Imam al-Ghazali akhirnya mengetahui penyebab saudaranya sempat enggan bermakmum kepadanya. Belakangan, ia justru mendapatkan pelajaran hikmah dari seorang sufi sederhana. | DOK EPA Saudi Ministry of Media

Kisah

30 Aug 2020, 13:21 WIB

Belajar Membersihkan Hati

Meski harus beranjak dari kekayaan, Imam al-Ghazali mengembara dengan penuh ketenteraman hati.

OLEH HASANUL RIZQA

Sejak 1905, Imam al-Ghazali meletakkan jabatan di Universitas Nizamiyah. Ia pun mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Meski harus beranjak dari kekayaan, pangkat, popularitas, dan segala pernak-pernik duniawi, perjalanan itu ditempuhnya dengan penuh ketenteraman hati.

Sebelum momen penting itu terjadi dalam hidupnya, al-Ghazali muda juga pernah bersinggungan dengan hikmah tasawuf. Kisahnya terekam dalam kitab Muid an-Ni'ami, dengan mengutip penuturan Imam Tajuddin as-Subki.

Dikisahkan, suatu hari Imam al-Ghazali memimpin shalat di masjid. Masyarakat setempat memang biasa menjadikannya imam dalam shalat wajib yang diselenggarakan di sana. Apalagi, rumah al-Ghazali tak jauh dari tempat ibadah itu.

Namun, adik Imam al-Ghazali yang bernama Ahmad mulai menyisihkan diri begitu melihat kakaknya itu menjadi imam shalat. Ia lebih suka meneruskan shalat secara sendirian (munfarid) daripada harus ikut menjadi makmum di belakang al-Ghazali.

Orang-orang mulai membicarakan hal itu. Bahkan, lama kelamaan muncul rumor tidak sedap tentang hubungan antara Imam al-Ghazali dan adiknya itu. Alhasil, sang imam pun merasa tidak nyaman. Ia menduga, Ahmad telah menganggap shalat yang dipimpinnya tidak sah. Padahal, dirinya merasa sudah menjalankan setiap syarat dan rukun shalat secara sempurna.

 
Lama kelamaan muncul rumor tidak sedap tentang hubungan antara Imam al-Ghazali dan adiknya itu.
 
 

 

Suatu ketika, ia pun menceritakan kegundahan hatinya itu kepada ibunya. Sang ibunda lantas berjanji akan menyuruh Ahmad untuk turut menjadi makmum manakala al-Ghazali tampil sebagai imam shalat. Mendengar itu, ia pun bersuka cita karena orang tidak akan lagi menyebarkan desas-desus yang bukan-bukan.

Akhirnya, Ahmad bersedia untuk ikut shalat berjamaah di masjid yang diimami al-Ghazali. Orang-orang yang menyaksikannya sempat terkejut, tetapi kemudian tidak berkata apa-apa.

Bagaimanapun, di tengah shalat Ahmad justru membatalkan dirinya. Ia keluar dari shaf dan meneruskan shalat secara sendirian. Sesudah salam dan shalat selesai, beberapa jamaah pun mulai berbisik-bisik satu sama lain. Hati al-Ghazali kian gusar. Sesampainya di rumah, ia segera meminta penjelasan dari adiknya itu.

"Mengapa kamu membatalkan makmum kepadaku!? Apakah kamu menganggap shalat yang aku imami tidak sah?" tanya dia dengan nada tinggi.

"Aku melihat pakaianmu berlumuran darah," jawab Ahmad.

Al-Ghazali tidak mengerti maksud perkataan adiknya itu. Ia melihat dengan jelas, gamis yang dikenakannya bersih, tak ada noda sedikit pun.

Ia pun beranjak ke kamarnya dan kemudian berupaya menenangkan perasaannya. Tiba-tiba, ia tersadar bahwa belakangan ini sebelum shalat dirinya sering membuka-buka kitab tentang hukum fikih.

Kebetulan, sesaat sebelum berangkat ke masjid tadi dirinya sempat membuka bab tentang bersuci (thaharah). Malahan, saat sedang mengimami shalat tadi pun pikirannya terbersit pada soal hukum darah haid.

Al-Ghazali segera keluar dari kamarnya dan menjumpai adiknya itu untuk meminta maaf.

"Bagaimana mungkin kamu bisa mengatahui apa yang aku pikirkan tadi saat menjadi imam shalat?" tanya dia.

Ahmad menjawab, "Aku berguru kepada seorang ulama yang tidak terkenal di pinggiran kota. Namanya, Syekh al-Utaqy. Dia orang alim, tetapi sehari-hari bekerja sebagai tukang sol sepatu di toko dekat pasar."

 
Aku berguru kepada seorang ulama yang tidak terkenal di pinggiran kota. Sehari-hari dia bekerja sebagai tukang sol sepatu di toko dekat pasar.
 
 

 

Karena penasaran, al-Ghazali pun pergi untuk menemui orang alim tersebut. Sesampainya di bangunan perto koan pasar yang dimaksud, ia pun berhasil menemukan Syekh al-Utaqy.

"Izinkanlah aku untuk menjadi muridmu," pintanya.

"Aku kira, kamu tidak akan sanggup mengikuti perintahku," jawab al-Utaqy.

"Insya Alllah aku bisa melakukannya," kata al-Ghazali lagi.

Guru adiknya itu akhirnya menerimanya. Al-Ghazali lantas diperintahkan untuk membersihkan kotoran yang ada di lantai dengan tangannya.

Meskipun sempat merasa aneh, ia tetap mematuhi perintah sang ulama yang juga salik itu. Saat al-Ghazali akan mengambil kotoran tersebut, Syekh al-Utaqy tiba-tiba mencegahnya, lalu menyuruhnya agar pulang.

Setibanya di rumah, Imam al-Ghazali semakin heran terhadap pelajaran pertama yang diajarkan syekh tersebut. Akan tetapi, ia akhirnya mendapatkan ilham tentang tindakan sang guru.

Sang sufi hendak mengisyaratkan agar dirinya membersihkan hati terlebih dahulu sebelum mengurus apa-apa yang tampak dalam pandangan mata.

Mulai saat itu, Imam al-Ghazali terus berguru kepada Syekh al-Utaqy. Ia merasa terpanggil untuk menyelami lebih dalam ilmu tasawuf.


×