Pekerja mengemas beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (18/3/2020). | ANTARA FOTO
02 Sep 2020, 11:02 WIB

Menelisik Pasar Induk Beras Cipinang

Pasar Induk Beras Cipinang merupakan sentra perdagangan beras di Ibu Kota.

 

MEILIZA LAVEDA

Di tengah terik mentari yang menyengat pada Kamis (28/8), puluhan kuli bersusah payah memanggul karungan beras dari truk menuju gudang. Truk fuso dengan enam roda yang menopangnya mengangkut 200 karung. Masing-masing berisikan 50 kilogram. Total semuanya ada 10 ton beras.

Masing-masing kuli memanggul 10 hingga 20 karung beras setiap hari. Dua orang dari mereka berada di bak truk untuk mengambil karungan beras. Kemudian diberikan ke kuli panggul yang sudah menyodorkan tengkuk dan punggungnya untuk memanggul karungan beras.

Terkait

Perlahan, tapi pasti, mereka menahan beban 50 kilogram beras di pundaknya. Berjalan menuju area dalam gudang untuk menata beras. Cuaca dan bobot karungan beras tak lagi menjadi beban. Mereka sudah terbiasa dengan keduanya, karena memang itu situasi dan pekerjaan yang dihadapi setiap hari.

Mereka adalah kuli panggul toko Sumber Jaya di Pasar Induk Beras Cipinang. Pemilik toko, Aloy mengatakan tadinya dia berjualan dari Pasar Pulogadung. Kemudian pindah untuk mengadu nasib. Sudah terhitung sepuluh tahun dia berjualan beras di Pasar Induk Beras Cipinang. 

Stok beras yang didapatnya berasal dari sejumlah daerah. Yang paling utama adalah Jawa Barat. Ini merupakan provinsi penghasil beras terbesar ketiga di tingkat nasional. Dengan luas panen 1.578.835 hektare, Jawa Barat menghasilkan padi 9.084.957 ton GKG atau setara 5.212.039 ton beras. 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, tiga besar kabupaten di Jawa Barat penghasil beras adalah sebagai berikut. Pertama adalah Indramayu. Kabupaten ini memiliki luas panen padi 215,731 hektare. Dari luas ini, diperoleh produksi padi 1.376.429,68 ton gabah kering giling (GKG) atau produksi berasnya sebesar 789.657,71 ton.

Kedua adalah Karawang. Kabupaten Karawang memiliki luas panen padi 185.807 hektar, diperoleh produksi padi 1.117.814 ton GKG sehingga diperoleh produksi beras 641,290 ton.

Ketiga adalah Subang. Wilayahnya berada di antara Kabupaten Karawang dan Indramayu. Luas panen padi Kabupaten Subang mencapai 156.298,50 hektar. Produksi padinya sebesar 942.932 ton GKG dan produksi berasnya sebesar 540.960 ton.

Provinsi berikutnya yang menjadi sumber pasokan Pasar Induk Beras Cipinang adalah Jawa Tengah. Ini adalah penghasil beras terbesar di Indonesia. Luas panen di sana mencapai 1.678.479 hektare dan menghasilkan 9.655.653 ton GKG atau setara 5.539.448 beras. 

Provinsi lainnya adalah Jawa Timur. Luas panen di sana mencapai 1.702.426 hektare menghasilkan padi 9.580.933,88 ton GKG atau setara 5.496.581 ton beras.

Tak hanya Sumber Jaya, toko lainnya juga mengambil beras dari tiga provinsi tadi. Karungan beras ditata di dalam gudang. Kemudian akan dijual ke berbagai wilayah di Jabodetabek dan antarpulau. 

photo
Tumpukan beras di Pasar Induk Beras Cipinang - (Meiliza Laveda/Republika)

Biasanya 6.000 ton beras tersimpan dalam gudang toko Aloy. Semuanya akan ludes terjual dalam sebulan. Namun, karena pandemi, penjualannya menurun. "Karena ada program pemerintah bantuan sosial (bansos) ya. Ada pengaruh ke pasar kita. Sekitar 50 persen. Kami tidak tahu lagi bagaimana cara meningkatkan penjualan. Yang dapat kami lakukan hanya menunggu bansos selesai. Penjualan pasti akan kembali normal," kata dia.

 

 

Kami tidak tahu lagi bagaimana cara meningkatkan penjualan. Yang dapat kami lakukan hanya menunggu bansos selesai.

