Tampak bagian dalam Hagia Sophia. | AP Photo/Emrah Gurel

Tema Utama

19 Jul 2020, 14:12 WIB

Hagia Sophia Dahulu dan Kini

Kubah Hagia Sophia dipilih sebagai bentuk atap dengan alasan praktis sekaligus estetis dan spiritual.

OLEH HASANUL RIZQA

Namanya berarti 'kebijaksanaan suci'. Hagia Sophia atau Ayasofya menjadi salah satu bangunan monumental dunia. Berdiri sejak abad keenam, situs itu mengalami perubahan status: gereja, masjid, museum, dan masjid kembali. Jejak perjumpaan dua agama masih dapat dialami di sana.

Hagia Sophia berdiri dengan anggunnya di Istanbul, Turki, selama lebih dari 14 abad. Hingga saat ini, pesonanya masih memancar. Dari tahun ke tahun, Keajaiban Dunia Kedelapan itu menjadi destinasi wisata yang paling sering dikunjungi di negara tersebut. Pada 2019 lalu, sebanyak 3,7 juta turis tercatat menyambangi kompleks seluas 7.570 meter persegi itu.

Riwayat Hagia Sophia tak lepas dari sejarah panjang Istanbul. Sekitar enam abad sebelum Masehi (SM), penduduk asal Megara, Yunani, telah mendirikan koloni di sana. Mereka menamakan daerah itu Byzantion, seturut dengan nama pemimpinnya, Byzas. Beratus tahun kemudian, Imperium Romawi dapat menguasai Yunani dan sekitarnya, termasuk Anatolia (Turki).

Kaisar Konstantinus Agung (Constantine the Great) membangun Byzantion agar menyerupai ibu kota kerajaannya, Roma, di Italia. Roma kala itu diterpa banyak gejolak, baik dari internal maupun eksternal. Pada 330, raja Romawi pertama yang mengakui agama Kristen itu memindahkan pusat kekuasaan ke Byzantion. Langkah ini secara implisit mengawali dominasi budaya Yunani atas Roma (Latin). Kota di pinggiran Selat Bosphorus itu pun diberi nama Constantinopolis, 'Kota Konstantinus'.

photo
Petugas memasang pembatas di depan halaman Hagia Sophia di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020 - (EPA-EFE/ERDEM SAHIN)

Nama itu terus melekat hingga berabad-abad kemudian. Bahkan, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah yang berhasil merebut kota itu pada 1453 tetap mempertahankan sebutan Konstantinopel. Pelafalannya memang sedikit berbeda karena melalui bahasa Turki, Kostantiniyye.

Letak Konstantinopel begitu strategis dan menguntungkan, baik secara ekonomi, militer, maupun politik. Kota itu menghubungkan antara Asia dan Eropa serta Laut Hitam dan Laut Tengah --via Marmara dan Aegean. Pelabuhan di sana menjadi tempat bertemunya berbagai komoditas yang diperdagangkan dari pesisir Mediterania, jazirah Arab, India, bahkan Cina.

Pada abad pertengahan, inilah kota dengan pertahanan yang paling sukar ditembus di seluruh Mediterania. Pada era Konstantinus Agung, benteng sepanjang 2,8 kilometer (km) dibangun untuk melindungi kota tersebut. Kaisar-kaisar sesudahnya pun turut mendirikan berbagai tembok pelindung di perbatasan, seiring dengan perluasan wilayah.

Pada 337, Konstantinus Agung meninggal. Kerajaannya yang merentang dari Semenanjung Italia, Balkan, Anatolia, Syam, hingga Afrika Utara diperebutkan anak-anaknya. Kondisi politik tak kunjung stabil. Theodosius I merupakan kaisar Romawi terakhir yang mampu menyatukan seluruh wilayah imperium. Sesudah kematiannya pada 395, Romawi pun terbelah dua, Barat dan Timur.

photo
Hagia Sophia terlihat dari kejauhan - (AP)

Adapun yang pertama berpusat di Roma, sedangkan lainnya di Konstantinopel. Roma lama-kelamaan rapuh dan akhirnya runtuh pada abad kelima. Tinggal Konstantinopel yang bertahan sebagai pewaris Imperium Romawi. Waktu itu, masyarakat setempat umumnya menyebut negeri mereka Imperium Romawi--tanpa embel-embel Barat, Timur, apalagi Byzantium.

