Sosok Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tak hanya dikenang sebagai pahlawan Islam yang telah membebaskan Masjid al-Aqsha dari tangan Salibis, tetapi juga peletak dasar Dinasti Ayyubiyah | DOK WIKIPEDIA
13 Sep 2020, 07:58 WIB

Sultan Shalahuddin dan Riwayat Dinasti Pembebas Tanah Suci

Dinasti yang berhaluan Sunni ini mengawali tonggak sejarahnya dari Mesir.

OLEH HASANUL RIZQA

Dinasti Ayyubiyah dirintis sang pembebas Yerusalem, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Meskipun tak berumur "lama", kekhilafahan itu berjasa besar dalam menangkal Pasukan Salib dari dunia Islam. Jejak pencapaiannya terasa hingga Eropa.

Awal Mula Dinasti Saladin

Dinasti Ayyubiyah mungkin tidak berumur panjang, seperti dinasti-dinasti lainnya yang melampaui satu abad. Bagaimanapun, trah yang memerintah selama 89 tahun itu meninggalkan banyak pencapaian, khususnya dalam bidang pertahanan. Sebagai contoh, kekuatan militer Bani Ayyubiyah dapat membendung Pasukan Salib yang berupaya merebut Yerusalem dari pangkuan Islam.

Terkait

Nama rezim yang berhaluan Sunni itu berasal dari sosok pendirinya, Shalahuddin Yusuf bin Ayyub atau Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193). Orang Eropa Barat menyebutnya Sultan Saladin. Ia merupakan putra Najmuddin Ayyub bin Syadzi, seorang panglima suku Rawadiyah yang mengendalikan Kota Dabil—kini wilayah negara Armenia. Pembentukan Dinasti Ayyubiyah pun tak lepas dari sepak terjang tokoh berkebangsaan Kurdi itu.

Setelah sekian lama, orang-orang Turki akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan elite Rawadiyah di Dabil. Syadzi lantas memboyong keluarganya untuk hijrah dari kota tersebut. Ia membawa serta kedua anaknya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Syirkuh.

Syadzi berkawan dengan seorang pemimpin militer yang mengabdi kepada Dinasti Seljuk di Irak Utara, Mujahid ad-Din Bihruz. Syadzi tidak hanya disambut secara hangat, tetapi juga diberikan posisi sebagai gubernur Tikrit.

Najmuddin Ayyub meneruskan jabatan tersebut sesudah ayahandanya meninggal dunia beberapa tahun kemudian. Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu saudaranya, Syirkuh. Keduanya menjadi pemimpin yang dicintai rakyat.

photo
Tentara pasukan Sultan Shalahuddin dalam sebuah manuskrip Prancis tahun 1337 - (Wikipedia)

Sementara itu, pergolakan antara Dinasti Seljuk dan Dinasti Abbasiyah terus berlangsung. Imaduddin Zengi menderita kekalahan dari pasukan aliansi Khalifah Abbasiyah al-Mustarshid dan Bihruz. Mendengar kabar tersebut, Ayyub segera mengirim utusan untuk membantu pemimpin berdarah Oghuz Turki itu agar bisa lolos dari medan pertempuran. Setelah bersusah payah, Zengi dan pengikutnya sampai di Tikrit. Dari sana, mereka difasilitasi untuk dapat menyeberangi Sungai Tigris hingga tiba dengan selamat di Mosul.

Pada saat yang bersamaan, orang kepercayaan Bihruz dihukum mati di Tikrit. Syirkuh merestui eksekusi itu karena terdakwa dinilai bersalah telah berbuat asusila terhadap seorang perempuan Tikrit. Penguasa Bani Abbasiyah begitu murka menerima dua berita yang mengejutkan tersebut. Al-Mustarshid mengumumkan perang terhadap Tikrit.

Sebelum pasukan Abbasiyah mendekati Tikrit, Ayyub dan Syirkuh telah berangkat menuju Mosul. Pada 1138, Zengi menerima kakak beradik itu dengan penuh penghormatan. Ayyub diangkat menjadi gubernur Ba’albek, sedangkan Syirkuh menjadi rekan putra Zengi, Nuruddin Mahmud Zengi. Sejak saat itu, nama keluarga Ayyubiyah masyhur di seluruh Irak dan kawasan Asia Barat umumnya.

