Panganan tradisional kue klepon. | Republika/Edi Yusuf

Jawa Timur

23 Jul 2020, 10:35 WIB

Makna Keuletan dan Ketelitian Panganan Tradisional Klepon

Klepon bermakna sebagai lambang kelembutan, ketepatan, kesabaran, keuletan, serta ketelitian.

OLEH WILDA FIZRIYANI

Kuliner tradisional klepon tiba-tiba menjadi tren dalam dunia media sosial. Pemerhati kuliner dari Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Ary Budiyanto mengatakan, klepon sempat menjadi tren kala selebriti Aurel Hermansyah memberikan kejutan kepada Atta Halilintar, tahun lalu.

Pemberian klepon ditafsir sebagai harapan hubungan 'gurih' seperti parutan kelapa dan lengket layaknya ketan. "Penuh kejutan yang manis seperti gula di dalamnya," kata Ary, kepada Republika, Rabu (22/7).

Selang beberapa waktu kemudian, klepon lantas menimbulkan kehebohan setelah muncul sebutan kuliner tidak Islami. Fenomena ini menimbulkan banyak anggapan masyarakat termasuk dari sisi filosofinya.

Pertama, klepon diartikan cara orang tua Jawa mengajarkan anak dan cucunya agar tidak mengecap saat makan. "Karena bagi orang Jawa makan berbunyi itu tidak sopan," jelasnya.

Ary mengatakan, klepon juga banyak dimaknai sebagai petunjuk dalam laku hidup. Di dalam bahasa Jawa, klepon berarti "Kanti Lelaku Pesti Ono". Hal ini bermakna dengan laku "prihatin", maka akan ada jalan keluar.

Selain itu, klepon bermakna sebagai lambang kelembutan, ketepatan, kesabaran, keuletan, serta ketelitian. Hal ini karena proses pembuatan klepon harus tepat dengan bahan dasar yang baik.

"Artinya kalau mau lelaku tidak boleh asal, ada syarat dan ketentuannya. Butuh keuletan, kesabaran, dan ketelitian dalam membuat klepon ini," ujar antropolog dari UB ini.

 
Butuh keuletan, kesabaran, dan ketelitian dalam membuat klepon ini.
ARY BUDIYANTO, pemerhati kuliner dari Universitas Brawijaya
 

Ia tidak mempermasalahkan munculnya beragam tafsiran filosofi klepon di masyarakat. Namun, dia mengakui, aspek ini merupakan sebuah pesan yang baik untuk direnungkan. Lebih baik daripada memperparah nyinyiran anti-Jawa atau anti-Islam melalui meme di media sosial.

Selama ini, klepon dianggap sebagai makanan umum di Pulau Jawa. Akan tetapi, Ary berpendapat, kuliner ini justru telah lama dikenal di Nusantara. "Entah sejak kapan makanan ini muncul," katanya.

Di Jawa, jelasnya, klepon terbagi atas dua bahan, yakni ubi dan beras ketan. Selain itu, klepon juga lebih sering disebut onde-onde di Malaysia. Untuk klepon hijau dikenal dengan onde-onde gula Melaka, sedangkan yang berbahan ubi disebut onde-onde buah Melaka.

Menurutnya, orang Melayu Malaysia merujuk klepon ubi berasal dari Riau. Sementara untuk gula Melaka ditujukan pada gula merah. "Atau orang Jawa sebut sebagai gula Jawa," jelas pria yang tengah mengambil S3 sejarah di Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Sebutan ondeh-ondeh atau onde-onde merujuk pada pelafalan dari bahasa Belanda 'ronde'. Lafal 'r' agak tak terdengar seperti di wedang ronde dan kue onde-onde. Oleh sebab itu, keberadaan onde-onde di Malaka dinilai wajar karena Belanda juga pernah berkuasa dari 1641 sampai 1824.

Mengenai kuliner onde-onde, Ary berpendapat, makanan tersebut terbagi atas beberapa wujud.


×