Foto multiple eksposur Natalia Delvi Cintya (kanan) dan Dini Siti Rosdiani (kiri) saat mengikuti wisuda daring yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di rumahnya kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. M | Thoudy Badai/Republika

Kabar Utama

24 Jul 2020, 05:17 WIB

‘Doakan Kami Cepat Dapat Kerja’

Nelangsa berlanjut sebab lowongan kerja pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini seret.


Kelulusan dari kampus biasanya jadi suasana penuh euforia bagi para mahasiswa. Namun, pada masa pandemi seperti sekarang, kebahagiaan tersebut semacam direnggut. Jamak di berbagai kampus, wisuda dilakukan secara virtual.

Akhyar Fauzan, lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas, salah satu yang harus kehilangan momen wisuda tersebut. Nelangsa berlanjut sebab lowongan pekerjaan pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini juga seret. "Belum ada coba melamar kerja. Lowongan kerja belum ada, dan kalaupun ada, tidak sesuai dengan jurusan saya," kata Akhyar kepada Republika, Kamis (23/7). 

Ia merupakan sarjana dengan spesifikasi ilmu hukum perdata bisnis. Lulusan jurusan itu biasanya banyak dibutuhkan perusahaan perbankan ataupun korporasi swasta. Apa daya, perbankan dan perusahaan-perusahaan tersebut terkena dampak ekonomi pandemi. 

Akhyar khawatir terlalu lama tidak mendapatkan pekerjaan. Ia ingin segera hidup mandiri dan membantu orang tua.  "Doakan kami, supaya korona segera berakhir dan kami cepat dapat kerja," ucap lulusan asal Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, tersebut. 

Pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air sejak Maret lalu memang menipiskan peluang kerja para lulusan baru. Kementerian Tenaga Kerja mencatat, hingga bulan lalu, sebanyak 3,7 juta pekerja formal kehilangan pekerjaan selama pandemi berlangsung. Selain itu, pemerintah juga kembali menutup penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) untuk tahun 2020 dan kemungkinan berlanjut hingga 2021 nanti.

Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi, ada potensi penciptaan tenaga kerja mencapai 2,3 juta hingga 2,8 juta pada 2021. Meski begitu, jumlah itu tak mencukupi bila dihadapkan pada jumlah penganggur yang diprediksi bertambah 4,2 juta orang pada 2020.

Bahkan, sebelum pandemi mendera, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada tambahan sekira 60 ribu penganggur dari Februari 2019 ke Februari 2020. Sementara, tingkat pengangguran yang pada tahun-tahun sebelumnya sempat menurun sudah mulai stagnan memasuki tahun ini, berkisar pada 5 persen.

BPS juga mencatat, pada Februari 2020 ada kenaikan angkatan kerja di Indonesia sebanyak 1,73 juta orang menjadi 137,91 juta orang. Dari jumlah itu, sebanyak 6,88 juta orang menganggur. Di antara penganggur tersebut, sekitar 700 ribu lulusan universitas. Tiap tahunnya, Indonesia mencatatkan rata-rata kelulusan 1,4 juta mahasiswa.

Annafi Busyairi Madjidi juga merasakan kesulitan mencari pekerjaan. Ia sedianya sudah dinyatakan lulus dari Program Studi (Prodi) Sastra Inggris di Universitas Negeri Malang (UM) awal tahun lalu. Meski begitu, pengurusan kelulusannya baru selesai belakangan.

 
Doakan kami, supaya korona segera berakhir dan kami cepat dapat kerja.
 
 

Saat ini, ia sudah kembali ke daerah asalnya, Kutai Timur, karena jadwal wisuda ditunda akibat Covid-19. "Setelah yudisium saya langsung bergegas pulkam (pulang kampung) saja, yang penting sudah keluar SK-nya," ujar Annafi menjelaskan kepada Republika, Kamis (23/7).

Selepas lulus, pria berusia 24 tahun ini menuturkan sulit mencari pekerjaan yang diinginkannya sebagai tenaga pendidik. Padahal, informasi lowongan pekerjaan tersebut acap kali bertebaran sebelum pandemi. 

Hendak meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi juga saat ini masih terkendala pandemi. "Jadi, sementara saat ini saya berdagang sama ayah saya dan juga melakukan bisnis kecil-kecilan, seperti jual keripik, atau resell produk dari luar daerah," kata Annafi.

Menurut Annafi, pandemi Covid-19 bukan hanya permasalahan Indonesia, melainkan dunia. Tidak ada yang bisa disalahkan dan menyalahkan atas situasi tersebut. Dia yakin pandemi tersebut akan menghilang dengan sendirinya, baik cepat maupun lambat. "Seperti kasus ebola, SARS, flu burung, dan lain lain saat lalu," ucap pria yang bercita-cita menjadi dosen ini.

Kesulitan mencari pekerjaan juga dirasakan oleh salah satu mahasiswi perguruan tinggi negeri, Rani, yang berasal dari Depok, Jawa Barat. Rani mengatakan, ia baru lulus pada Februari 2020 lalu. "Baru mulai cari pekerjaan enggak lama setelah ada pengumuman pasien Covid-19. Sampai sekarang, belum ada panggilan," ujar mahasiswi fakultas ilmu budaya itu pada Kamis (23/7).

Awalnya, ia mengeklaim masih giat mencari kerja. Semakin ke sini, seiring tak ada yang jebol, ia semakin lesu. Untuk mengisi waktunya, Rani menulis artikel di internet sebagai bahan portofolio dia nanti. Selain itu, ia juga kerap berjualan daring untuk mendapat uang saku.

Menengok kondisi yang tak menggembirakan tersebut, Kusuma Rasti (24), salah satu mahasiswi jurusan Desain Busana Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) Ibu Kartini, Semarang, sudah bersiap-siap. Tepat satu bulan yang lalu, warga Perumahan Bumi Babadan Permai, Kelurahan Beji, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, tersebut telah melalui tahapan ujian skripsi dan dinyatakan lulus. “Rencananya, wisuda pada September nanti,” kata Rasti.

Ia telah menyiapkan dan merencanakan beberapa hal jika situasi pandemi bakal berlangsung lebih lama lagi. “Masih beruntung saya belajar bidang desain busana, maka saya bisa langsung mengaplikasikannya untuk mengisi kegiatan di rumah sambil menunggu perkembangan  pandemi,” ujar dia berharap.

Rasti mengatakan, bakal mencoba membuat usaha fesyen kecil-kecilan dan memanfaatkan pemasaran daring dari rumah. Kebetulan beberapa teman di bangu kuliahnya juga sudah ada yang tertarik untuk bergabung.

“Selama berada di rumah karena pandemi korona ini, saya juga sudah mulai mencoba untuk mendesain dan menjahit sendiri beberapa busana di rumah, dan ternyata ada yang suka dan mau membeli,” kata dia.

 
Kami juga usulkan ada gugus tugas untuk promosi dan mendorong digunakannya produk-produk dalam negeri.
SUHARSO MONOARFA, Menteri PPN/Kepala Bappenas
 

Ia juga berencana memanfaatkan seoptimal mungkin momentum ini untuk mengasah ilmu dan keterampilan mendesain busana yang sudah didapatkannya selama belajar di bangku kuliah. Ia punya impian bisa bekerja bersama desainer yang telah memiliki jenama (brand) atau produk ternama. “Hitung-hitung semacam portofolio yang mungkin akan bermanfaat untuk mewujudkan keinginan tersebut,” ujar Rasti.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebelumnya mengatakan, untuk menahan laju pertumbuhan pengangguran, pemerintah menetapkan pemulihan kegiatan ekonomi sebagai fokus pembangunan tahun depan melalui Rancangan Kerja Pemerintah (RKP) 2021, khususnya sektor industri manufaktur, perdagangan, dan pariwisata yang kini mengalami terpurukan. Pasalnya, Suharso menekankan, dua sektor ini memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang besar.

