Renovasi juga mencakup area luar dari bangunan utama Masjid Istiqlal. | DOK Kementerian PUPR
19 Sep 2020, 06:11 WIB

Menengok Masjid Istiqlal Pascarenovasi

Inilah renovasi besar-besaran Masjid Istiqlal setelah 42 tahun berselang.

OLEH MUHYIDDIN

Pada 6 Mei 2019 lalu, pemerintah pusat mulai merenovasi Masjid Istiqlal. Pekerjaan renovasi besar-besaran itu adalah yang pertama sejak lebih dari empat dasawarsa berselang. Dan, proyek itu sekarang telah memasuki tahap finalisasi.

Dilansir dari laman Sekretariat Kabinet (Setkab) Republik Indonesia, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pemerintah telah menyelesaikan renovasi 100 persen Masjid Istiqlal. Sejak Rabu (22/7) lalu, provisional handover pun telah dilakukan. Alhasil, Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat akan membuka secara resmi masjid yang beralamat di Sawah Besar, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, itu.

"Saya dan Imam Besar Masjid Istiqlal bersepakat dan berjanji kepada Bapak Presiden Joko Widodo supaya Masjid Istiqlal bisa digunakan saat Idul Adha, Alhamdulillah ternyata bisa. Akan saya laporkan ke Presiden untuk menunggu waktu beliau meresmikan," kata Menteri PUPR, dikutip dari situs Setkab RI akhir pekan lalu.

Terkini

Menteri Basuki menuturkan, renovasi mencakup berbagai aspek di Masjid Istiqlal. Di antaranya adalah penataan lanskap, kawasan, arsitektur, mechanical electrical plumbing (MEP), interior, dan signage. Anggaran negara yang dipakai tak kurang dari Rp 475 miliar.

Perbaikan kawasan meliputi pengembalian akses dari kawasan Masjid Istiqlal ke Monumen Nasional (Monas). Itu diikuti dengan perapihan zonasi. Selain itu, kata dia, pihaknya juga memperbaiki gerbang, tanggul kali, serta menambah plaza-plaza dalam kompleks rumah ibadah ini sebagai ruang publik.

photo
Renovasi juga mencakup area luar dari bangunan utama Masjid Istiqlal. - (DOK Kementerian PUPR)

Area parkir kendaraan diperluas dengan penambahan gedung parkir lapis dua (basement). Area kantin dan tempat pedagang kaki lima berjualan (food stall) pun turut diperbaiki.

Perbaikan pada sisi arsitektur mencakup fasad, lantai, dinding, kusen, jendela, pintu, ruang wudhu, dan toilet serta kamar mandi. Penyempurnaan pada bagian interior mencakup ruang shalat utama, area VIP, dan perkantoran pengurus masjid.

Sistem MEP pada keseluruhan bangunan juga ditingkatkan. Begitu pula instalasi solar panel yang terdapat pada atap selasar. Akhirnya, sistem tata cahaya dan suara, yang mengarah baik ke dalam maupun luar, di Masjid Istiqlal juga diperbagus.

photo
Penampakan Masjid Istiqlal setelah mengalami renovasi besar-besaran pada akhir Juli lalu. - (DOK AGUST DANANG ISMOYO)

Menteri Basuki mengatakan, renovasi Masjid Istiqlal juga mendukung protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Untuk itu, tempat cuci tangan tambahan juga disediakan di berbagai titik dalam kompleks masjid ini, seperti area sekitar pintu masuk dan food stall.

Adapun pembangunan Terowongan Silaturahim bawah tanah, yang akan menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral, direncanakan mulai dibangun pada akhir tahun ini. Kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp 40 miliar.

Luas kawasan Masjid Istiqlal mencapai 91.629 meter persegi. Bangunan utamanya meliputi 80.948 meter persegi sehingga mampu menampung tak kurang dari 200 ribu jamaah. Dengan kapasitas demikian, Masjid Istiqlal bukan hanya masjid terbesar se-Indonesia, melainkan juga Asia Tenggara.

photo
Bagian interior Masjid Istiqlal yang telah direnovasi kini tampak megah dan bermandikan cahaya. - (DOK Kementerian PUPR)

Lebih bersinar

Kemegahan Masjid Istiqlal makin kentara dengan tata cahaya (lighting) terbaru. Dalam mendesain pencahayaan masjid negara ini, pemerintah menunjuk dua orang ahli lighting di Tanah Air, yaitu Agust Danang Ismoyo dan Abdi Hasan. Yang pertama bekerja pada perusahaan Pavillion 95, sedangkan yang lain dari Lumina Group.

