Seorang warga membentangkan bendera Cina di seberang Konjen AS di Chengdu, Ahad (26/7). | Ng Han Guan/AP

Kisah Mancanegara

27 Jul 2020, 02:00 WIB

Swafoto dan Pengosongan Konsulat AS di Chengdu 

Penutupan konsulat menjadi salah satu titik puncak ketegangan kedua negara.

OLEH YEYEN ROSTIANI

Tiga truk berukuran sedang memasuki gedung Konsulat Amerika Serikat (AS) di Chengdu, Cina barat daya, Ahad (26/7) yang cerah. Truk itu akan mengangkut barang-barang dari dalam gedung setelah Pemerintah Cina memerintahkan pengosongan Konsulat AS. 

Orang-orang yang berlalu lalang kadang sejenak berhenti di depan konsulat. Tak jarang mereka berswafoto atau memotret aktivitas di sana. Kehadiran mereka sempat membuat macet trotoar yang biasa dilalui orang yang berbelanja ini. 

Rupanya, proses pengosongan Konsulat AS ini menjadi lokasi yang menarik warga untuk berfoto. Seorang anak laki-laki berpose sambil memegang bendera Cina. Namun, seorang polisi berpakaian preman membatalkan posenya saat kamera wartawan media asing mulai membidik sang anak. 

Pada Ahad pagi sebuah bus meninggalkan gedung konsulat. Tidak jelas siapa atau apa isi bus tersebut.

Kemudian, seorang staf konsulat tampak berbicara dengan polisi berpakaian preman di luar pagar gedung. Sang staf kemudian kembali masuk ke balik gerbang hitam di gedung itu. 

Polisi telah menutup jalan dan trotoar di depan gedung Konsulat AS. Mereka bahkan memasang penghalang besi di sepanjang trotoar dan ujung jalan yang memiliki tiga lajur tersebut. 

photo
Aktivis pro-Cina menginjak bendera AS dan Foto Presiden AS Donald Trump di luar Konjen AS di Hong Kong, Cina, Sabtu (25/7). - (EPA-EFE/JEROME FAVRE)

Polisi berseragam dan berpakaian preman tampak berjaga di ujung penghalang. Pengamanan dilakukan setelah ada sejumlah insiden di lokasi tersebut. Di antara insiden itu, seorang pria menyalakan petasan dan sejumlah orang lain memaki-maki media asing yang merekan video dan foto di lokasi konsulat. 

Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan. Kota ini menjadi sorotan dunia internasional seperti halnya di Kota Houston, Texas, AS. Pemerintah kedua negara saling memerintahkan pengosongan konsulat satu sama lain sejak pekan lalu. 

Bermula dari perintah Presiden AS Donald Trump yang menuduh agen Cina berniat mencuri hasil penelitian ilmiah di Texas. Menurutnya, pencurian itu membidik sistem medis Texas A&M medical system dan MD Anderson Cancer Center di University of Texas yang berlokasi di Houston. AS kemudian memerintahkan pengosongan Konsulat Cina di Houston.

Tudingan itu ditampik Cina. Akhirnya, pada Jumat (24/7) Cina mengambil langkah tit for tat atau tindakan balasan setimpal. Cina memerintahkan AS mengosongkan konsulatnya di Chengdu.

"Tanggapan dari Cina adalah sikap timbal balik," kata seorang warga berusia 63 tahun yang bermarga Yang saat melewati gedung Konsulat AS. Namun, ia mengakui, situasi saat ini sungguh disesalkan. 

photo
Aktivis pro-Cina melakukan unjuk rasa memprotes AS di luar Konjen AS di Hong Kong, Cina, Sabtu (25/7). - (EPA-EFE/JEROME FAVRE)

"Saya percaya negara kita sangat kuat, jadi punya kemampuan untuk menangani masalah ini secara tepat, dan kami tetap merasa aman," kata seorang pegawai berusia 25 tahun bermarga Zhao saat ia lewat di depan Konsulat AS.

Di Cina, AS memiliki satu kedutaan besar di Beijing dan lima konsulat di Cina daratan. Kelima konsulat itu ada di Shanghai, Guangzhou, Chengdu, Shenyang, dan Wuhan. AS juga memiliki konsulat di Hong Kong.

Konsulat AS di Chengdu bertanggung jawab untuk mengawasi Tibet dan wilayah lain yang berlokasi di Cina barat daya. Kawasan tersebut banyak dihuni masyarakat minoritas Cina yang kerap menjadi isu sensitif bagi Pemerintah Cina. 

Penutupan konsulat masing-masing negara menjadi salah satu titik puncak ketegangan kedua negara. Selama ini, kedua negara kerap berselisih, mulai dari perdagangan, teknologi, keamanan, isu hak asasi manusia, hingga soal pandemi Covid-19. 

Sumber : Reuters/Associated Press


×