Petugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada relawan saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8). | M Agung Rajasa/ANTARA FOTO

Nasional

Tim Percepatan Vaksin Dibentuk

Dengan masa kerja yang singkat, tim percepatan vaksin harus dapat bersinergi

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo membentuk Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan Ketua Tim Pengarah adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sususnan Timnas Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2020 yang ditetapkan pada 3 September 2020.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyatakan, dengan masa kerja yang singkat tim tersebut harus betul-betul dapat bersinergi. "Seluruh komponen harus dapat bekerja dan mensinergikan waktu yang tidak panjang dan betul-betul harus menyelesaikan tugas pada akhir 2021," kata dia dalam konferensi pers virtual di Jakarta, kemarin.

Tim Pengembangan Vaksin Covid-19 memiliki 4 tujuan, yaitu melakukan percepatan pengembangan vaksin Covid di Indonesia; mewujudkan ketahanan nasional dan kemandirian bangsa dalam pengembangan vaksin Covid; meningkatkan sinergi penelitian dalam pengembangan vaksin Covi-l9; dan melakukan penyiapan, pendayagunaan dan peningkatan kapasitas, serta kemampuan nasional dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Tim Pengembangan Vaksin Covid-19 akan melaksanakan tugas sejak Keppres ditetapkan sampai 31 Desember 2021. Setelah tugas tim tersebut berakhir, kegiatan selanjutnya menjadi tanggung jawab Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Anggaran vaksin 

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 280 miliar untuk pengembangan vaksin Merah Putih untuk Covid-19. Vaksin tersebut digadang sebafai produk asli Indonesia.

“Targetnya di 2021 kita dukung semua pengembangan Vaksin Merah Putih ini sebesar Rp 280 miliar,” ujar Bambang dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Selasa (8/9).

Lembaga Biologi Molekuler (LBM), Eijkman akan mendapatkan dana sebesar Rp 28,8 miliar. "Eijkman merupakan bagian dari Kemenristek/BRIN, anggaran khusus untuk satker LBM Eijkman dengan total Rp 28,8 miliar," ujar Bambang.

LBM Eijkman ditargetkan pemerintah menjadi lembaga unggulan yang menjadi rujukan nasional biologi molekuler kesehatan kedokteran di Indonesia. Hal tersebut ditargetkan terealisasi pada 2020.

"Juga menangani utamanya penyakit menular di daerah tropis, misalnya malaria, hepatitis, dengue dan lainnya," ujar Bambang.

Bambang mengatakan, saat ini Eijkman masih mengembangkan vaksin Merah Putih untuk Covid-19. Ia menaksir, harganya nanti berkisar di harga 5 dolar AS. "Perkiraan dari Lembaga Eijkman, perkiraan awal 5 dolar AS dosis," ujar Bambang.

Jika berdasarkan kurs nilai tukar rupiah saat ini, yang berada di angka Rp 14.787, berarti harga vaksin Merah Putih sekira Rp 73.935. "Biaya memang masih (belum pasti) karena belum ditemukan secara pasti, harganya masih bergerak," ujar Bambang.

Untuk saat ini, ia memperkirakan Indonesia membutuhkan sekira 500 juta dosis. Karena setiap warga akan divaksin sebanyak dua kali. "Kita asumsikan seluruh penduduk 265 juta orang, maka kalau satu orang butuh dua dosis, maka dibutuhkan sampai 500 juta lebih vaksin," ujar Bambang.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio pada Senin (31/8), mengatakan, rencananya vaksin Merah Putih dapat diproduksi massal pada 2022. “Diharapkan awal tahun 2022 vaksin Merah Putih dapat diproduksi massal,” ujar Amin. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat