Presiden Guyana Irfaan Ali dalam masa kampanye lalu. | REUTERS/Luc Cohen
08 Aug 2020, 02:00 WIB

Presiden Muslim Perdana Benua Amerika Dilantik

Irfaan Ali terlahir sebagai Muslim dengan latar belakang etnis Indo-Guyana.

OLEH YEYEN ROSTIANI 

Penantian lima bulan bagi Guyana akhirnya berakhir. Negeri di Amerika Selatan ini akhirnya memiliki presiden baru yang dilantik 2 Agustus, setelah pemilihan umum (pilpres) pada 2 Maret. Dialah Dr Muhammad Irfaan Ali (40 tahun), dari partai oposisi People's Progressive Party (PPP).

Unggahan News Room di Facebook menunjukkan Ali saat diambil sumpahnya sebagai presiden eksekutif kesembilan Guyana. Ia memakai setelah jas warna royal blue dan dasi merah. Tanpa melepas masker wajahnya, ia kemudian membacakan sumpah jabatan sambil memegang Alquran bersampul biru. 

"Hanya ada satu masa depan dan masa depan itu membutuhkan Guyana yang bersatu," kata Ali usai pelantikan. "Masa depan itu menuntut setiap orang Guyana untuk berperan dalam membangun negara kita."

Terkait

Ali terlahir sebagai Muslim dengan latar belakang etnis Indo-Guyana. Indo-Guyana adalah sebutan untuk warga Guyana yang memiliki nenek moyang berdarah India.   

Namun, Ali bukan manusia yang tak lepas dari kontroversi. Sebelum menjadi presiden, ia sempat didera lawannya dengan 19 tuduhan penyimpangan atau dalam bahasa Inggris fraud. Laman Guyana Chronicle edisi 12 Februari 2020 menyebutkan, nama Ali kerap diplesetkan menjadi "Irfraud Ali". Namun, semua tuduhan itu tak ada yang berlanjut hingga ke ranah hukum. 

Guyana terletak di Amerika Selatan yang menghadap ke Laut Atlantik Utara. Negeri ini diapit Suriname dan Venezuela. Laman CIA menyebutkan, negara dengan lahan darat sekitar 215 ribu kilometer persegi ini memiliki populasi sekitar 750 ribu jiwa pada Juli 2020. Umat Islam di negeri ini sebanyak 6,8 persen. 

photo
Lokasi Guyana - (mapsoftheworld.com)

Sengketa pilpres

Sebenarnya seusai pilpres, presiden pejawat David Granger (75 tahun) langsung dinyatakan menang. Namun, oposisi mengatakan hasil penghitungan di distrik terbesar sengaja digelembungkan agar Granger menang. Pengadilan tinggi pun menemukan bahwa dsitrik tersebut ternyata tidak melakukan penghitungan suara dengan cara yang sesuai aturan pemilu. Penghitungan ulang pun digelar. 

Datang hitung ulang pada Juni menunjukkan bahwa Ali memenangkan pemungutan suara awal. Amerika Serikat (AS) bahkan sudah menyerukan Granger untuk segera lengser dan memberi jalan kepada Ali. 

Meski dijegal sengketa pilpres, masa depan cerah tampaknya disemai di negeri ini. Guyana baru saja menemukan cadangan minyak yang tak main-main jumlahnya. Tak heran, jika pilpres kali ini diawasi ketat semua pihak. Alasannya, pemenang pilpres akan mengawal Guyana menuju menuju masa depan lebih baik.  

Beberapa bulan sebelumnya, konsorsium yang dipimpin Exxon Mobil Corp mulai memproduksi minyak di pantai lepas Guyana. Hasil produksi ini diyakini bakal mengubah hidup Guyana yang semula tergolong negeri miskin. 

Produksi minyak itu bakal mengubah nasib rakyat Guyana. Negeri ini menjadi salah satu sumber minyak mentah dunia. Pertumbuhan ekonomi pun tergambar dalam potret masa depan negeri yang selama ini bergantung pada agrikultur dan tambang. 

Namun, semulus itukah langkah Guyana menuju masa depan? Tantangan tentu menghadang. Temuan sumber daya ekonomi baru meningkatkan juga gesekan di negeri yang terpecah secara politik ini.

Laman BBC menyebutkan, Guyana menghadapi segregasi politik yang cukup tajam. Indo-Guyana yang mendukung PPP dan Afro-Guyana yang sebagian besar mendukung Granger beserta koalisinya, antara aliansi A Partnership for National Unity (APNU) dan Alliance for Change (AFC). 

Terkait Exxon, PPP sempat mengkritik kontrak yang disusun semasa pemerintahan Granger yang dinilai terlalu menguntungkan Exxon. Salah satu poinnya adalah Guyana mendapat royalti 2 persen dan 50 persen keuntungan saham setelah untung. Namun, Ali tak menyerukan untuk negosiasi ulang.

Temuan cadangan minyak Guyana luar biasa. Laman Oil Now edisi 12 Mei 2020 menunjukkan Guyana masuk peringkat 20 negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

 
Guyana masuk peringkat 20 negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.
 
 

Sebagai perbandingan, Venezuela yang duduk di peringkat pertama, memiliki 298,4 miliar barel. Arab Saudi di tempat kedua memiliki 268,3 miliar barel. Guyana di peringkat 20, memiliki sekurangnya 8 miliar barel. 


×