Ilustrasi niaga elektronik | Pixabay
27 Oct 2020, 04:01 WIB

Permulus Distribusi dengan Sentuhan Teknologi

Banyak hambatan yang ditemui para pengusaha UMKM dalam proses mengadopsi teknologi digital. 

Menekuni sektor ritel memiliki banyak tantangan dan peluang. Salah satunya, adalah tantangan operasional dan logistik keseharian yang terkait dengan durasi kerja. 

Saat ini, para pengusaha usaha mikro kecil menengah (UMKM) memulai hari sangat dini. Hal ini perlu dilakukan karena jarak tempuh ke pasar perlu diperhitungkan dengan matang. Menempuh jarak ke pasar juga krusial dilakukan, guna mendapatkan harga lebih murah.

Tidak hanya itu saja, proses distribusi yang dihadapi para pelaku UMKM juga cenderung panjang dan melewati beberapa tangan. Ujungnya, adalah harga yang didapat, belum tentu yang terbaik. 

Saat ini, Chilimart hadir untuk menjadi solusi yang dirancang khusus bagi pelaku bisnis UMKM yang terdiri dari pemilik warung, warteg, tukang sayur, restoran, dan lainnya. Mitra Chilimart pada umumnya memesan produk dalam jumlah besar dengan volume tinggi sehingga mendapatkan harga murah. 

Terkait

Degan begitu, diharapkan pemilik usaha juga dapat meraih margin lebih tinggi. Commercial Manager B2B Chilimart, Novel Leonardo mengungkapkan, Chilimart memiliki banyak rencana terkait pemberdayaan UMKM. 

Namun, pihaknya akan fokus pada prioritas utama. Yakni, bagaimana Chilimart bisa membantu dalam pengadaan barang yang cepat dan optimal. 

Dari sisi ini, menurut Novel, jelas Chilimart bisa memaksimalkan penjualan dan pendapatan dari para pelaku usaha. “Di samping itu akan diadakan pelatihan UMKM dalam memaksimalkan penjualan dan kualitas usaha, seperti barang yang dijual, letak dan visualisasi toko atau barang, akan tetapi di tengah pandemi ini kami sedang membicarakan skema pelatihan yang tepat dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ada,” ujar Novel, beberapa waktu yang lalu.

Atasi Hambatan

Terjun memperkenalkan teknologi ke para pelaku UMKM, diakui Novel, ternyata menyimpan banyak tantangan. Salah satunya, saat ini literasi digital menjadi salah satu tantangan di lapangan, khususnya bagi para pengusaha yang baru mengadopsi penggunaan internet. 

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Chilimart memiliki tim tim lapangan yang diinvestasikan khusus untuk melakukan pelatihan ke tempat-tempat usaha secara langsung. “Kita investasikan khusus untuk melakukan sosialisasi bagaimana caranya mengoperasikan aplikasi, bagaimana caranya melakukan belanja lewat aplikasi Chilimart, bagaimana caranya melakukan top up, karena kita juga ada virtual account dan salah satu dompet digital yang kita gunakan,” katanya.

Tak hanya keterbatasan dalam menguasai seluk-beluk dunia digital, dalam prakteknya, ternyata masih banyak pula pelaku UMKM yang masih belum memiliki akun bank. Di situ, Chilimart lebih banyak menyosialisasikan konsep cashless transaction daripada cash on delivery (COD).

Kemudian, ada video tutorial yang sangat mudah dimengerti dan ramah pengguna. On-boarding fitur aplikasi Chilimart pun dibuat untuk menuntun para pelaku usaha bagaimana cara mendaftarkan diri menjadi user, kemudian berbelanja secara mandiri.

Selain itu, hambatan yang siginifikan yang juga ia temui di lapangan saat mengajak pemilik usaha bertransformasi, adalah zona nyaman para pemilik usaha yang sulit diubah. Salah satuya, cara konvensional untuk membeli barang dan menyimpan stok. 

