Penampilan NusantEro Big Band di atas panggung. | Dok NusantEro Big Band
14 Jul 2020, 09:36 WIB

Menyatu dengan Musik dan NusantEro

Musik adalah bahasa universal lintas negara

Nama kelompok musik satu ini terdengar unik: Big Band NusantEro. Ini adalah akronim dari Nusantara dan Eropa. Seperti namanya, proyek tersebut menyatukan musisi dari Indonesia dan Eropa. Semua melebur jadi satu.

Ada 24 musisi yang tergabung dalam grup. Sebanyak 11 musisi berasal dari Tanah Air, sementara 13 lain adalah warga negara Belgia, Denmark, Jerman, Hungaria, Italia, Belanda, Polandia, Slovakia, Swedia dan Swiss.

NusantEro menyajikan karya-karya komposer ternama. Dari Indonesia, ada karya komposer Ismail Marzuki ("Als de Orchideen Bloien/Bunga Anggrek", "Payung Fantasi"), Gesang ("Bengawan Solo"), Maladi ("Di Bawah Sinar Bulan Purnama"), juga lagu "Jali Jali" dan "Rame-Rame".

photo
Penampilan NusantEro Big Band di atas panggung. - ( Dok NusantEro Big Band)

Karya lain adalah "I Vitelloni" gubahan komposer Italia Nino Rota, "Svantetic" dari komposer Polandia Krzysztof Komeda, "Bluesette" dari komposer Belgia Toots Thielemans, serta "Cuban Thunder" karya komposer Denmark Jens Winther.

Terkait

Ada pula tembang asal Jerman yang dibawakan yakni "Minuet in G" karya Johann Sebastian Bach. Dari Prancis, ada "La Mer" gubahan komposer Charles Trenet, juga "La Nuit Africaine" yang diciptakan oleh komposer Erik Satie.

NusantEro telah tampil di sejumlah acara besar di Jakarta. Seperti unjuk kebolehan di Auditorium Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta serta berlanjut dengan penampilan di Java Jazz Festival (JJF) 2020.

Mikele Montolli, musisi asal Italia, mengaku bangga bisa diundang dalam kolaborasi musisi internasional NusantEro. Terlebih Montolli mendapat undangan langsung secara personal dari pengarah musik NusantEro, Nita Aartsen untuk menjadi pemain double bass di NusantEro. NusantEro sekaligus menjadi ajang pembuktian bagi Montolli. Dia tidak hanya memainkan instrumen musik, tetapi juga mengaransemen ulang tembang Italia "I Vitelloni" yang diciptakan komposer Nino Rota.

Ini bukan pertama kali Montolli bermusik di Indonesia. Pria yang belajar bas elektrik sejak usia tujuh tahun itu pernah pula tampil di Ngayogjazz, Ubud Writer Festival, juga Pusat Kebudayaan Italia di Indonesia. Itu sebabnya Montolli sudah familier dengan musik tradisional Indonesia, termasuk gamelan. Pria yang pernah tampil bersama Sun Ra Arkestra dan kwartet Knoel Scott tersebut mengatakan, komposer-komposer Indonesia pun sudah tersohor di dunia.

Menurut Montolli, tembang karya komposer Indonesia sangat groovy dan sarat muatan positif. Sementara, dia memaknai tembang asal negaranya lebih romantis dan melodis. Ragam identitas itu membuat musik semakin unik. "Tanpa perlu memahami kosa kata bahasa sebuah lagu negara tertentu, musik tetap bisa menjangkau banyak orang, membangun emosi yang sama, menyatukan para musisi dan juga publik," ujar pria yang tergabung dalam London Jazz sejak 2010 itu.

 
Tanpa perlu memahami kosa kata bahasa sebuah lagu negara tertentu, musik tetap bisa menjangkau banyak orang, membangun emosi yang sama, menyatukan para musisi dan juga publik.
Mikele Montolli, musisi asal Italia
 

Salah satu personel NusantEro, Nesia Ardi, menganggap proyek itu sebagai kesempatan emas yang sayang dilewatkan. Musisi Indonesia kelahiran 3 November 1988 itu menilai cukup jarang mendapati kelompok musik gabungan dari belasan negara.

Vokalis band NonaRia itu sangat senang bisa bermusik bersama talenta asal negara, bahkan benua lain. Pada tembang "Als de Orchideen Bloien (Bunga Anggrek)", Nesia berduet dengan vokalis asal negeri kincir angin, Alexander.

Di sela latihan, Nesia berbagi banyak cerita dan pengalaman dengan para musisi itu. Dia pun menyadari bahwa ada koneksi kuat antara musik Indonesia dan Eropa. Sejumlah lagu lawas di Tanah Air turut dipengaruhi musik dari benua tersebut.

Nesia pun sangat sepakat bahwa musik adalah pemersatu dunia. Bahkan, musisi dari tempat asal yang berbeda tidak perlu saling menguasai bahasa masing-masing untuk sekadar bermusik bersama, selama mereka paham bahasa musik. "Karena musik salah satu bahasa yang kita pakai lintas negara," kata musisi yang menempuh studi di jurusan performance Institut Musik Daya Indonesia (IDMI) itu.

photo
Penampilan NusantEro Big Band di atas panggung. - ( Dok NusantEro Big Band)

 

 

‘’Ini seperti mimpi jadi nyata,'' ujar pengarah musik NusantEro Nita Aartsen.

Pianis jaz Indonesia ini mengungkapkan, kehadiran NusantEro merupakan inisiatif antara Indonesia dan Uni Eropa. Nita pun bangga karena musisi Indonesia dan musisi berbagai negara lain bisa bersanding, menyajikan karya musik yang padu di atas panggung. Bukan hal mudah karena dia memahami, setiap musik di negara berlainan punya ciri khas serta identitas yang juga berbeda.

Namun, perbedaaan itu bertemu, berkelindan, menyatu, kemudian menyamarkan batas antara negara dan bangsa. Kekuatan magis musik mampu membuat puluhan orang dari berbagai suku bangsa dengan bahasa berbeda menjadi satu keluarga.

Musisi yang mendalami jaz kontemporer di The Moscow Conservatory itu menceritakan pengalamannya bermusik di berbagai belahan dunia. Nita sudah memukau banyak orang di deretan festival musik di Eropa serta negara benua lain.

photo
Penampilan NusantEro Big Band di atas panggung. - ( Dok NusantEro Big Band)

Saat bertemu musisi dan penikmat musik di Eropa, dia mendapat keluarga baru. Begitu juga ketika dia bertandang ke Jepang atau Amerika. Semua menerima dengan tangan terbuka, berkat musik yang membuat orang-orang membaur.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1986, perempuan bernama lengkap Elanda Yurnita Armin itu juga tampil di sejumlah tamu penting. Nita pernah tampil di hadapan Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton, juga Pangeran Bernard dari Belanda.

Musik disebutnya sebagai sebuah pelukan, sebuah jabat tangan erat yang dapat menjadikan manusia akrab. Tidak heran jika pemerintah sejumlah negara menjadikan musik sebagai alat diplomasi dengan semangat persatuan. "Musik menyatukan orang-orang. Musik menyatukan bangsa, karena misi musik adalah kedamaian dan harmoni," kata perempuan yang kini menetap di Bali.

 

 

Musik menyatukan orang-orang. Musik menyatukan bangsa, karena misi musik adalah kedamaian dan harmoni

Nita Aartsen, pengarah musik NusantEro
 

 

 

Uni Eropa dan Seni Budaya

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, berpendapat musik punya peran besar dalam hubungan diplomatik antarnegara. Tidak hanya perkara ekonomi, politik, dan kebijakan lain, musik juga memengaruhi itu.

Piket menyampaikan, selama ini hubungan antara Indonesia dan Uni Eropa tidak terlepas dari aspek seni budaya. Setiap tahun, Uni Eropa menggelar festival film Europe on Screen (EoS) yang menyambangi kota-kota besar di Indonesia.

Selain film, kini Indonesia dan Uni Eropa memiliki proyek musik yang disebutnya amat menjanjikan. Kolaborasi itu diyakini akan membawa hubungan diplomatik kedua pihak semakin kuat dengan cara yang unik.

Setiap musisi mengekspresikan musik dari latar belakang budaya dan negaranya, tetapi saat di panggung, semua itu menjadi sesuatu yang padu. Piket mengatakan, tidak peduli dari negara mana pun, musik menjadi bahasa baru untuk semua. "Saya percaya musik adalah melodi yang mampu menggugah emosi dan perasaan. Menyentuh jiwa dan hati pendengarnya di mana pun," ucapnya.

photo
Penampilan NusantEro Big Band di atas panggung. - ( Dok NusantEro Big Band)

 Direktur Erasmus Huis Yolande Melsert menganggap apa yang dilakukan NusantEro serupa dengan hal yang selalu digaungkan Erasmus Huis. Pusat Kebudayaan Belanda itu secara konsisten menghadirkan produk budaya serta beragam karya seni. Begitu pula puluhan musisi penuh bakat yang tergabung dalam NusantEro. Mereka menyuguhkan lagu-lagu karya komposer Indonesia dan negara-negara Eropa sehingga itu dapat menjadi proses edukasi tersendiri bagi penikmat musik. "Tujuannya adalah untuk menjalin hubungan, prosesnya adalah memproduksi dan menyajikan seni untuk audiens. Tampil bersama dan bermusik bersama adalah bagian penting agar saling terkoneksi," kata Melsert.

 

 


×