Penamaan Romawi Timur atau Byzantium terjadi lebih belakangan. Tepatnya, pada abad ke-16 atau 100 tahun seusai Sultan Mehmed II menguasai Konstantinopel, kalangan sejarawan mengistilahkan Romawi Timur sebagai Byzantium--merujuk pada Byzantion, nama semula Konstantinopel.

Tiga abad sebelum pecahnya Imperium Romawi, Nabi Isa AS lahir di Yerusalem, Provinsi Judea. Sepanjang hayatnya, sang putra Maryam binti Imran terus menyiarkan agama tauhid meskipun tak sedikit Bani Israil berupaya mencelakakannya. Puncaknya, para pembenci beliau berkomplot agar Pemerintah Romawi menyalibnya. Akan tetapi, Allah SWT kemudian mengangkat dan menyelamatkan rasul-Nya itu.

Sesudah itu, ajaran dan pengaruh al-Masih tetap menyebar bahkan hingga sejumlah daerah pesisir Laut Tengah. Kecurigaan dan tekanan pun datang dari rezim penguasa. Sejak era Kaisar Nero pada 64, berbagai persekusi terus dilancarkan.

Barulah pada abad keempat, intimidasi mulai mereda. Pada 313, Konstantinus Agung mendeklarasikan, umat Kristen --tak dibedakan antara yang masih bertauhid dan terinfiltrasi paganisme-- serta berbagai agama atau kepercayaan lainnya di seluruh Romawi bebas menjalankan ritual ibadah masing-masing. Itulah babak baru dalam sejarah kekaisaran tersebut.

photo
Kubah Hagia Sophia - (DOK Pxhere)

'Kebijaksanaan suci'

Untuk memfasilitasi para pengikut al-Masih, Kaisar Konstantinus II membangun Gereja Besar (magna ecclesia) di Konstantinopel pada 360. Magna ecclesia menggunakan bahan dasar kayu. Beberapa waktu kemudian, ibu kota dilanda kerusuhan. Bangunan itu pun ikut rata dengan tanah.

Kaisar berikutnya, Theodosius II, membangun kembali sebuah gereja besar pada 415. Fondasinya terbuat dari batu marmer besar. Namun, eksistensinya juga tak bertahan lama. Pada 532, masyarakat Konstantinopel menolak beleid pajak yang dimaklumkan Kaisar Yustinianus (Justinian) I. Protes lantas berubah menjadi kerusuhan besar-besaran yang dinamakan Revolusi Nika. Nyaris separuh kota itu hancur lebur. Begitu pula gereja yang dibangun Theodosius II itu meskipun sisa-sisa artefaknya masih dapat dijumpai hingga kini.

Beberapa pekan setelah huru-hara mereda, pada 23 Februari 532 Justinian I berinisiatif membangun katedral baru demi mengganti tempat ibadah yang sudah luluh-lantak itu. Dalam bayangannya, bangunan itu nantinya harus lebih megah daripada gereja manapun yang ada di seluruh Romawi Timur.

Inilah cikal bakal Hagia Sophia. Faktanya, nyaris seribu tahun setelah dibuka kompleks yang namanya berarti 'Kebijaksanaan Suci' itu menjadi gereja terbesar sedunia.

Pakar geometri, Isidore dari Miletus, ditunjuk menjadi perancangnya. Ia didampingi pakar matematika, Anthemius dari Tralles --tetapi meninggal ketika pekerjaan baru satu tahun berjalan. Sebagai kepala arsitek (mechanopoioi), Isidore dan Anthemius masing-masing memiliki 100 orang ahli yang bekerja di bawah pengawasan keduanya.
 
Sebagai kepala arsitek (mechanopoioi), Isidore dan Anthemius masing-masing memiliki 100 orang ahli yang bekerja di bawah pengawasan keduanya.
 
 

Sejarawan Byzantium dari abad keenam, Procopius,menuturkan riwayat pembangunan gereja besar itu dalam Peri Ktismaton. Proyek tersebut mempekerjakan lebih dari 10 ribu orang. Bahan-bahan bangunan diboyong dari berbagai wilayah kerajaan, seperti Roma, Ephesus, Thessalia (Yunani), Mesir, dan Suriah.

Untuk merancangnya, Isidore memanfaatkan formula Hero dari Aleksandria, seorang pakar matematika yang hidup pada abad pertama. Tujuannya menghindari kemunculan bilangan irasional dalam kalkulasi cetak biru Hagia Sophia.

Sebagai contoh, besaran 'pi' (phi) harus diekspresikan melalui bilangan rasional, yaitu 22/7, bukan 3,14159 dan seterusnya. Dengan demikian, keliling lingkaran (2**r) dapat ditetapkan secara lebih presisi.

Rumus demikian akan sangat berguna untuk merekayasa kubah raksasa yang menjadi keistimewaan Hagia Sophia. Ukuran tengahnya mencapai 32 meter--mengutip sumber Encyclopedia Britannica. Kubah utama itu diapit dua separuh kubah dengan diameter nyaris sama pada sisi-sisinya.

Bagian interiornya dihiasi dengan berbagai mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam berwarna-warni. Dindingnya dihiasi dengan macam-macam ukiran nan indah.

Model rancangan kubah Hagia Sophia adalah arsitektur Suriah dan Persia, alih-alih Roma. Ada beberapa keuntungan. Misalnya, bahannya lebih ringan karena menggunakan batu bata, bukan beton tebal seperti yang dipakai atap gereja-gereja besar di Roma.

photo
Kapal militer yang berlabuh di Laut Marmara tampak di latar depan Hagia Sophia - (Reuters)

Kemudian, hasil kreasi Byzantium ini dibangun di atas struktur berbentuk segitiga melengkung. Struktur yang semacam itu mampu menyangga kubah dari keempat sisi berdenah persegi.

Alhasil, langit-langit kubah akan terlihat lebih jelas. Itu berbeda dari kubah arsitektur Roma, yang dibangun di atas denah berbentuk lingkaran serta ditopang tembok menjulang sehingga nyaris tak kelihatan bentuk kubahnya.

Kubah besar Hagia Sophia berada pada ketinggian 55,6 meter dari lantai. Di bawahnya, terdapat denah yang berbentuk persegi. Formula untuk menentukan panjang sisi persegi itu tak juga tetap menghindari bilangan irasional, semisal akar kuadrat 2, akar kuadrat 8, dan seterusnya.

Oleh karena itu, semua bentuk persegi di konstruksi Hagia Sophia selalu menggunakan bilangan-bilangan rasional, seperti 1/1, 3/2, 7/5, 17/12, 41/29, atau 99/70. Pembilang dalam rumusan itu menunjukkan hipotenusa atau garis diagonal, sedangkan penyebutnya merupakan panjang sisi setiap persegi.

Kubah dipilih sebagai bentuk atap dengan alasan praktis sekaligus estetis. Istanbul terletak di atas lempeng Anatolia yang dikepung dua patahan aktif sehingga sering memicu gempa. Bentuk kubah dianggap lebih stabil serta tahan guncangan.

Lengkung kubah juga memuat nilai estetika, bahkan spiritual, saat mengunjungi gereja besar itu mencatatkan kesannya. Kubah itu bukan bertengger di atas fondasi batu, melainkan menaungi ruangan di bawahnya seakan-akan (ujungnya) tersangkut pada surga.