Sukses di Mesir

Pada 1164, atas perintah Nuruddin, Syirkuh memimpin ekspedisi militer untuk mencegah Pasukan Salib yang hendak merebut Mesir. Negeri Piramida waktu itu sedang dalam kekacauan karena pertarungan elite Dinasti Fatimiyah.

Syirkuh merekrut putra saudaranya, yakni Shalahuddin Yusuf alias Shalahuddin al-Ayyubi. Misi tersebut berakhir dengan sukses. Situasi Mesir kembali stabil.

Syawar bin Mujir as-Sa’adi merebut kekuasaan di sana. Bekas perdana menteri Bani Fatimiyah itu lantas meminta Syirkuh dan balatentaranya agar pergi. Syirkuh menolak permintaan itu karena merasa Nuruddin memerintahkannya agar tetap berada di Mesir.

Konflik terbuka pun pecah antara kedua belah pihak. Pada 1169, Syawar tewas dibunuh. Hanya berselang bulan kemudian, Syirkuh juga menemui ajalnya.

Shalahuddin al-Ayyubi kemudian diangkat menjadi wazir oleh Sultan Fatimiyah, al-Adid. Lama kelamaan, pengaruh putra Najmuddin Ayyub itu semakin besar tidak hanya di Iskandariah tempatnya bertugas, melainkan juga seluruh Mesir. Malahan, mayoritas bekas tentara Syirkuh mendaulat dirinya sebagai pemimpin. Hal itu menyulut kekhawatiran Nuruddin Zengi.

Nuruddin berupaya memecah belah keluarga Ayyub dengan mengirimkan kakak Shalahuddin, Turan-Shah, ke Mesir. Namun, upaya itu tidak sesuai harapannya. Nuruddin lantas mendesak Shalahuddin agar memproklamasikan Mesir sebagai bagian dari Kekhilafahan Abbasiyah. Namun, imbauan itu tidak dituruti Shalahuddin karena dirinya merasa masih sebagai bagian dari rezim Fatimiyah. Usaha untuk menyulut perebutan kekuasaan di sana pun menemui kegagalan.

Alih-alih bersaing dengan Shalahuddin, Turan-Shah justru bersedia membantu adiknya itu. Turan-Shah bahkan menuruti permintaan untuk ikut memadamkan pemberontakan 50 ribu resimen angkatan bersenjata Fatimiyah di Kairo.

Misi tersebut berhasil dengan gemilang. Nama keluarga Ayyub semakin populer di tengah masyarakat setempat. Dengan kematian al-Adid pada 1171, Mesir pun mengalami kevakuman. Shalahuddin memanfaatkan keadaan itu untuk merebut kekuasaan secara penuh atas negeri delta Sungai Nil tersebut.

 
Shalahuddin memanfaatkan keadaan itu untuk merebut kekuasaan secara penuh atas negeri delta Sungai Nil tersebut.
 
 

 

Berakhirlah sudah riwayat Dinasti Fatimiyah. Sejak saat itu, dimulailah babak baru dalam sejarah Mesir dan Timur Tengah umumnya, yakni Dinasti Ayyubiyah. Shalahuddin mengubah negeri yang tadinya didominasi Syiah itu menjadi berhaluan Sunni. Ia juga membuka aliansi dengan Kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Meskipun berhasil menjadi orang nomor satu di Mesir dengan dukungan mayoritas masyarakat dan elite, Shalahuddin al-Ayyubi masih menemui kendala. Pemerintahan yang telah dibentuknya tidak memiliki banyak dana. Ia lantas mengadakan pertemuan para amir dari trah Ayyubiyah.

Forum tersebut memutuskan dukungan terhadap al-Muzaffar Taqiuddin Umar—keponakan Shalahuddin—yang berinisiatif untuk memperluas wilayah Dinasti Ayyubiyah hingga ke luar Mesir.

Ekspansi wilayah

Ekspedisi militer pertama menarget wilayah Kirenaika, sebuah provinsi Romawi Kuno di sebelah barat Mesir (kini Libya). Untuk melegitimasi misi tersebut, al-Muzaffar berkirim surat kepada kepala suku Barqa yang kerap berbuat onar di jalur pesisir Afrika Utara. Pertempuran tidak sampai terjadi karena orang-orang suku badui (bedouin) itu berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya dan bersedia membayar zakat.

