Hikmah Republika Hari ini | Republika

Hikmah

Kaleidoskop Kehidupan

Kaleidoskop kehidupan bagi seorang Muslim adalah sarana untuk evaluasi diri.

Oleh IMAM NUR SUHARNO

OLEH IMAM NUR SUHARNO

Waktu begitu cepat berlalu. Berkaitan cepat berlalunya waktu, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan datang kiamat hingga waktu terasa amat pendek, satu tahun terasa sebulan, satu bulan terasa seminggu, satu minggu terasa sehari, satu hari terasa sejam, satu jam hanya selama membakar satu pelepah kurma.” (HR Ahmad).

Jika waktu cepat berlalu, apa yang harus kita lakukan? Dari Ibnu Umar RA dia berkata, “Nabi SAW pernah memegang bahuku sambil bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.’ Ibnu Umar berkata, ‘Jika datang waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika tiba waktu pagi, jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu'." (HR Bukhari).

Dan, waktu itu akan terasa semakin cepat berlalu ketika manusia melalaikannya. Rasulullah SAW bersabda, “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW menasihati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Hakim).

Karena waktu begitu cepat berlalu, setiap kali pergantian waktu hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk muhasabah (evaluasi) diri. Inilah perlunya kaleidoskop dalam kehidupan.

Kaleidoskop kehidupan bagi seorang Muslim ini sebagai sarana untuk muhasabah (evaluasi) diri. Misalnya, setiap hendak tidur, seorang Muslim selalu memasrahkan diri kepada-Nya. Hal ini tampak dari doa yang dibaca ketika hendak tidur.

Bismika rabbi wadha’tu jambii, wa bika arfa’uh, fa-in amsakta nafsii farhamhaa, wa in arsaltahaa fahfazh-haa bimaa tahfazh bihi ‘ibaadakash shoolihiin. (Dengan nama Engkau, wahai Tuhanku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi, apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah (dari kejahatan setan dan kejelekan dunia), sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh. (HR Bukhari dan Muslim).

Dan, doa pertama kali yang dibaca setelah bangun tidur adalah ungkapan rasa syukur kepada-Nya karena kita diberikan kesempatan lagi untuk melakukan perbaikan diri. 

Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur. (Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya kami dibangkitkan. (HR Bukhari).

Berkaitan muhasabah, Islam memerintahkan agar setiap Muslim memperhatikan (evaluasi) apa yang telah diperbuatnya untuk kepentingan hari esok (QS al-Hasyr [59]: 18). Sebagai upaya peningkatan kualitas amal. Untuk peningkatan kualitas amal, muhasabah sangat diperlukan. Tanpa muhasabah, tidak akan ada peningkatan kualitas amal.

Umar bin Khattab pernah mengingatkan dengan perkataannya yang sangat populer, hasibu anfusakum qobla an tuhasabu (hisablah dirimu sebelum kamu dihisab).

Dengan demikian, momentum pergantian waktu mestinya dijadikan sebagai sarana untuk muhasabah atas berbagai amal yang telah dilakukan sebagai upaya perbaikan menjalani sisa kehidupan. Wallahu a’lam.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat