Harlah Muslimat NU, Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan hari lahir ke-37 Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Ahad (27/1). Kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah tersebut mengangkat tema | Prayogi | Republika

News

Muslimat NU Gaungkan Moderasi Islam

Oleh Muslimat NU Gaungkan Moderasi Islam

 

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong Muslimat NU untuk menggaungkan Islam yang moderat.Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Hari Lahir (Harlah) ke-73 Muslimat NU di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Ahad (27/1).


"Dan kita ingin Islam moderat, moderasi Islam, terus digaungkan,"kata Jokowi di hadapan anggota Muslimat yang memenuhi stadion nasional berkapasitas 67 ribu kursi penonton tersebut sampai meluber ke lapangan. Jokowi menekankan, ia ingin Muslim Indonesia menunjukkan dan menumbuhkan sikap saling toleran, menghormati, dan menghargai antar masyarakat.

"Tadi sudah disampaikan oleh Ibu Ketua Umum Khofifah Indar Parawansa bahwa Islam yang Aswaja (Ahlussunah waljamaah) yang penuh toleransi, yang penuh dengan moderasi, yang saling menghargai, saling menghormati, itulah semangat yang disampaikan oleh Muslimat NU," kata dia.

 
"Dan kita ingin Islam moderat, moderasi Islam, terus digaungkan".
Joko Widodo, Presiden RI
 



Lebih lanjut, dalam acara ini Presiden juga men doakan agar Muslimat NU di seluruh Tanah Air semakin sejahtera dan maju."Selamat harlah ke-73 Muslimat NU.Semoga Muslimat NU tambah jaya.Diberi barokahdan Indonesia mak mur sejahtera," ucap Jokowi.

Presiden yang didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi tiba di GBK pukul 07.00 WIB.Ia mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam serta sarung dan kopiah, sedangkan Iriana mengenakan kerudung dan baju putih.

Acara ini dihadiri oleh ribuan jamaah NU dari berbagai daerah.Usai menyanyikan lagu ke bangsaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran.

Dalam acara ini, Presiden tampak didampingi oleh sejumlah pejabat seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menko Polhukam Wiranto, Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Kepala KSP Moeldoko.Hadir pula Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya juga mengajak Muslimat NU untuk menjaga persatuan, merawat, dan menjaga persaudaraan antara saudara sebangsa dan se-Tanah Air. Saya ajak bapak, ibu semuanya, khususnya Muslimat NU untuk bersama-sama menjaga persatuan kita, merawat dan menjaga persaudaraan kita, kerukunan kita, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah kita, jangan sampai perbedaan kita menjadi tidak seperti saudara, padahal ki ta adalah saudara sebangsa setanah air, kata Presiden.

Presiden menitipkan pesan, terlebih saat tahun politik menjelang, perbedaan pilihan politik rentan menjadi hal yang menimbulkan perpecahan.Ia memprihatinkan kondisi saat ini ketika perbedaan pilihan politik justru menjadikan antarsaudara sebangsa dan setanah air saling mencela dan menghina satu sama lain.Jangan seperti itu.Jangan saling mencela.Boleh tidak saling mencela, saling menghina, saling mengejek, menyebarkan hoaks? Kita ini adalah saudara sebangsa setanah air, katanya.

Presiden pada kesempatan itu menyapa anggota Muslimat NU yang hadir dari seluruh Tanah Air dengan sapaan singkat dari daerahnya masing-masing. Ada juga yang dari Jawa Barat, sampurasun! Ada juga dari Jawa Tengah, Jawa Timur, sugeng enjing! Ada nggakyang dari Lampung? Tabik pun! Ada nggak yang dari Medan? Horas! Ada yang dari DKI Jakarta, selamat pagi!, kata Presiden disambut jawaban dari Muslimat yang hadir dari daerahnya masing- masing.

Ia menyambut baik begitu banyak dan antusiasnya perwakilan Muslimat yang hadir, bahkan ada yang dari Papua dan Papua Barat.Kehadiran para Muslimat juga dianggap Presiden melambangkan keberagaman Indonesia sebagai negara besar.

Ketua Panitia Pelaksanaan Maulidurrasul dan Harlah ke-73 Muslimat NU Yenni Wahid mengatakan, peringatan kemarin menunjukan kehadiran mayoritas masyarakat bersuara atau noisy majority yang merindukan Islam cinta damai.Kalau ada yang mengatasnamakan umat namun justru mengajarkan ujaran penuh kebencian dan radikalisme maka hari ini menun jukkan bahwa masyarakat merindukan Islam cinta damai, ujarnya.

Dalam acara tersebut juga dilakukan deklarasi anti-hoaks, antifitnah, dan antighibah yang dipimpin oleh Ketua Umum Pim pinan Pusat Muslimat Nahdla tul Ulama Khofifah Indar Para wansa.Deklarasi itu berisi empat poin yang dibacakan oleh Khofifah dan diikuti oleh ratusan ribu anggota Muslimat yang hadir di tempat tersebut.

Poin pertama dari deklarasi ini menekankan pentingnya penolakan pada hoaks, fitnah, dan ghibah yang dapat memicu perpecahan dan perselisihan bangsa, sementara poin kedua menegaskan anggota Muslimat tidak akan membuat dan menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, fitnah, dan ghibah.

Adapun poin ketiga dari deklarasi ini adalah pentingnya membudayakan menyaring berita sebelum menyebar informasi yang diterima, sedangkan poin terakhir mengingatkan tentang perlunya berpikir positif untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan bangsa.Khofifah mengatakan, komitmen ini perlu dipegang mengigat nilai-nilai yang diusung NU berkenaan dengan corak Islam yang mengedepankan toleransi dan moderasi.Untuk membangun toleransi dan moderasi maka di harlah kali ini kami deklarasikan warga Muslimat antihoaks, kata Khofifah.

Pada Momen Harlah Muslimat yang menginjak usia 73 tahun ini, Khofifah juga mengingatkan potensi luar biasa yang dimiliki Muslimat NU sebagai organisasi perempuan yang punya kader berkualitas, berintegritas, dan komitmen yang luar biasa.Kekuatan muslimat NU itu dari kemandiriannya, membangun dari ranting, cabang hingga wilayah, pusat, kata dia.

Khofifah menilai, tema acara kemarin, yakni Jaga Aswaja, Teguhkan Bangsa tak lepas dari nilai toleran dan moderat yang diusung NU.Menurut dia, Indonesia diberi rahmat sebagai bangsa yang beragam baik dari suku, bahasa, tradisi, hingga agama.Namun, perbedaan ini hendaknya disikapi dengan bijak bukan malah menjadi bibit perpecahan antar anak bangsa.

Toleransi dengan yang berbeda jadi bagian yang akan menjadikan kita berlomba-lomba men uju kebaikan dari yang satu kepada yang lain, ucap Khofifah.Dia juga menekankan perlunya memberikan ruang kebebasan berekspresi dan kebebasan berbicara, agar muncul rasa saling menghargai.Kita harus rangkul mereka ke pangkuan ibu pertiwi Indonesia, ujar dia.(antara ed:fitriyan zamzami)

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat