Luky Eko Wuryanto,Vice President AIIB | AIIB.org
26 Nov 2020, 02:09 WIB

Pemulihan Indonesia Tergantung Penanganan Kesehatan

Penanganan kesehatan jadi prasyarat menciptakan kenyamanan bagi orang untuk berusaha.

 

Dewan Gubernur Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) telah menggelar pertemuan tahunan kelima di Beijing, Cina, pekan lalu. Salah satu agenda penting yang dilakukan adalah penetapan kembali Jin Liqun sebagai Presiden AIIB periode 2021-2025.

Setelah pertemuan tersebut, jurnalis Republika Adinda Pryanka berkesempatan mewawancarai Vice President AIIB Luky Eko Wuryanto terkait dengan kebijakan bank pembangunan tersebut dalam menghadapi pandemi. Berikut petikan wawancaranya.

AIIB telah menyetujui pengajuan pinjaman 1 miliar dolar AS untuk Indonesia melalui Crisis Recover Facility (CRF). Pinjaman ini dimaksudkan untuk penanganan pandemi Covid-19 dan mengatasi dampaknya. Bagaimana perkembangannya sampai saat ini?

Terkait

Secara total, AIIB sudah meminjamkan dengan fasilitas CRF dua kali ke Indonesia. Pertama, sebesar 750 juta dolar AS untuk budget support policy based. Ini sudah disetujui Board of Director AIIB sejak dua bulan lalu.

Kedua, senilai 250 juta dolar AS untuk penanganan kesehatan. Pinjaman ini juga sudah disetujui dari bulan lalu. Jadi, masalahnya saat ini adalah bagaimana proses pencairannya.

Yang pasti, pencairan CRF itu akan sekaligus. Tidak seperti loan (pinjaman) yang harus menunggu beberapa persyaratan dan termin tertentu baru dicairkan. CRF memang ada persyaratan, tapi kembali lagi ke perjanjian dalam pinjaman dan sifat pencairannya sekaligus.

Proses pencairan bergantung pada rencana pemerintah seperti apa. Kita biasanya hanya meminta persyaratan berupa negara ini memenuhi semua conditionality yang ada dalam perjanjian. Kalau sudah, akan segera dicairkan sekaligus.

Untuk mengetahui progres pencairannya dari total 1 miliar dolar AS dapat ditanyakan langsung ke Kementerian Keuangan.

Kasus positif di Indonesia sudah menembus angka 100 ribu orang. Dengan begitu besarnya skala pandemi ini, apakah ada kemungkinan AIIB meningkatkan pinjaman CRF ke Indonesia?

Kalau untuk CRF, kita belum ada rencana lagi untuk menambah pinjaman. Kecuali, kalau ada sertifikasi yang diberikan Pemerintah Indonesia dan tentunya perlu justifikasi kuat kenapapinjaman ini harus ditambahkan.

Sebab, di sisi lain, kami juga ingin membantu negara lain terkait dengan kebutuhan krisis atau CRF terkait pandemi yang kini dihadapi global. Ini dibutuhkan keseimbangan, mengingat fasilitas yang kita punya tidak sebanyak yang dimiliki lembaga lain, seperti ADB (Asian Development Bank) ataupun Bank Dunia. Di sisi lain, kita ingin mencoba untuk menggapai sebanyak mungkin negara anggota yang lain.

Memang tidak menutup kemungkinan (untuk menambah pinjaman ke Indonesia), tapi sepertinya kita akan memberikan prioritas ke negara lain. Tapi, itu semua tergantung Pemerintah Indonesia, kebutuhannya seperti apa.

Secara umum, bagaimana AIIB melihat prospek pemulihan ekonomi di Indonesia? Seberapa besar kesempatan Indonesia untuk pulih dari dampak pandemi?

Indonesia adalah negara yang punya potensi besar dan bahkan menjadi salah satu anggota G-20 karena ekonomi kita yang cukup besar. Berbagai potensi yang ada di negara itu betul-betul menunggu bagaimana kita menggarapnya. Tapi, potensi saja tidak cukup, potensi harus dijadikan aktivitas ekonomi yang harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum.