 

ALOY, Pemilik Toko Sumber Jaya Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta
 

Presiden Joko Widodo memang menggulirkan bantuan untuk masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Pada Juni, ada 3,3 juta paket beras bantuan Presiden disalurkan di Jabodetabek. Bulog menyalurkan bantuan tersebut secara bertahap. Tahap pertama dilakukan pada periode tanggal 5-22 Mei 2020. Pada periode ini sebanyak 1.457.612 paket beras disalurkan dengan total beras sebanyak 36.440 ton. Sedangkan untuk tahap kedua yang dibagikan ke masyarakat pada periode 1-15 Juni 2020. Jumlahnya sebanyak 1.861.856 dengan total beras sebanyak 46.546 ton.

Jika bantuan sosial berhenti, dia optimistis permintaan beras akan kembali meningkat. Menurutnya bantuan pemerintah seharusnya cukup dengan bantuan uang tunai. Karena tidak semua butuh beras. Kelas menengah dan di atasnya pasti sudah mampu memenuhi kebutuhan beras sehari-hari. Meski pandemi mengurangi penghasilan, mereka tetap masih mampu sekadar membeli beras.

Bantuan kuota internet lebih cocok untuk mereka, karena nilainya jauh lebih besar. Kebutuhan beras masyarakat kelas menengah dalam sebulan berkisar Rp 150 ribuan. Sedangkan kuota internet mereka mencapai 500 ribu. Kebutuhan kuota tersebut dimanfaatkan untuk belajar daring, kerja dari rumah, dan komunikasi sehari-hari. “Karena itu mereka lebih butuh kuota internet,” ujarnya.

Karena menurun, maka stok beras pun berkurang. Dari yang semula 6.000 ton senilai Rp 48 juta (dengan asumsi harga per kilogram beras Rp 8.000) menjadi sekitar 3.000 ton senilai 24 juta dalam sebulan. Artinya, omzet Aloy berkurang Rp 24 juta dari biasanya.

Kualitas beras

Aloy juga menjelaskan ciri-ciri beras yang bagus. "Bisa terlihat dari visualnya. Dari warnanya dan teksturnya. Semakin licin semakin bagus," kata Aloy kepada Republika, Kamis (28/8).

Jenis beras yang dijual Aloy beragam, ada beras pera, pulen, dan ketan. Salah satu jenis yang menjadi unggulan di tokonya adalah IR64. Ini merupakan varietas padi hemat air. Padi jenis ini menyedot air sebanyak 15.93 liter per tanaman. Sedangkan padi varietas lain memerlukan jumlah air lebih besar lagi. 

Varietas padi unggul nasional ini berasal dari IRRI (International Rice Research Institute). Pertama kali dikenalkan di Indonesia pada 1986 (BBPTP 2008).

Salah satu yang menjadi andalan di tokonya adalah beras batik baru yang dijual Rp 445 ribu per 48 kilogram. Ini merupakan beras pulen yang biasa dimanfaatkan rumah makan. Produk lainnya adalah beras pera dan pulen pada umumnya. Ada juga beras Cianjur yang dikenal harum dan pulen.

Salah seorang penjaga gudang beras, Anto mengatakan saat ini dia harus berjaga selama 24 jam. Berbeda dari 10 atau 15 tahun lalu, kala itu pukul 01.00 WIB sudah sepi. Dulu jangkauan pemasok hanya ada di sekitar Jakarta. Namun, sekarang sudah antarpulau. 

Beras berasal dari daerah produksi dan ada pula yang "masar". Masar berarti tidak ada pesanan dari toko, namun orang-orang dari daerah masuk dengan membawa beras. "Mereka punya barang dibawa ke sini ada tawaran harga berapa, sesuai harga pasar atau tidak. Terus kalau setuju, barang akan dijual," tutur dia. 

Beras yang datang langsung diklasifikasikan sesuai dengan kualitasnya di gudang toko. Setiap toko memiliki jumlah gudang yang berbeda. "Tergantung setiap toko. Beda-beda kan setiap toko jumlahnya. Tapi kalau di toko saya ratusan ton masuk setiap hari," tutur dia. 

Biasanya beras  dari Jawa Barat datang pada pukul 04.00 WIB atau 05.00 WIB. Karena jika nanti datang terlalu siang, akan kehilangan pembeli. Sementara beras yang dikirim maksimal pukul 18.00 WIB. Sebab, jika terlalu sore, toko yang dituju sudah banyak yang tutup. 

photo
Aneka macam beras yang dijual di Toko Sumber Jaya Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta - (Meiliza Laveda/Republika)

Penambahan sarana

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi mengatakan ada sekitar 400 pedagang sejak pasar ini ada. Ada yang sudah generasi kedua, generasi ketiga, hingga ada yang baru masuk.

"Di sini ada yang sudah lama dan ada yang baru masuk. Tapi kalau di pasar ini mereka pemain lama yang memang mempunyai banyak jaringan distribusi dan sumber yang cukup kuat. Ada yang baru masuk tapi enggak banyak," tutur dia. 

