Petugas pemadam kebakaran saat memeadamkan api yang melanda gedung Kejaksaan Agung RI di Jakarta, Sabtu (22/8). Sebanyak 23 unit pemadam kebakaran dan 120 personel dikerahkan untuk memadamkan kebakaran gedung Kejaksaan Agung RI yang terjadi sekitar pukul | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Utama

‘Percik Api’ di Markas Adhyaksa

Pihak Kejaksaan Agung meminta masyarakat tak berspekulasi.

OLEH MUHAMMAD UBAIDILLAH, AKHMAD NURSYEHA 

Namanya Bulan Muharram, biasanya Jakarta tak sepi dari berbagai pengajian. Sepanjang bulan ada saja yang menggelar pengajian memeringati pergantian tahun penanggalan Hijriyah tersebut. Tak jarang pula, pengajian semacam itu diakhiri dengan rangkaian kembang api.

Oki, seorang pengunjung M Bloc Space, Jakarta Selatan, mengira hal itu yang terjadi saat melihat percikan dari arah Gedung Utama Kejaksaan Agung pada Sabtu (22/8) sekitar pukul 19.00 WIB lebih sedikit. Lokasi pusat perbelanjaan tersebut persis di depan Gedung Utama Kejakgung, hanya dipisahkan Jalan Panglima Polim.

Ia tak menyangka, kebakaran besar akan segera terjadi di markas besar Korps Adhyaksa tersebut. "Awalnya percikan (api) kecil aja. Saya kira kembang api lagi perayaan Muharram, jadi enggak curiga. Ternyata lama-kelamaan gede dan saya baru sadar setelah orang pada teriak (kebakaran)," kata Oki saat ditemui Republika kala api masih berkobar. Kesannya soal kembang api agaknya terkait percikan yang datang dari bagian atas gedung berlantai tujuh tersebut.

Dari percikan itu, tak butuh lama bagi si jago merah melalap banyak bagian gedung. Menurut Bayu, saksi mata lainnya, api sudah terlihat membesar sekitar pukul 19.30 WIB. Ia mengetahui kebakaran dari pengunjung kawasan M Bloc Space yang ramai berteriak terkait  kebakaran. "Kebakaran sekitar setengah delapan (pukul 19.30 WIB) sepuluh menit kemudian pemadam kebakaran datang, tapi api sudah besar," kata Bayu.

Sepanjang malam, api tak berhenti berkobar. Baru pada pagi hari, kebakaran mulai berhasil dijinakkan.  “Di dalam-dalamnya masih ada (api). Masih panas,” kata Nurhadi, seorang petugas pemadam kebakaran sekitar pukul 06.00 WIB pada Ahad (23/8). Sekitar 250 petugas dengan 45 unit kendaraan pemadam dan alat pernafasan berjibaku memadamkan api. Mereka datang dari seluruh lima wilayah di Jakarta. 

Semula, Gedung Utama yang terbakar, hanya di sisi bangunan utara. Akan tetapi, pada Ahad (23/8) dini hari, sekira pukul 01.00 WIB, kobaran api juga melahap unit Gedung Utama sisi selatan. Saat api akhirnya mereda, dua unit gedung tersebut, hangus terbakar. Jelaga memenuhi sebagian besar dinding luar gedung.

Di Kompleks Kejaksaan Agung, Gedung Utama adalah tempat berkantor Jaksa Agung. Di gedung itu pula berkantor Wakil Jaksa Agung, serta jajaran Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (JAM Intel) dan Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan (JAM Bin).

Gedung Utama di Kejaksaan Agung terpisah sejauh kira-kira 100 meter dengan Gedung Bundar di bagian selatan. Di Gedung Bundar tersebutlah berkantor jajaran Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus). Di lokasi itu biasanya disimpan berkas-berkas perkara yang ditangani Kejaksaan Agung. 

Sedangkan ke arah barat sekitar 150 meter dari Gedung Utama, berdiri Rumah Tahanan Kejaksaan Agung. Sebanyak 25 tahanan sempat diungsikan namun sudah dikembalikan lagi pada Ahad (23/8) sore.