Secara keseluruhan, pengerjaan bangunan monumental itu memakan waktu lima tahun 10 bulan. Akhirnya, pada 27 Desember 537 Hagia Sophia dibuka untuk umum oleh Kaisar Yustinianus I. Saat proses berlangsung, sang raja memaklumkan, "Duhai Sulaiman, dengan ini aku telah mengalahkanmu." Ia memandang, Hagia Sophia lebih mengagumkan daripada Istana Nabi Sulaiman.

photo
Suleymaniye Camii - (Dok Wikipedia photo by Hale Yalincak)

Inspirasi arsitektur Islam

Hagia Sophia merupakan ikon kebudayaan Romawi Timur (Byzantium). Arsitektur bangunan dua lantai itu turut mengilhami peradaban Islam, khususnya melalui Turki Utsmaniyah. Pada 27 Mei 1453, kesultanan tersebut berhasil menaklukkan Konstantinopel dan menjadikan basilika terbesar abad pertengahan itu sebagai masjid.

Mio Takikawa dalam artikelnya, Hagia Sophia and Sinan's Mosque:Structure and Decoration in Suleymaniye Mosque and Selimiye Mosque, menjelaskan bagaimana basilika terbesar pada abad pertengahan itu dipandang sebagai model dalam merancang masjid-masjid kesultanan (cami).

Menurut Takikawa, ada tiga bangunan monumental yang merupakan prototipe seni rancang cami pada era Utsmaniyah, yakni Suleymaniye Camii, Sehzade Camii, dan Selimiye Camii. Sang kepala arsitek Utsmaniyah Mimar Sinan (1489-1588) merancang ketiganya. Ia terinspirasi dari keindahan Hagia Sophia.

Sesuai namanya, Suleymaniye Camii merupakan persembahan Sultan Suleiman I, pemimpin yang membawa Utsmaniyah pada puncak kejayaan. Pembangunannya memakan waktu tujuh tahun, antara 1550 dan 1557. Kompleks seluas 4.284 meter persegi itu berada di pinggir Laut Marmara. Ruangan utamanya memiliki luas 58,5 x 57,5 meter persegi sehingga mampu menampung sekitar 5.000 jamaah.

Corak arsitektur Hagia Sophia tampak pada kubah raksasa masjid itu. Kubah berdiameter 26,5 meter tersebut juga diapit dua separuh kubah pada sisi-sisinya sehingga secara struktur menyerupai legasi Byzantium itu. Takikawa mengatakan, Mimar Sinan tak bermaksud meniru Hagia Sophia, tetapi berkompetisi dengannya. Dalam arti, sang perwira arsitek berupaya melampaui keindahan bekas gereja itu.

photo
Suleymaniye Camii - (Dok Wikipedia photo by Myrabella)

Sehzade Camii juga dilengkapi dengan kubah raksasa, dengan diameter 18,42 meter. Ada empat kubah yang berukuran lebih kecil di sekitarnya. Setiap separuh dari kubah-kubah kecil tersebut menempati dinding kubah utama sehingga berkesan tampak luas. Untuk mengurangi kesan berat masjid, dibangun ruang-ruang di samping bangunan dalam itu.

Kubah raksasa juga dapat dijumpai di Selimiye Camii yang berlokasi di Edirne. Kubah tersebut berdiameter 31 meter. Kubah utama ini memiliki penampang berbentuk persegi delapan yang masing-masing sudutnya ditopang delapan pilar besar. Pembangunan masjid itu sendiri diselesaikan dalam jangka waktu enam tahun. Pemrakarsanya adalah Sultan Salim II.

Tentunya gaya arsitektur Utsmaniyah memiliki kekhasan. Misalnya, menara yang tegak menjulang. Bentuknya menyerupai pensil raksasa. Sejak menjadi masjid, Hagia Sophia pun dipercantik dengan keberadaan empat menara khas Turki. Keempatnya dibangun pada masa al-Fatih (menara bagian selatan), Sultan Salim II (menara bagian timur laut), dan Sultan Murad III (dua menara).

photo
Kubah Hagia Sophia menginspirasi arsitektur masjid di era Kesultanan Utsmani - (DOK Pxhere)


×