Presiden Brasil Jair Bolsonaro. | AP/Eraldo Peres

Internasional

09 Jul 2020, 02:00 WIB

Presiden Brasil Positif Covid-19

Bolsonaro tetap berkeras bahwa aktivitas Brasil harus kembali normal. 

RIO DE JANEIRO -- Presiden Brasil Jair Bolsonaro (65 tahun) dinyatakan positif Covid-19, Selasa (7/7), setelah berbulan-bulan ia meremehkan bahaya penyakit ini. Brasil saat ini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak kedua di dunia. 

Kepada para wartawan, Bolsonaro mengaku menjalani pemeriksaan sinar X pada Senin (6/7). Saat itu, ia merasa demam, sakit pada otot, dan pegal. Namun, demamnya mereda pada Selasa dan ia mengeklaim itu berkat obat antimalaria hidroksiklorokuin yang dikonsumsinya.

Bolsonaro kemudian mundur selangkah dari kerumuman wartawan yang mengerubunginya, lalu ia mencopot maskernya. Ia ingin menunjukkan dirinya baik-baik saja.

"Saya baik-baik saja, normal. Saya bahkan ingin berjalan-jalan di sekitar sini, tetapi itu tidak boleh karena bertentangan dengan saran medis," katanya.

Pada Selasa, unggahan di akun Facebook-nya menunjukkan ia meminum hydroxychloroquine untuk dosis yang ketiga kalinya pada hari itu. Penggunaan hidroksiklorokuin dipromosikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, kemampuan obat tersebut untuk melawan Covid-19 belum terbukti secara ilmiah.

photo
Seorang pengunjuk rasa membawa poster yang menuding Presiden Brasil Jair Bolsonaro melakukan genosida dengan membiarkan pandemi di Brasil, dalam aksi di Rio de Janeiro beberapa waktu lalu. - (AP/Eraldo Peres)

"Hari ini saya merasa jauh lebih baik. Benar-benar manjur," kata Bolsonaro sambil meminum obat antimalaria itu bersama segelas air. "Kita tahu saat ini ada beberapa resep yang dikatakan bisa melawan virus korona. Kita juga tahu tak satu pun yang secara ilmiah terbukti manjur. Namun, saya termasuk orang yang merasakan salah satu cara yang manjur. Jadi, saya percaya pada hidroksiklorokuin. Bagaimana Anda?"   

Bolsonaro sejak awal meremehkan bahaya Covid-19. Ia bahkan menganggap informasi tentang penyebaran virus korona dilebih-lebihkan. "Menurut pemahaman saya, isu virus korona lebih seperti fantasi," katanya pada 10 Maret saat Brasil hanya melaporkan sejumlah kecil kasus Covid-19. 

Bahkan, saat anggota delegasinya terinfeksi Covid-19, pada 15 Maret ia masih berkeras dan menyebut kekhawatiran terhadap pandemi sebagai "histeria". 

Awal April, saat hampir 400 warganya meninggal karena Covid-19, barulah ia mengatakan virus korona hanya bisa hilang saat populasi mencapai tahap herd immunity. Delapan hari kemudian, 20 April, komentarnya tentang jumlah penderita yang meninggal, "Saya bukan penggali kubur, oke?"

Delapan hari kemudian, saat angka kematian di Brasil melampaui 5.000 jiwa, ia berkilah. "Jadi harus bagaimana? Maaf. Kalian ingin saya melakukan apa?" katanya kepada wartawan saat itu. "Saya tidak punya keajaiban."

Kali ini, setelah mengumumkan positif Covid-19, Bolsonaro tetap berkeras bahwa aktivitas Brasil harus kembali normal. "Kalian tidak bisa hanya bicara soal kecemasan tentang konsekuensi dari virus ini. Hidup terus berlangsung. Brasil perlu menghasilkan sesuatu. Kalian harus membuat roda ekonomi berputar," katanya. 

Saat berita ini ditulis, kasus Covid-19 secara global nyaris menyentuh angka 12 juta kasus dan kematian lebih dari 544 ribu jiwa. AS menghadapi kasus terbanyak, yaitu nyaris menyentuh 3 juta kasus. Brasil berada di tempat kedua dengan lebih dari 1,6 juta kasus. 

photo
Warga Iran mengenakan masker berbelanja di pasar besar Teheran, Selasa (7/7).  - (EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH)

Pihak berwenang Selandia Baru mengatakan akan menuntut pasien virus korona yang kabur dari pusat karantina di Auckland. Pasien tersebut diketahui "kabur" untuk berbelanja di pasar swalayan. 