Kalau bicara normatif, potensi Indonesia sangat besar. Tapi, seperti teman-teman ketahui, kondisi pada saat ini tidak terjadi hanya di Indonesia. Hampir semua negara menghadapi tekanan akibat pandemi yang unprecedented karena mengguncang berbagai sektor ekonomi yang selama ini berjalan dan tidak bisa lagi berjalan seperti sebelum pandemi.

Dalam konteks itu, ada beberapa prinsip yang harus dipakai dalam kita melakukan upaya agar ekonomi kembali atau menguat seperti yang diharapkan bersama.

Pertama, bagaimana kita menghadapi krisis itu sendiri yang terkait di bidang kesehatan. Dalam konteks itu, kita juga benar-benar memastikan bahwa kita menangani krisis ini.

Pertanyaannya, apakah semua effort yang diperlukan untuk menjamin adanya recovery di bidang kesehatan tersebut sudah dijalankan maksimal? Karena, mau tidak mau, itu jadi prasyarat untuk menciptakan kenyamanan bagi orang untuk berusaha.

Permasalahannya masih cukup panjang untuk Indonesia. Memang itu bergantung pada bagaimana menghidupkan berbagai sektor ekonomi yang sekarang terpuruk akibat Covid-19. Itu yang harus dilakukan pemerintah untuk mengupayakan agar ekonomi bisa kembali seperti saat sebelum krisis.

Langsung kembali pulih tidak bisa.Yang bisa dilakukan saat ini adalah mengupayakan agar kita tidak terpuruk lebih dalam. (Keterpurukan) itu keniscayaan yang tidak bisa dihindari karena memang kondisinya down term. Jadi, upaya pertama adalah menghambat lajunya down term sebelum setapak demi setapak kembali ke arah positif.

Banyak program sudah dilakukan pemerintah, seperti membantu sektor UMKM, melanjutkan pembangunan infrastruktur yang juga tiba-tiba menghadapi situasi keterbatasan anggaran. Ini harus ada penetapan prioritas ulang. Kita harus pilih cermat mana yang kalau kita lakukan dengan biaya tidak terlalu banyak dampaknya juga akan besar.

(Pemulihan) tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat karena memang situasinya demikian parah. Apalagi, sekarang permintaan mulai turun, kapasitas produksi pun juga tidak bisa lagi meningkat karena masih butuh barang baku yang belum tentu bisa disediakan.

Potensi akan ada untuk recovery. Semua berpulang ke pemerintah bagaimana mereka menangani baik krisis kesehatan ditambah dengan krisis ekonomi yang sekaligus menimpa.

Apa masukan dari AIIB untuk Indonesia?

Merujuk pada pernyataan Presiden AIIB Jin Liqun, Indonesia sebaiknya fokus ke tiga hal. Connecitivity, urban development, dan new energy. Ini sektor yang memang akan banyak sekali membantu indonesia kalau pemerintah benar-benar fokus ke tiga hal ini.

Itu semua terkait infrastruktur. Konektivitas, misalnya, berbicara tentang transportasi dan energi yang selama ini jadi primadona di AIIB. Sekitar 70 persen dari pinjaman yang diminta oleh negara anggota adalah untuk transportasi dan energi.

Kalau terkait dengan urban development, itu biasanya antara transportasi atau energi tapi dalam konteks kota tertentu. Kalau transportasi ya, MRT dan subway. Kalau energi, bukan ke arah pembangkit, tapi lebih ke transmisi.

Secara total, berapa pembiayaan proyek dari AIIB untuk Indonesia?

AIIB sudah membiayai sekitar lima proyek. Di antaranya, pembangunan irigasi, urban development. Ada juga yang dipinjamkan kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk diteruspinjamkan ke pemerintah daerah.

Itu jumlahnya sekitar 1 miliar dolar AS. Apabila ditambah dengan CRF, totalnya hampir 2 miliar dolar AS. Secara umum, Indonesia kini jadi tertinggi kedua setelah India (dalam jumlah pinjaman ke AIIB). Antara Indonesia dan Turki, agak sering susul-susulan.

Program lain juga terkait revitalisasi kampung dan KEK Mandalika. Ada juga proyek satelit nusantara untuk swasta.


,
×