Seorang pria merayakan dikembalikannya status Hagia Sophia sebagai masjid di Istanbul, Jumat (10/7) lalu. | EPA-EFE/ERDEM SAHIN
21 Oct 2020, 07:56 WIB

Polemik Hagia Sophia

Paus Fransiskus mengaku merasa terluka oleh keputusan Turki terkait Hagia Sophia.

ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menekankan bahwa status Hagia Sophia sepenuhnya adalah masalah internal Turki. Sebelumnya, ia menegaskan, meski kembali menjadi masjid, Hagia Sophia akan tetap terbuka untuk warga asing dan umat non-Muslim.

Erdogan mendesak negara-negara lain untuk menghormati keputusan akhir pemerintahannya soal status Hagia Sophia yang kini resmi menjadi masjid. 

"Pembuat keputusan akhir tentang status Hagia Sophia adalah bangsa Turki, bukan yang lain. Ini urusan internal kami," ujar Erdogan seperti dikutip laman Anadolu Agency, Senin (13/7).

Erdogan mengatakan, kompleks bersejarah itu akan siap untuk digunakan untuk beribadah shalat Jumat pada 24 Juli. Menurut dia, pengalihan fungsi dari masjid ke museum pada 85 tahun silam adalah keputusan yang menyakitkan bagi bangsanya. Namun, Erdogan juga menegaskan bahwa Hagia Sophia akan terus merangkul semua orang dengan status barunya sebagai masjid. 

Terkait

Dia menolak kritik di dalam dan luar negeri atas keputusan tersebut. "Mereka tidak memiliki nilai di pengadilan," katanya. 

Pada Jumat (10/6), Pengadilan Tinggi Turki membatalkan dekrit kabinet 1934, yang mengubah Hagia Sophia di Istanbul menjadi museum. 

Putusan Dewan Negara membuka jalan untuk Hagia Sophia digunakan kembali sebagai masjid setelah puluhan tahun menjadi museum. 

Warisan arsitektur ini telah dimiliki oleh yayasan yang didirikan oleh Sultan Mehmet II dari Kesultanan Ottoman, penakluk Istanbul. Hagia Sophia disajikan kepada masyarakat sebagai masjid, status yang tidak dapat diubah secara hukum. 

Hagia Sophia digunakan sebagai gereja selama berabad-abad di bawah pemerintahan Kekaisaran Bizantium. Situs UNESCO itu berubah menjadi masjid setelah penaklukan Istanbul pada 1453. Pada 1935, Hagia Sophia diubah menjadi museum. 

Perubahan fungsi kali ini mengundang beragam reaksi. Salah satu komentar datang dari Paus Fransiskus yang mengaku merasa terluka oleh keputusan Turki.  

"Pikiran saya melayang ke Istanbul. Saya memikirkan Santa Sophia dan saya sangat terluka," kata Paus selama pemberkatan mingguan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Ahad (12/7).  

Badan PBB yang mengurusi budaya, UNESCO, mengatakan, Komite Warisan Dunia akan meninjau status Hagia Sophia. Sedangkan, para  menteri Uni Eropa, Senin, mengkritisi keputusan Turki. "Ketika kita saksikan apa yang terjadi pada Hagia Sophia, ini menjadi pukulan," kata Menteri Luar negeri Luksemburg Jean Asselborn. 

photo
Seorang turis mengambil gambar Hagia Sophia beberapa waktu lalu. - (AP Photo/Emrah Gurel)

Patriark Theodore II dari Gereja Ortodoks Yunani Aleksandria juga mengecam keputusan pengadilan tinggi Turki. "Saya merasakan kesedihan dan kepedulian yang besar terkait diubahnya landmark Kristen bersejarah di Timur, Katedral Hagia Sophia menjadi masjid. Ini menjadi tantangan menggemparkan yang sudah bermasalah selama pandemi virus corona SARS-CoV (19)," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari laman Ahram Online, Senin (13/7).

Kepala Gereja Ortodoks Yunani Theodore mengatakan bahwa Turki menggunakan hak-hak historis dan budaya untuk tujuan lain di saat orang-orang seharusnya bersatu dan melawan virus korona yang tidak terlihat tersebut. "Kebalikannya justru terjadi di Mesir, ketika semua orang menikmati kebebasan beragama dan hidup berdampingan secara damai. Presiden Mesir El-Sisi kami memberikan gelar kepada gereja-gereja Kristen kami setiap harinya dan otoritas politik serta negara mengizinkan kami (untuk menerapkan) kebebasan beribadah, renovasi, dan pelestarian gereja kami," ujarnya.

terkait keberatan itu, Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop menyinggung soal penghancuran masjid-masjid di Eropa, seperti di Spanyol di Portugal. Menurut dia, banyak masjid dibangun di Spanyol selama masa kekuasaan Islam berjaya di sana. Namun, pengusaan kembali wilayah tersebut oleh kerajaan Kristen atau disebut Reconquista, banyak mengubah bahkan menghancurkan bangunan masjid dan menggantikannya sebagai gereja.

Salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan sekaligus kehancuran imperium Islam di Andalusia adalah Istana Alhambra. Di dalam kompleks istana ini dibangun masjid di masa kepemimpinan Islam.

photo
Paus Fransiskus - (ANSA)

Selama 800 tahun lamanya, Islam pernah berjaya di Eropa, tepatnya di Spanyol yang dulu dikenal sebagai Andalusia. Penaklukan Andalusia terjadi pada 711 M oleh pasukan Muslim yang dipimpin Thariq bin Ziyad. Kala itu, Thariq berhasil merebut dataran Iberia. Satu per satu kerajaan di sekitar wilayah itu jatuh ke tangan Islam.

Kerajaan Islam pun bermunculan di negeri Matador itu. Salah satu kerajaan yang sekaligus daulah terakhir Islam di Andalusia adalah Bani Ahmar atau Bani Nasrid (1232-1492 M). Dinasti Nasrid ini meninggalkan jejak arsitektur yang unik pada bangunan Istana Alhambra.

Istana Alhambra adalah sebuah kompleks istana sekaligus benteng megah yang merupakan sisa peninggalan masa kejayaan Islam di Andalusia (kekhalifahan bani Umayyah) di Granada, Spanyol bagian selatan. Istana Alhambra berdiri di Bukit La Sabica.

Istana ini dibangun pada masa kepemimpinan Dinasti Nasrid (Bani Ahmar) pada 1238-1358. Alhambra menjadi kediaman para pemimpin kerajaan dan sekaligus benteng pertahanan.

Di dalam Istana Alhambra terdapat kaligrafi-kaligrafi dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, bangunan ini disebut Qa'lat al-Hamra atau Istana Merah. Disebut demikian karena dinding istana yang berwarna kemerah-merahan.

Pada masa Mohammed II (1273-1302) dan Mohammed III (1302-1309), mulai dibangun tempat pemandian umum dan Masjid Alhamra (Mezquita) di kompleks istana tersebut. Namun demikian, daulah Bani Ahmar di Spanyol berakhir pada akhir abad ke-16.

Dinasti Islam ini diserang oleh pasukan gabungan raja-raja Katolik yang dipimpin oleh Raja Ferdinan V dan Ratu Isabella. Mengutip situs www.alhambradegranada.org, pada 1492 setelah masa Reconquista, sebagian kompleks Alhambra digunakan pemimpin Kristiani dan pengadilan Kristen.

Selain itu, dibangun Istana Charles V di kompleks tersebut pada 1527. Belakangan, sejumlah bangunan di kompleks itu digunakan untuk menampung warga negara terkemuka, barak militer, gereja dan Biara Franciscan. Sementara itu, masjid atau Mezquita yang ada di istana itu juga diubah menjadi Gereja Santa Maria.

photo
Pemandangan di Istana Alhamdra, Spanyol. - (EFE)

Selain di Granada, tercatat banyak masjid di wilayah lainnya di Spanyol yang kemudian diubah jadi gereja. Mengutip buku berjudul "Islam, Eropa dan Logika" oleh Syarifah Salwasalsabila, di kota Sevilla pernah didirikan masjid yang sangat indah pada masa pemerintahan Sultan Abu Ya'kub. Namun, setelah ditaklukkan Raja Ferdinand, masjid Sevilla itu lantas diubah menjadi gereja Santa Maria de La Sade.

Di Cordoba, banyak masjid dibangun di masa kekuasaan Islam di bawah Bani Umayyah. Menurut ibn al-Dala'i, terdapat 491 masjid di sana di masanya. Salah satu yang menjadi kebanggaan kota Cordova adalah Masjid Cordova.

Namun setelah masa penaklukan kembali Spanyol oleh kaum Kristen, gedung itu diubah fungsi menjadi sebuah gereja dengan katedral gotik yang dimasukkan ke tengah gedung berarsitektur Moor tersebut. Saat ini, keseluruhan bangunan itu digunakan sebagai gedung katedral diosese Cordoba di Spanyol. Masjid Agung Cordoba kemudian berubah nama menjadi 'Mesquita Cathedrale (Katedral Masjid)'.


,
×