Warga melintas di dekat mural tentang fenomena pariwisata Bali di saat pandemi Covid-19 di Denpasar, Bali, Senin (27/7). | Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO
30 Jul 2020, 08:00 WIB

Covid-19 Tragedi Luar Biasa Bagi Bali

Ekonomi Bali mengalami minus 1,14 persen pada kuartal pertama tahun ini.

JAKARTA -- Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyebut betapa Covid-19 menjadi tragedi besar bagi ekonomi Bali. Oka mengatakan, dampak yang ditimbulkan bahkan melebihi tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Bali sebelumnya.

"Kami sudah melihat dampak dari berbagai tragedi kemanusiaan, tapi ini yang paling terpuruk," kata Oka dalam Planet Tourism Indonesia 2020 yang digelar secara virtual, Rabu (29/7).

Ia mengungkapkan, ekonomi Bali mengalami minus 1,14 persen pada kuartal pertama tahun ini. Adapun kuartal kedua, berpotensi minus 5-6 persen. Situasi akan semakin berbahaya jika pada kuartal ketiga ekonomi Bali kembali minus sehingga diperlukan langkah-langkah konkret untuk penanganan dampak pandemi.

Oka menuturkan, tak hanya destinasi wisata, para pedagang bunga dan sayur yang notabene usaha skala kecil pun ikut terdampak. Menurut dia, semua lapisan masyarakat harus bahu membahu mengatasi wabah Covid-19 disamping pemerintah yang terus berupaya mencari vaksin yang bisa digunakan.

Terkait

Bagi sektor industri, ia mengatakan, pemerintah Bali telah menerapkan sertifikasi untuk uji kelayakan pembukaan kembali di masa adaptasi kebiasaan baru. Menurutnya, ada 14 sektor yang sudah diatur oleh pemerintah sehingga diharapkan industri yang beroperasi kembali tetap aman dari ancaman wabah maupun dampak dari wabah itu sendiri.

Saat ini, Oka mengatakan, kegiatan masyarakat perlahan terlihat di tempat-tempat umum dengan pengawasan pemda. Sedikitnya terdapat 6.500 turis asing yang masih berada di Bali dan mulai beraktivitas wisata, khususnya di kawasan pesisir pantai.

"Ada yang terdampak tidak bisa pulang ke negaranya, ada juga yang sengaja datang ke Bali karena dirasa lebih aman. Ini luar biasa sekali," kata dia.

Seturut dengan Bali, sejumlah destinasi wisata yang tersebar di Bandar Lampung dan sekitarnya berangsur ramai, setelah buka sebulan lebih. Protokol kesehatan tetap diberlakukan agar penyebaran Covid-19 dapat diminimalisir.

photo
Pekerja membersihkan bangku yang biasa digunakan turis berjemur di Bali, Senin (27/7). - (Firdia Lisnawati/AP)

Destinasi wisata yang telah buka awalnya Taman Wisata Lembah Hijau, Pulau Tegal Mas pada 6 Juni 2020, kemudian menyusul tempat wisata pantai dan pulau lainnya di perairan Teluk Lampung. 

Kedatangan pengunjung tidak saja berasal dari dalam Kota Bandar Lampung tapi juga berasal dari daerah di Provinsi Lampung, juga dari luar Provinsi Lampung seperti Sumatra Selatan, Banten, dan  Jakarta. Pengunjung biasanya menikmati liburan di hutan wisata, pantai dan pulau seharian pada akhir pekan.

“Sekarang makin ramai saja di tempat wisata, seperti sudah normal lagi sebelum Covid-19,” kata Rudi Djunaedi, warga Kabupaten Pesawaran, kemarin. 

Bapak dua anak tersebut mengatakan, pihak pengelola tetap menjaga protokol kesehatan kepada setiap pengunjung yang masuk wilayah tempat wisata mulai dari pintu gerbang masuk hingga di dalam. Hal sama diberlakukan di Pulau Tegal Mas. 

Manajer Pemasaran Operasional Taman Wisata Lembah Hijau, Yudi Indra mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sarana kesehatan mulai dari pintu gerbang masuk hingga tempat wisata alam maupun satwa. Pengelo melakukan pemeriksaan satu per satu setiap pengunjung yang masuk, termasuk sebelumnya diperiksa pegawai setiap hari.

 “Kami periksa dulu karyawan, setelah dibuka baru pengunjung. Kami juga batasi kalau pengunjung membeludak, untuk menjaga tidak terjadi kepadatan atau kerumunan,” ujarnya.

photo
Menteri BUMN Erick Thohir (kanan) berbincang dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) di atas kapal feri dalam perjalanan menuju Lampung, Sabtu (25/7). Kunjungan tersebut membahas pembangunan Wisata Terpadu Bakauheni, Lampung Selatan - (Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO)

Sanksi

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meminta setiap pemerintah daerah memberikan sanksi sosial bagi setiap pelanggar protokol kesehatan di destinasi wisata. Pasalnya, kesadaran untuk hidup disiplin amat mendesak untuk mencegah timbulnya klaster baru Covid-19 di sektor pariwisata.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf, Frans Teguh mengatakan, sanksi tak terkecuali kepada pengelola destinasi yang tak mau patuh. Sanksi bisa berupa penutupan sementara agar menimbulkan efek jera dan mau menerapkan pengelolaan pengunjung dengan ketat.

"Penting untuk semua pihak membangun kesadaran disiplin. Saya kira masalahnya kita itu kalau belum kena sanksi belum jera," kata Frans dalam sebuah webinar, Rabu (29/7). 


×