Agust Danan mengatakan, selama puluhan tahun aspek pencahayaan di Masjid Istiqilal cenderung kurang diperhatikan. Padahal, inilah masjid kebanggaan bersama seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, ia bersyukur dilibatkan dalam renovasi besar-besaran kompleks tempat ibadah itu.

"Dulu itu, memang tata pencahayaan di Istiqlal sangat kurang, minim sekali. Istiqlal juga masih menggunakan lampu-lampu atau luminer-luminer konvensional. Jadi, harus diganti dengan teknologi yang baru," ujar lulusan S-2 Master Lighting Design dari HS-Wismar, Jerman ini, kepada Republika beberapa waktu lalu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Nur Hasan Murtiaji (@nur_hasan_murtiaji) on

Ia mengingatkan, area Masjid Istiqlal mencapai 1 hektare. Namun, tata pencahayaan untuk kawasan seluas itu hanya diurus seorang mekanik. Agust memandang, sudah saatnya sistem lighting di sana diubah, yakni menjadi lebih otomatis. Selain itu, lampu-lampu yang digunakan pun mesti diganti dengan teknologi LED yang lebih hemat energi.

Agust dan rekannya menamakan hasil karya mereka smart lighting. Ada beberapa keistimewaannya. Di antaranya ialah warna yang berubah seturut dengan perubahan gerak matahari, sebagai penanda waktu shalat.

"Saat kita shalat lima waktu itu kan pasti berkaitan dengan perjalanan matahari. Jadi, di sini kita juga mengambil unsur dari matahari itu sendiri. Misalnya, kalau Subuh, itu warnanya (eksterior Masjid Istiqlal --Red) berubah menjadi kekuningan. Kalau Zhuhur, warnanya jadi lebih putih," ujar dia.

 
Kalau Subuh, itu warnanya (eksterior Masjid Istiqlal --Red) berubah menjadi kekuningan. Kalau Zhuhur, warnanya jadi lebih putih.
AUGUST DANANG ISMOYO, Pavillion 95
 

Tidak hanya sisi luar, ia juga mengubah tata pencahayaan pada bagian interior sehingga lebih mempesona. Untuk itu, Agust dan koleganya menerapkan filosofi ekologis. Artinya, tata cahaya dikondisikan sedemikian rupa sehingga jamaah merasa sedang shalat di luar ruangan, meskipun berada di dalam masjid.

"Sama seperti kita shalat di Masjid al-Haram. Istiqlal memang bukan Masjid al-Haram, tetapi kita mengambil filosofinya bahwa kita bisa shalat seolah-olah di luar ruangan seperti di Tanah Suci," ucap dia.

photo
Pencahayaan untuk ruangan utama Masjid Istiqlal kini dapat diatur dengan smart system melalui ponsel. - (DOK Kementerian PUPR)

Smart lighting itu terbilang canggih. Sebab, kendali untuk mengatur cahaya lampu dapat dilakukan via ponsel pintar. Agust menjelaskan, di ruangan utama Masjid Istiqlal kini, ada sebanyak 300 titik lampu utama dan 3.300 titik lampu ambiens. Semuanya menggunakan LED red green blue amber white (RGBAW). Hasilnya, ruangan luas itu tampak lebih kinclong, terlebih lagi dengan permukaan marmer yang sudah dibersihkan.

Lampu itu diprogram menggunakan komputer, tapi juga bisa dikontrol menggunakan handphone. "Jadi, operatornya yang bertanggung jawab setelah nanti diserahterimakan. Itu bisa mengatur semua dari handphone-nya sendiri. Jadi, tidak sembarang orang," kata bapak dua anak itu.

 
Tata cahaya dikondisikan sedemikian rupa sehingga jamaah merasa sedang shalat di luar ruangan.
 
 

 

 


×