Sejumlah murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) mencuci tangannya sebelum mengikuti kegiatan belajar secara tatap muka di Yayasan Pendidikan Satu Atap Ibnu Aqil Ibnu Sina (IAIS) Soreang, Jalan Lembur Tegal, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (5/8). Yayasa | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
02 Sep 2020, 12:34 WIB

Perlu Terobosan Mentradisikan Digitalisasi Pendidikan Islam

Pembangunan SDM menjadi strategi mengembangkan pendidikan Islam.

Pendidikan Islam mendapat tantangan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman digital. Pada era industri 4.0, lembaga-lembaga pendidikan Islam menghadapi tekanan globalisasi yang semakin kuat, di antaranya laju perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

"Para santri dan pelajar yang berbasis pesantren harus terus menjadi manusia pembelajar yang mampu merespons isu-isu dan kebutuhan kekinian," kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) Muhammad Ali Ramdhani, Senin (31/8).

Institusi pendidikan Islam itu luas, meliputi madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi. Ia pun mengingatkan agar semua institusi itu adaptatif dengan dinamika kekinian.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan Islam jangan terlalu dalam mengenang zaman keemasan dan romantisme sejarah masa lalu. "Orang terpelajar adalah pemilik masa lalu dan orang yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan," ujar dia. 

Terkait

Dalam pandangan anggota Dewan Pembina Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam (AYPI), Zulfikri Anas, belum seluruh lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren, bisa beradaptasi dengan era digital. Menurut dia, perlu terobosan untuk mentradisikan digitalisasi ke dalam lembaga pendidikan Islam. 

"Memang belum semua lembaga pendidikan Islam bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, mereka belum menjadikan digital sebagai tradisi. Padahal, ini sudah menjadi keniscayaan, termasuk digitalisasi dalam proses pembelajaran dan penilaian (terhadap siswa)," ujar dia kepada Republika, Selasa (1/9). 

photo
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar di salah satu Madrasah Diniyah di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (14/7/2020). Sejumlah Madrasah Diniyah di kabupaten Indramayu mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar meski belum ada izin dari dinas terkait - (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Peningkatan lembaga pendidikan Islam sekarang ini, menurut Zulfikri, harus ditekankan pada lembaga yang berada di daerah-daerah, terutama di pelosok. Sebab, biasanya lembaga pendidikan Islam di sana dibangun dengan modal dan pembinaan seadanya. Karena itu, lembaga-lembaga seperti ini lebih memerlukan perhatian dan pembinaan agar tidak terjadi disparitas kualitas dengan lembaga pendidikan Islam di perkotaan.

"Karena kan pendidikan Islam ini kan sampai ke kampung-kampung. Ini yang harus ditingkatkan SDM-nya walaupun secara konsep pendidikan Islam itu sudah kuat. Kalau untuk pendidikan Islam di perkotaan, itu sudah luar biasa," ujar dia. 

Digitalisasi, lanjut dia, memudahkan administrasi sekolah dan lebih bisa dipertanggungjawabkan serta lebih transparan. Jika berbagai bahan pelajaran dan evaluasi dikemas secara digital maka tenaga pengajar akan lebih bisa berkonsentrasi pada proses pembelajaran.

"Karena hal-hal administratif yang selama ini merepotkan para guru menjadi lebih mudah kalau dengan digital, sehingga guru dapat lebih berkonsentrasi ke pengembangan sumber daya manusia dan para peserta didiknya," ujar dia.

 Zulfikri melihat kemampuan adaptasi lembaga pendidikan Islam terhadap era digital perlu didukung sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan adaptatif terhadap perkembangan zaman. Tujuannya agar mampu menyiapkan konten digital untuk pembelajaran.

 "Konten digital bisa mengembangkan nalar kemampuan, analisis, kreativitas, imajinasi. Tetapi, ini memang harus didukung kepiawaian SDM dalam mengembangkan konten-konten pembelajaran dan aplikasi untuk evaluasi murid.’’


×