengan Muhammad Iqbal (1877-1938), yang kemudian mengubah jalan hidupnya yang tak kurang dramatisnya.

Iqbal membujuk Asad tak terus berkelana, tetapi menetap di India “to help elucidate the Intellectual premises of the future Islamic State.” (Lih. M Ikram Chaghatai, “Muhammad Asad-The First Citizen of Pakistan” dalam http:www.allamaiqbal.com/publications/journal/review/aproct09/9.htm., hlm. 1).

Untuk mewujudkan gagasan ini, Asad menggunakan seluruh kemampuan intelektualnya. Sayang, Iqbal terlalu cepat wafat, sembilan tahun sebelum Pakistan muncul sebagai negara baru pada Mei 1947, sebagai pecahan dari negeri induk India.

Selama beberapa tahun setelah Pakistan terbentuk, Asad diberi posisi penting, seperti awal 1952 sebagai wakil Pakistan di PBB. Namun, pada akhir tahun itu, ia mundur lalu mengawini Pola Hamida (wafat 2007), Muslimah Amerika keturunan Polandia, setelah lebih dulu menceraikan istri Arabnya, Munira.

Pernikahannya dengan Pola tak disetujui Kementerian Luar Negeri Pakistan. Tampaknya inilah salah satu alasan Asad mengundurkan diri.

Dengan Pola, Asad hidup bersama di Tangier, Moroko, selama 19 tahun (1964-1983). Kemudian pindah lagi ke Mijas (Spanyol) sampai wafatnya pada 20 Februari 1992 dan dimakamkan di pemakaman Muslim di Granada, Andalusia.

Sekalipun kecewa dengan politik di Pakistan, Asad tetap mencintai negara ini dan masih punya kontak dengan para elitenya. Pada 1983 diundang Presiden Zia ul-Haq (Ibid). Ini kunjungan terakhir Asad ke negara yang salah seorang arsiteknya adalah dirinya sendiri. 


,
×