Berbagai program sudah disiapkan dalam RKP 2021, di antaranya akselerasi industri substitusi impor, peningkatan ekspor, hingga pengurangan komponen biaya. “Kami juga usulkan ada gugus tugas untuk promosi dan mendorong digunakannya produk-produk dalam negeri,” tutur Suharso.

Di sisi lain, Suharso menambahkan, pemerintah turut memulihkan kegiatan investasi. Penyederhanaan perizinan dan peningkatan kepastian usaha yang kini terus digencarkan pemerintah diharapkan dapat semakin lebih cepat pada tahun depan.

Revitalisasi sistem pangan nasional juga disebut Suharso menjadi sangat penting. Upaya ini dilakukan melalui penguatan korporasi petani dan distribusi pangan, stabilitas akses pangan, dan meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan industri pangan lokal. 

Ciptakan kesempatan

Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Okky Alifka Nurmagulita, menyatakan tak terlalu khawatir dengan situasi perekonomian saat ini. Menurut Okky, kesempatan mencari penghasilan bisa diciptakan. "Dengan mengerjakan sesuatu yang kita senangi atau hobi. Misalnya, senang menulis maka kita bisa berkarya melalui itu," kata Okky kepada Republika, Kamis (23/7).

photo
Orangtua dari wisudawan, Muhammad Irsyad Suardi, memindahkan jambul toga saat mengikuti wisuda secara virtual Universitas Andalas dari rumahnya, di Balimbiang, Padang, Sumatra Barat, Selasa (30/6/2020). Dampak dari pandemi Covid-19, Universitas Andalas Padang menggelar wisuda perdana secara virtual menggunakan aplikasi zoom, yang diikuti 1 - (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Ia mencontohkan, jika seorang lulusan mahasiswa bisa menggambar, yang bersangkutan bisa menghasilkan karya-karya yang bisa ditawarkan atau dijual, seperti doodle, handlettering, dan lain sebagainya. Begitu juga, jika senang dengan tumbuhan, kita bisa menanam tanaman hias. 

Sementara itu, jika senang dengan dunia K-Pop bisa jadi seseorang menjadi reseller dengan menjual berbagai pernak-pernik K-Pop (K-Pop stuff).  "Saat ini, saya rasa banyak sekali teman-teman yang mulai merintis bisnis online shop. Menurut saya, bisnis online shop akan lebih menyenangkan saat kita menjual hal-hal yang berkaitan dengan apa yang kita sukai. 

Selain itu, kita juga bisa membuka jasa freelance sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita. Atau mencari pekerjaan part time," kata wanita berusia 23 tahun ini.

Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syukron Jazila mengatakan, seorang mahasiswa dalam konteks tantangan yang tak diduga-duga seperti saat ini harus lebih lincah melihat peluang bertahan dan berkembang.

"Misalnya, ternyata dengan pandemi kita disadarkan akan kenyataan bahwa pekerjaan, seperti di kantor, bagian administrasi, keuangan, dan lain-lain lambat laun akan tergantikan. Ini Covid-19, bagi saya juga berarti bagian dari era disrupsi yang panjang dan akan terus berlanjut," kata pria berusia 25 tahun itu.

Menurut Syukron, orientasi mahasiswa yang mayoritas ingin bekerja di kantor mesti berubah. Misalnya, bagaimana mengembangkan sumber daya alam dan kebudayaan mulai tergerus modernitas. “Mahasiswa-mahasiswa dengan latar petani yang pulang ke rumah kembali menanam, melestarikan apa yang ada, dan sebagainya," kata mahasiswa yang kini menginjak semester 8 itu.

Sementara itu, mahasiswa pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM, Anisa Purwa Ningrum, menyatakan optimistis akan mendapatkan pekerjaan meskipun situasi perekonomian tengah sulit akibat pandemi Covid-19. Saat ini yang lebih utama bagi mahasiswa asal Lombok ini adalah menyelesaikan studinya terlebih dahulu.

"Saat ini yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan kuliah jarak jauh yang saya jalani saat ini, sehingga bisa lulus tepat waktu tahun depan," ujar Anisa kepada Republika


×