Hingga berita ini dituliskan, aparat keamanan dan pihak Kejaksaan Agung belum mengetahui penyebab kebakaran. Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Nana Sudjana mengatakan, pihak masih mendalami saksi-saksi kejadian. Pihaknya juga baru melakukan penyelidikan di TKP kemarin siang.

Yang sejauh ini diketahui, menurut dia, titik api bergerak dari lantai enam ke lantai satu. ‘’Tetap itu di beberapa lokasi kantor intelijen, kepegawaian dan administrasi. Hari ini Tim Labfor dan Inafis juga kita bentuk dan akan melakukan penyelidikan penyebab dari kebakaran tersebut,’’ kata dia. Dia menambahkan, tim penyelidik itu juga akan melibatkan beberapa anggota dari Kejakgung. ‘’Siang ini rencana kita akan melakukan penyelidikan di TKP,’’ kata dia.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menyatakan, tak ada berkas perkara, maupun alat bukti yang ikut terbakar. “Yang utamanya, berkas-berkas perkara tidak ada di situ. Alat-alat bukti juga tidak ada di situ. Jadi ini gedung SDM saja,” kata Burhanuddin saat memantau langsung pemadaman.  “Dugaan sementara, kita masih selidiki,” Burhanuddin melanjutkan. 

 Kapuspenkum Kejaksaan Agung (Kejagung), Hari Setiyono, meminta semua pihak untuk menunggu hasil penyelidikan tersebut dan tidak membuat spekulasi atau asumsi-asumsi. “Kami belum mendapat penjelasan apakah sudah dilakukan permintaan keterangan yang diduga mengetahui awal dari terbakarnya gedung ini," kata dia, kemarin.

Spekulasi yang dikhawatirkan Hari Setyono  sedikit banyak terkait dengan sejumlah kasus yang ditangani Kejaksaan Agung belakangan. Salah satu yang jadi sorotan adalah keterlibatan Jaksa Pinangki Sirna Malasari alam pelarian buron kasus alih utang Bang Bali, Djoko Tjandra.

photo
Foto udara gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Ahad (23/8/2020). - (ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO)

Pinangki saat ini sudah dijadikan tersangka karena diduga menerima suap saat beberapa kali menemui Djoko di mancanegara akhir tahun lalu. Saat itu, Pinangki menjabat sebagai kepala Subbagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan JAM Pembinaan. 

 Jajaran JAM Pembinaan diketahui berada di lantai 3 Gedung Utama Kejaksaan Agung.  “Itu semua unit kerja di bawah Jaksa Agung Muda Pembinaan. Jadi ruang Biro Perencanaan itu ada di situ,” kata Ketua Komisi Kejaksaan, Barita Simanjuntak kepada Republika, kemarin.

Meski begitu, ia meyakini berkas perkara di Kejaksaan Agung memang tak terdampak kebakaran. Ia justru mengkawatirkan berkas-berkas lain di ruangan yang terbakar di Gedung Utama. Selain dokumen kepegawaian, SDM, dan keuangan; di gedung yang terbakar juga ada sarana informasi data intelijen. 

photo
Petugas pemadam kebakaran beraktivitas di gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Ahad (23/8). Kebakaran tersebut berawal sejak Sabtu (22/8) malam dan api diduga sementara berasal dari lantai enam yang merupakan bagian kepegawaian - (Prayogi/Republika)

Ia berharap, data-data tersebut maupun data yang ada kaitannya dengan dokumen-dokumen penyelidikan bisa diamankan sebelum terbakar.  “Kalau itu berbasis IT, tentu sudah disiapkan server-nya untuk pengamanannya. Itulah sebabnya kita harapkan emergency planning dari kejaksaan itu bisa dengan cepat untuk me-recovery keadaan,” kata dia. 

Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin meminta kejaksaan dan kepolisian segera melakukan investigasi menyeluruh atas penyebab kebakaran. Hal itu agar masyarakat mendapatkan informasi yang tidak simpang siur.

"Saya prihatin dan berharap publik serta pihak lain tidak menyebarkan asumsi yang bersifat spekulatif atas peristiwa ini, sampai ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait musibah ini," Kata Azis Syamsuddin.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat