Seorang tenaga kesehatan dengan pakaian pelindung diri lengkap berpose sebelum memberikan makanan kepada pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7). | ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Nasional

14 Jul 2020, 07:00 WIB

Nakes Kian Banyak Terpapar Covid-19

Kelelahan yang dialami dokter maupun nakes menjadi salah satu faktor.

SURABAYA – Terus bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19 berbanding lurus dengan jumlah dokter dan tenaga kesehatan (nakes) yang turut terpapar. Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Nursalam, menyebut per 12 Juli 2020, ada 277 perawat di Jatim yang terpapar Covid-19. 

“Kalau yang meninggal totalnya 12 orang,” ujar Nursalam kepada Republika, Senin (13/7). Perinciannya, tujuh perawat di Surabaya dan sisanya tersebar di Tuban, Sidoarjo, Kota Malang, Sampang, serta Bojonegoro.

Nursalam mengatakan, terus melonjaknya pasien positif Covid-19 di Jatim membuat risiko tertular perawat menjadi lebih tinggi. Belum lagi, banyak pasien tanpa gejala yang periksa dan menjalani pelayanan di puskesmas atau rumah Sakit. Sehingga ketika menjalani pemeriksaan, pasien tersebut tidak diberlakukan layaknya pasien Covid-19.

Dia melanjutkan, perawat juga merupakan profesi yang paling sering berinteraksi dengan pasien Covid-19, atau memiliki frekuensi, intensitas, time, dan tipe (FITT) kontak yang tinggi. Perawat sangat intens berinteraksi mulai pendaftaran, periksa, sampai pasien menjalani perawatan.

Selain itu, kata dia, intensitas kontak perawat dengan pasien juga tinggi. Rata-rata sekali interaksi dengan pasien, minimal 10-15 menit. Perawat juga paling banyak melakukan tindakan terhadap pasien. Seperti tindakan limpah, tindakan mandiri, dan pemenuhan kebutuhan dasar, bahkan aspek psikososiospiritual.

“Penataan dan pengelolaan jam kerja, beban kerja, kedisiplinan dalam APD, pemenuhan kebutuhan dasar termasuk kesejahteraan, misal insentif yang sampai sekarang belum terealisasi di Jatim menjadi sesuatu yang harus menjadi perhatian,” ujar dia.

Nursalam juga mengeluhkan belum dilaksanakannya PCR kepada perawat secara masif dan berkala, minimal setiap 14 hari. Menurut dia, ini sangat penting supaya bisa dideteksi sejak awal ketika ada perawat yang terpapar Covid-19. Tujuannya, yakni untuk melindungi perawat dan masyarakat dari risiko penularan.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, sebanyak enam petugas medis yang bertugas menangani pasien Covid-19 di RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya dinyatakan positif. Enam perawat itu diduga terpapar dari pasien positif Covid-19 yang dirawat di RSUD dr Soekardjo.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat mengatakan, empat dari enam petugas medis itu merupakan warga Kota Tasikmalaya. Sementara dua orang lainnya adalah warga dari luar daerah Tasikmalaya. “Memang mereka melakukan pemeriksaan rutin Covid-19. Ketika dilakukan PCR, dinyatakan positif,” kata dia.

photo
Seorang tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri sebelum memberikan makanan kepada pasien positif COVID-19 di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7). - (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Sebanyak 25 dokter yang juga mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo sebelumnya juga dinyatakan positif Covid-19 pada Sabtu (11/7). Mereka merupakan tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 di RSUD dr Moewardi Solo. Saat ini, 25 dokter tersebut menjalani isolasi di RS UNS di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kelelahan

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menilai, sedikitnya 25 dokter di Jatim juga terpapar Covid-19 dan banyak nakes terinfeksi karena banyaknya pasien Covid-19 di provinsi itu. Akibatnya, dokter dan nakes yang menangani pasien tersebut berisiko terpapar virus.

Wakil Ketua Umum PB IDI Adib Khumaidi mengatakan, angka terkonfirmasi positif dan perawatan pasien Covid-19 di Jatim cukup tinggi. Bahkan, jumlah pasien di RS rujukan penuh dan kelebihan kapasitas membuat calon pasien juga kesulitan mendapatkan tempat fasilitas kesehatan.

“Banyaknya penularan di masyarakat Jatim ini yang kemudian berpotensi terjadi risiko, salah satunya adalah tenaga medis, baik di puskesmas, klinik, RS rujukan dan akhirnya terpapar,” kata dia saat dihubungi Republika.

Adib menyebut, kelelahan yang dialami dokter maupun nakes yang menangani pasien Covid-19 menjadi salah satu faktor. Sebab, kata dia, bukan tidak mungkin persoalan ini menjadi penyebab yang membuat daya tahan tubuh menurun dan kemudian tertular.

Dia menambahkan, tata kelola ruang menjadi mendesak dan penting. Ia meminta ada pihak yang membuat protokol manajemen tata kelola ruang di tempat pelayanan dan memiliki standarisasi. Misalnya, kata dia, fasilitas pelayanan kesehatan di ruang pelayanan kesehatan, seperti poli, unit gawat darurat (UGD), puskesmas, apakah sudah terfasilitasi dengan ventilasi atau exhaust fan untuk mengurangi akumulasi virus korona dalam satu ruangan?

“Jadi, dokter itu bisa terproteksi, misalnya terkait APD, ketersediaannya, kemudian standardisasi fasilitas kesehatan,” ujar dia. Dia berharap penyusunan protokol untuk melindungi dokter segera selesai.

Terkait terus bertambahnya dokter dan nakes lainnya yang terpapar Covid-19, pihak Kemenkes tidak merespons pesan singkat melalui Whatsapp maupun telepon dari Republika


×