Tetapi, Novel melanjutkan, situasi pandemi ternyata cukup berhasil mendorong para pelaku usaha  mengubah perilaku dan kebiasaannya. Dari sisi bisnis, Chilimart berperan mendorong model rantai pasok terpadu Chilibeli, yaitu untuk membantu mitra mendapatkan produk pesanan langsung dari petani atau produsen lokal. 

Chilimart dapat mendorong volume pesanan sesuai dengan segmen atau kategori produk pemesan (mitra-Red), sehingga Chilibeli dapat menjalankan praktik pasokan efisien langsung dari para petani dan pemasok lokal. Konsep ini dapat berujung pada penawaran harga lebih kompetitif dan kualitas produk yang lebih baik. 

Belanja tanpa Kasir

photo
Tampilan aplikasi IUGA+ - (Google Play Store)

Teknologi digital membawa banyak pengalaman baru dalam urusan berbelanja. Apabila kini belanja daring sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, konsep berbelanja tanpa kasir kini muli diperkenalkan. 

Setelah sebelumnya sukses meluncurkan laman dan aplikasi, IUIGA kini menjawab permintaan konsumen dengan membuka gerai pertamanya di Mall of Indonesia. 

Mengusung konsep IUIGA Retail+, IUIGA Indonesia menawarkan pembayaran tanpa kasir bagi para pengunjung yang ingin berbelanja. IUIGA Retail+ merupakan konsep yang telah berhasil diterapkan diseluruh gerai IUIGA di Singapura untuk pengalaman konsumen yang lebih baik. 

Teknologi yang diterapkan pada IUIGA Retail+, antara lain pemindaian Kode QR untuk mendapatkan berbagai informasi, di antaranya produk, pabrik yang digunakan, transparansi harga, hingga ulasan mengenai produk.

IUIGA Retail+ juga menawarkan self-checkout dan self-collection bagi konsumen. Konsep ini menjadikan IUIGA sebagai ritel pertama di Indonesia yang memungkinkan konsumen melakukan pembayaran tanpa kasir atau self-checkout.

Managing Director IUIGA Indonesia William Firman dalam keterangan persnya kepada Republika menjelaskan, IUIGA berkomitmen selalu berinovasi demi memberikan pelayanan terbaik bagi para konsumen. 

IUIGA percaya kebutuhan untuk melihat dan merasakan suatu barang sebelum membeli masih sangat tinggi. “Di masa transisi seperti ini, kami menghadirkan self-checkout untuk mengurangi interaksi dan baris antrian kasir di dalam toko, sehingga konsumen bisa berbelanja dengan nyaman di toko kami,” ujar William.

Menurutnya, tak sedikit konsumen yang merasakan kecewa pada saat barang yang dibeli secara daring tidak seusai dengan apa yang dijelaskan pada deskripsi produk di laman atau aplikasi e-commerce di pasaran. 

Pengambilan keputusan untuk membeli sebuah barang, khususnya untuk produk peralatan rumah tangga, dengan merasakan dan mencoba produk secara langsung masih dibutuhkan oleh konsumen. “Saya percaya gerai fisik tidak akan mati dan masih akan terus berkembang. Terutama produk-produk rumah tangga yang mengutamakan kualitas,” kata Group Chief Strategy Officer Konimex Group, Edward Joesoef.

Selain itu, ia melanjutkan, keberadaan geraijuga dapat membantu para konsumen mengutarakan keluhan atau kekhawatiran mereka secara langsung terhadap suatu produk yang mereka beli. Dengan adanya gerai fisik akan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap suatu jenama.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk rumah tangga, membuat semakin banyak perusahaan besar yang ikut memproduksi barang keperluan rumah tangga. Hal ini menjadi kabar baik untuk pasar Indonesia, karena semakin banyak pilihan produk yang dapat dibeli sesuai kebutuhan masyarakat. 

 
Dalam prakteknya, ternyata masih banyak pula pelaku UMKM yang masih belum memiliki akun bank. 
NAMA TOKOH
 


,
×