Pada akhir 1172, pasukan Ayyubiyah yang dikomandoi Turan-Shah juga bergerak ke selatan Mesir, tepatnya Nubia (kini Sudan). Namun, sesampainya di Aswan mereka mendapatkan berita bahwa daerah tersebut berpenduduk miskin dan tidak banyak sumber daya alam yang dapat diperoleh.

Oleh karena itu, Turan-Shah hanya mengadakan perjanjian dengan raja Nubia, yang akhirnya menyanggupi tidak akan mengusik wilayah Aswan dan Mesir umumnya.

Dua tahun kemudian, kekuasaan Dinasti Ayyubiyah tidak hanya meliputi sebagian Afrika Utara, tetapi juga pesisir barat Jazirah Arab, termasuk Yaman dan Hijaz. Ketangguhan militer Ayyubiyah terbukti tidak hanya melalui berbagai kesuksesan misi perluasan wilayah, melainkan juga kemampuannya dalam menghalau Pasukan Salib.

Sejak saat itu, kontrol atas jalur perniagaan maritim di Laut Merah sepenuhnya berada di tangan dinasti tersebut. Ayyubiyah juga berhak mengeklaim titel khilafah karena sudah menguasai dua kota suci, Makkah dan Madinah.

 
Ayyubiyah juga berhak mengeklaim titel khilafah karena sudah menguasai dua kota suci, Makkah dan Madinah.
 
 

Pada 1174, Nuruddin Zengi meninggal dunia. Kekosongan pemimpin pun terjadi di Syam (Suriah dan sekitarnya). Agar daerah tersebut tidak jatuh ke tangan Pasukan Salib, Shalahuddin bertekad untuk menguasainya terlebih dahulu. Ia berhasil merebut Hama dan Homs, tetapi gagal mengambil alih Halab (Aleppo) meskipun sudah mengepung benteng pertahanan kota tersebut. Kendali atas Hama diserahkannya kepada al-Muzaffar, sedangkan Homs kepada Syirkuh.

Sisa-sisa kekuatan Dinasti Zengi di Syam berupaya menyerang pasukan Ayyubiyah, tetapi berakhir gagal. Sejak saat itu, Shalahuddin mulai diakui sebagai “Sultan Mesir dan Syam”. Munculnya dominasi Ayyubiyah di bekas wilayah Zengi disambut gembira Dinasti Abbasiyah. Sebab, hal itu menandakan tegaknya kekuasaan Sunni di Jazirah Arab dan sekitarnya.

Pada 1176, pasukan Ayyubiyah memblokade benteng Halab untuk kedua kalinya. Usaha ini tidak berhasil menembus kota tersebut. Namun, gubernur Halab Gumushtigin kemudian mengakui kekuasaan Ayyubiyah atas seluruh Syam. Pengakuan itu dibalas Shalahuddin dengan mengizinkan Gumushtigin, bersama as-Salih al-Malik—putra Nuruddin Zengi—untuk terus memerintah Halab sebagai daerah bawahan Ayyubiyah.

Sebagai khalifah, Shalahuddin berkomitmen melindungi kedaulatan Islam dari Pasukan Salib. Oleh karena itu, ia bertekad tidak hanya mengamankan seluruh Syam, tetapi juga membebaskan Yerusalem. Sejak 15 Juli 1099, kaum Salibis mencaplok kota suci ketiga umat Islam itu dan membentuk negara baru bernama Kerajaan Latin Yerusalem. Selama berkuasa, mereka telah membantai dan mempersekusi orang-orang Islam dan Yahudi setempat.

 
Sebagai khalifah, Shalahuddin berkomitmen melindungi kedaulatan Islam dari Pasukan Salib.
 
 

Pada 1177, tentara Latin Yerusalem berusaha menyerang Harem, sebuah kota di sisi barat Halab. Shalahuddin memimpin sebanyak 26 ribu tentara untuk mengadangnya. Dalam pertempuran di Montgisard, kaki Gunung Judea, pasukan Ayyubiyah mengalami kekalahan.