Sejak dibangun, pasar ini masih sama, hanya saja tetap diakukan penambahan. Seperti gudang semipermanen menjadi gudang permanen. Serta los-los diperbaiki. Saat ini pihaknya sedang memperbaiki infrastruktur pasar. Akses masuk pasar akan dibeton agar lebih kuat menahan beban truk yang setiap hari masuk dan keluar pasar membawa beras.

Empat buah jembatan timbang akan disiapkan. Truk yang masuk nanti akan masuk jembatan timbang dulu untuk diukur berat beban yang dibawanya. Kemudian akan didata oleh pengelola pasar. "Kita menargetkan pembangunan ini selesai pada Oktober tahun ini," kata dia. 

Sebagian besar untuk pemasukan stok bera berasal dari Jawa Barat. Sebab kata dia distribution costnya lebih murah. Namun, jika di Jawa Barat saat panennya tidak banyak akan diambil dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jika masih kurang juga akan didapat dari Lampung atau bahkan Sulawesi Selatan. 

 

Sejak era Ali Sadikin

Sejarawan Universitas Indonesia, Dr Bondan Kanumoyoso menjelaskan Pasar Induk Beras Cipinang mulai dibangun pada tahun 1972 dan mulai beroperasi pada tahun 1974. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin memikirkan pembaruan pada pasar-pasar di seluruh Jakarta. 

"Dia lihat pasar saat itu tidak punya spesialisasi atau kekhususan. Nah Gubernur Ali Sadikin membuat pengkhususan. Misalnya Pasar Tanah Abang termasuk pasar ternak dan pasar tradisional, mulai dikhususkan untuk pasar tekstil. Sedangkan Cipinang dikhususkan untuk beras," kata dia. 

 

 

Tujuan pasar ini adalah untuk memperbaiki sistem pemasaran bahan makanan dan penyediaan sarana pemasaran yang efisien.

 

BIOGRAFI ALI SADIKIN
 

Pasar Induk Beras Cipinang khusus mengurusi beras untuk seluruh wilayah DKI Jakarta. Sehingga di pasar lain tidak perlu mencari supplier dari daerah, bisa didapat dari Pasar Induk Beras Cipinang. 

Berdasarkan catatan Ali Sadikin pada 1966-1977 dalam biografinya, pasar induk beras Cipinang adalah badan usaha milik daerah. Tujuan pasar ini adalah untuk memperbaiki sistem pemasaran bahan makanan dan penyediaan sarana pemasaran yang efisien. 

photo
Pekerja mengemas beras ke dalam plastik di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Senin (27/4/2020). Pemerintah menjamin ketersediaan pangan selama bulan Ramadhan di tengah pandemi COVID-19 tetap aman dengan total stok beras mencapai 15 juta ton yang cukup hingga beberapa bulan ke depan dan diperkirakan masih surplus antara enam hingga tujuh ton lebih - (Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO)

Pasar induk beras Cipinang juga mengendalikan pengadaan dan penyaluran beras serta perkembangan harga, juga mengetahui volume dan jenis beras yang keluar dan masuk Jakarta. Pasar ini menjadi barometer harga beras dan terminal transit angkutan beras antardaerah dan antarpulau. Di pasar inilah terjadi pelelangan, sortasi, dan standardisasi beras.

Sejak 1974 hingga saat ini, pasar tersebut tidak banyak berubah.  "Ada renovasi sana sini ya tapi tidak dibongkar total. Jadi bentuknya masih seperti tahun 1974 hingga hari ini. Fungsinya masih sama," jelas dia. 

Pada tahun tersebut belum ada pasar yang cukup besar di Jakarta Timur.  Lokasi Cipinang dinilai strategis dan mudah untuk dijadikan tempat pengumpulan beras. Sebabnya, wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Jawa Barat. Beras yang diangkut truk besar akan mudah menjangkau Cipinang. 

Jika melewati jalan tol, mereka akan keluar di depan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Kemudian berjalan 6,9 KM menuju Cipinang dalam waktu 15 menit.

Sedangkan truk beras yang melewati jalan non-tol, biasanya melewati Pulogadung, kemudian masuk ke Jl Raya Bekasi. Jaraknya 5,9 KM, tapi waktu tempuhnya lebih lama, mulai 16 menit atau lebih. Sebabnya adalah jalan yang lebih sempit dan kemacetan di beberapa ruas jalan.

Akses dari Cipinang menuju kota lain juga terjangkau. Dari sana, beras dikirim melalui jalan tol lingkar luar yang berjarak sekitar satu kilometer. Juga didistribusikan ke berbagai toko di Jabodetabek, Sumatra, dan Kalimantan.


,
×