Kepala pengelola pusat isolasi dan karantina Komodor Udara Darryn Webb mengatakan, seorang laki-laki berusia 32 tahun kabur dari Hotel Stamford Plaza dengan memanjat pagar kawat. Ia menghilang, tetapi kembali lagi satu jam kemudian. Setelah dites, laki-laki tersebut dinyatakan positif virus korona. 

Selandia Baru berhasil menghilangkan resiko penularan lokal dan mencoba menahan kasus baru dengan menerapkan sejumlah peraturan di perbatasan. Mereka mewajibkan siapa pun yang baru tiba dari luar negeri untuk menjalani karantina selama 14 hari di hotel. 

Keluar WHO 

Sementara, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan, Amerika Serikat (AS) akan meninggalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 6 Juli 2021, Selasa (7/7). Keputusan itu berlaku setelah PBB menerima pemberitahuan resmi keputusan oleh Presiden AS Donald Trump, lebih dari sebulan yang lalu. 

"Sekretaris Jenderal PBB sedang dalam proses verifikasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia apakah semua persyaratan untuk penarikan seperti itu dipenuhi," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.  

photo
Presiden Donald Trump - (AP/Patrick Semansky)

Setelah lebih dari 70 tahun keanggotaan, AS memutuskan untuk keluar dari WHO. Trump menuduh WHO menjadi boneka Cina di tengah pandemi virus korona. Virus ini pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina, akhir tahun lalu. Trump harus memberikan pemberitahuan satu tahun atas keputusannya menarik AS dari lembaga PBB yang berbasis di Jenewa itu. 

Dalam resolusi bersama Kongres AS 1948, mewajibkan Washington membayar iuran keuangan dan saat ini negara tersebut menunggak iuran WHO lebih dari 200 juta dolar AS. Namun, AS telah menghentikan pendanaan untuk organisasi beranggotakan 194 negara itu pada April.

Dalam suratnya pada 18 Mei, dia memberi kesempatan kepada WHO selama 30 hari untuk berkomitmen melakukan reformasi. Dia mengumumkan, AS akan berhenti dari keanggotaan WHO kurang dari dua pekan kemudian.  

Pada kesempatan berbeda, Wakil Presiden AS Mike Pence menyatakan, langkah negaranya meninggalkan WHO adalah tepat karena badan tersebut mengecewakan global. "Organisasi Kesehatan Dunia mengecewakan dunia .... Pasti ada konsekuensinya," kata Pence dalam wawancara Fox News Channel saat menegaskan waktu yang tepat untuk meninggalkan WHO.

WHO adalah badan internasional independen yang bekerja dengan PBB. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa WHO sangat penting terhadap upaya dunia untuk memenangkan perang melawan Covid-19.  

Tidak semua elemen politik AS setuju dengan langkah pemerintahan Trump. Ketua House of Representatives AS Nancy Pelosi menggambarkan penarikan resmi Trump sebagai benar-benar tindakan yang tidak masuk akal. Padahal, saat ini WHO sedang mengoordinasikan perjuangan global melawan Covid-19.

"Dengan jutaan nyawa dalam bahaya, Presiden melumpuhkan upaya internasional untuk mengalahkan virus," ujar anggota House dari Partai Demokrat itu di akun Twitter.

Menurut laporan Reuters, hampir 12 juta kasus dan lebih dari 540 ribu kematian diakibatkan virus korona di seluruh dunia. Sekitar 25 persen total dari kasus dan kematian global berasal dari AS.

Keputusan Trump mengeluarkan AS dari keanggotan WHO dapat dibatalkan sebelum diberlakukan pada Juli 2021. Hal ini bisa terjadi jika Trump dapat dikalahkan oleh saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden, dalam pemilihan November mendatang. 

Trump telah lama mencela multilateralisme karena berfokus pada agenda "America First" atau kebijakan uang mendahulukan kepentingan Amerika di atas yang lainnya. Sejak menjabat, dia telah keluar dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB, badan budaya PBB, perjanjian global untuk menangani perubahan iklim, dan kesepakatan nuklir Iran. Dia juga telah memotong dana populasi PBB dan lembaga PBB yang membantu para pengungsi Palestina.


×