Hikmah Republika Hari ini | Republika
30 Oct 2020, 12:32 WIB

Tsabat di Jalan Dakwah

Aktivitas dakwah hendaknya melekat dalam diri seorang Muslim.

OLEH IMAM NUR SUHARNO

Dakwah adalah kewajiban bagi setiap Muslim, laki-laki dan perempuan. Dakwah merupakan tugas para nabi dan rasul (QS Yusuf [12]: 108), sehingga dakwah ini menjadi aktivitas mulia di hadapan Allah. Apa pun profesi kita, aktivitas dakwah hendaknya melekat dalam diri seorang Muslim dan menjadikan profesi tersebut sebagai sarana dalam dakwah. 

Hal yang hendaknya dipahami oleh setiap juru dakwah (dai), di balik kemuliaan di jalan dakwah, selalu ada rintangan yang menghalangi. Itu merupakan sunatullah dalam kehidupan, pun dalam dakwah. Maka, sikap tsabat hendaknya melekat dalam diri seorang dai.  

“Dan sungguh, Kami akan benar-benar menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad [47]: 31).

Terkait

Berkaitan dengam tsabat, Hasan al-Banna menempatkan tsabat dalam urutan ke tujuh dalam rukun komitmen dalam dakwah. Ia mengatakan, "yang saya kehendaki dengan tsabat (keteguhan) adalah setiap kita (dai) hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang mengantarkan kepada tujuan, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya, sehingga bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, sedangkan ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu meraih kemenangan atau syahid di jalan-Nya."

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS al-Ahzab [33]: 23). 

Lanjut al-Banna, waktu bagi kita adalah bagian dari solusi. Sedangkan jalan yang akan kami tempuh ini lama masanya, panjang tahapannya, dan banyak tantangannya. Namun, dialah satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan dengan janji imbalan yang besar dan pahala yang indah.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104). 

Dalam ayat tersebut, "makruf" adalah segala perbuatan (aktivitas) yang mendekatkan seseorang kepada Allah; sedangkan "mungkar" ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari-Nya. Dan, dakwah sebagai aktivitas yang mengajak kepada yang makruf dan mencegah hal yang mungkar.

Setiap sarana dalam dakwah membutuhkan kesiapan yang matang, penetapan waktu yang tepat, dan pelaksanaan yang cermat. Semua itu sangat dipengaruhi oleh waktu. Maka, tatkala mereka berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.” (QS al-Isra [17]: 51).

Semoga Allah mengokohkan langkah para dai agar dapat menghadapi segala macam rintangan dalam dakwah. Amin.


,
×