Shalahuddin memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk mundur teratur. Sebuah markas sementara didirikannya di Homs setahun kemudian. Hingga tahun 1180-an, ia terus mengonsolidasi kekuatan Ayyubiyah di seluruh Syam untuk mengunci pergerakan kaum Salibis.

photo
Masjid al-Aqsha akhirnya dapat kembali ke pangkuan Islam sejak lebih dari 80 tahun lamanya dikuasai Pasukan Salib. Hal itu lantaran kemenangan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukannya dalam Perang Hattin tahun 1187 - (DOK PXHERE)
 

Pertempuran yang Menentukan

Setelah 88 tahun dikuasai kaum Salibis, Yerusalem akhirnya kembali berada di pangkuan Islam. Peristiwa penting itu terjadi pada 2 Oktober 1187, bertepatan dengan Ramadhan tahun 584 Hijriyah.

Sebelumnya, tiga bulan lamanya pasukan Muslimin yang dipimpin Shalahuddin al-Ayyubi berjibaku dalam Perang Hattin. Di ajang tersebut, Dinasti Ayyubiyah menghadapi koalisi Kristen yang terdiri atas Kerajaan Latin Yerusalem, Pasukan Templar, dan Negara Tripoli.

Pembebasan Yerusalem yang dilakukan di bawah komando Sultan Shalahuddin sungguh kontras dengan cara Pasukan Salib merebut kota suci itu pada 1099 lalu. Sebab, tidak ada nyawa orang-orang sipil yang melayang. Bahkan, pemimpin Muslim itu dengan bijaksana membebaskan kaum Kristen dari persekusi. Mereka diperbolehkan untuk kembali ke Eropa dengan selamat.

 
Pemimpin Muslim itu dengan bijaksana membebaskan kaum Kristen dari persekusi. Mereka dibolehkan kembali ke Eropa dengan selamat.
 
 

Tidak ada balas dendam, apalagi pembantaian. Dahulu, tak kurang dari 40 ribu Pasukan Salib yang dipimpin Peter The Hermit menyerbu tanah suci Palestina dengan semangat fanatisme agama yang membabi buta.

Begitu menduduki Yerusalem, mereka dengan biadab menghabisi nyawa penduduknya yang beragama Islam dan Yahudi, bahkan juga Kristen (Ortodoks). Kekejaman tentara Salib itu digambarkan melebihi Jenghis Khan dan Hulagu Khan ketika melibas Kekhalifahan Abassiyah dan merampok seisi Baghdad.

Karen Armstrong dalam bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World (1988) menjelaskan, Sultan Shalahuddin dan pasukannya merebut kembali Yerusalem tanpa memaksa orang-orang Kristen setempat untuk berpindah agama. Hak milik mereka juga tidak dirampas. Bahkan, keselamatan nyawa dan harta mereka dilindungi.

“Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan akibat keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Dan, ia pun membebaskan banyak dari mereka, sesuai imbauan Alquran,” papar Armstrong.

Kebijaksanaan sang khalifah Islam pun membuat banyak orang Nasrani yang masih bertahan di Yerusalem berdecak kagum. Dikisahkan, seorang lelaki tua penganut Kristen sempat bertanya kepada Shalahuddin, “Mengapa Tuan tidak membalas kekerasan yang telah dilakukan musuh-musuhmu?”

“Islam bukanlah agama pendendam, bahkan Islam mencegah perbuatan yang tidak berperikemanusiaan. Agama ini menyuruh manusia untuk menepati janjinya, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf, dan melupakan kekejaman musuh ketika berkuasa walaupun musuh itu telah menindas umat Islam,” jawab penguasa Muslim itu.

 
Islam bukanlah agama pendendam, bahkan Islam mencegah perbuatan yang tidak berperikemanusiaan.
 
 

Kemenangan Islam dalam Perang Hattin juga ditopang strategi yang jitu. Sultan Shalahuddin sengaja memancing Pasukan Salib ke Lembah Hattin. Padahal, bekal mereka untuk menempuh perjalanan panjang itu tidak didukung kesiapan logistik. Banyak tentara yang kemudian mati sebelum tiba di medan pertempuran karena kehausan atau sakit.

Sesampainya di lembah tersebut, Pasukan Salib menghadapi serangan mendadak dari para pemanah Muslim. Tak kurang dari 10 ribu tentara Kristen binasa karenanya. Dalam kondisi bingung dan lemah, mereka dapat dikalahkan dengan mudah oleh pasukan Ayyubiyah.


×