Petugas melakukan pengasapan untuk mengantisipasi penyebaran wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Solo, Kamis (23/4). | Maulana Surya/ANTARA FOTO

Kabar Utama

06 Jul 2020, 05:00 WIB

DBD Telah Merenggut 458 Jiwa 

Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus DBD tertinggi.

JAKARTA -- Masyarakat diingatkan agar tak hanya mewaspadai penularan Covid-19. Kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang muncul setiap tahun pun perlu ditingkatkan. 

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), saat ini semua provinsi di Indonesia telah terdapat kasus DBD. Sepanjang Januari-2 Juli tahun ini, jumlah kasus DBD mencapai 71.216 kasus yang tersebar di 34 provinsi dan 468 kabupaten/kota. Pada periode tersebut, DBD telah merenggut 458 jiwa. 

Jumlah kasus dan jumlah kematian memang masih lebih rendah dibandingkan periode sama 2019. Namun, masih lebih tinggi dibandingkan 2017 dan 2018. Penambahan kasus harian pun masih naik turun dengan rata–rata penambahan sekitar 261 per hari pada pekan ke-26. Terdapat penambahan kasus baru sebanyak 615 kasus pada 2 Juli. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan telah meminta dinas kesehatan di daerah meningkatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di wilayahnya masing-masing. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan kewaspadaan atas lonjakan kasus DBD.  Sebab, lonjakan DBD di tengah kasus Covid-19 menjadi hal yang harus diantisipasi.

"Melalui dinkes provinsi, kabupaten, kota untuk tetap mendorong masyarakat melakukan PSN dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan Covid-19," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi kepada Republika, Ahad (5/7).

Nadia mengatakan, Kemenkes juga telah mengirimkan surat ke beberapa kementerian untuk melakukan gerakan serupa. Antara lain, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama untuk memastikan gedung sekolah dan pesantren aman dari sarang nyamuk, selain disinfeksi virus Covid-19. "Hotel dan tempat wisata juga untuk dilakukan PSN, pesan Covid-19 bersamaan dengan iimbauan PSN," kata Nadia.

Sementara dari sisi kuratif, Kemenkes mendorong fasilitas pelayanan kesehatan dapat mengantisipasi jika ada lonjakan kasus DBD. Mulai dari ketersediaan fasilitas penunjang dan pemberantasan sarang nyamuk di sekitar terjangkitnya pasien DBD. "Bila ada kasus yang positif, dilakukan kunjungan dan pemeriksaan jentik nyamuk dan pengasapan," kata dia. 

Nadia mengatakan, sejak Maret hingga saat ini belum ada daerah yang masuk kategori KLB DBD. Status KLB DBD sempat ditetapkan untuk wilayah Kabupaten Sikka pada periode Februari-Maret. Karena saat itu, jumlah kasus DBD di Kabupaten Sikka mencapai 1.678 kasus. Namun, KLB dapat dikendalikan berkat kerjasama antara Kemenkes, TNI, dan pemda setempat. 

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan pasien demam berdarah memiliki sejumlah gejala yang sama dengan pasien covid-19. Misalnya saja, gejala trombosit dan leukosit yang rendah, timbul demam, dan pegal linu.

Kesamaan gejala ini pun bisa menjadi kendala saat melakukan diagnosa awal terhadap pasien. “Jadi kesamaannya ada demam, pegel linu, trombosit rendah, leukosit rendah, itu yang bisa menjadi kendala,” ujar Zubairi kepada Republika, Ahad (5/7).

Agar tak salah diagnosa, penanganan terhadap pasien demam berdarah dilakukan dengan cara yang hampir sama seperti perlakuan pada pasien Covid-19 yang disertai penyakit kumorbit. Mereka harus melalui pemeriksaan tes swab atau PCR terlebih dahulu untuk memastikan ada tidaknya virus Covid-19.

Zubairi pun menyebut beberapa kali menemukan pasien dengan kasus DBD yang kemudian disertai dengan Covid-19. “Untungnya sekarang ada protokol kalau rawat inap harus tes Covid-19 untuk penyakit apapun. Untuk melindungi pasien dan juga orang lain di sekitarnya. Sekarang menjadi tidak terlalu sulit karena begitu rawat inap langsung dites swab,” tambahnya.

Ia menyampaikan, pencegahan penyakit demam berdarah harus diutamakan untuk mencegah tingginya kasus DBD di saat pandemi covid-19 merebak. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat yakni membersihkan lingkungan dan tempat penampungan air untuk menghilangkan jentik nyamuk.

“Kalau untuk masyarakat pencegahannya dilakukan dengan menghilangkan jentik-jentik. Membersihkan saluran air, penampungan air harus dikuras. Karena pencegahan itu lebih utama,” jelas Zubairi.

Jabar tertinggi

Saat ini, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus DBD tertinggi. Jumlahnya mencapai 10.685 kasus. Jumlah kematian tertinggi juga berasal dari kota di Jawa Barat, yaitu Kota Tasikmalaya. Menurut catatan Kemenkes, jumlah kematian di Kota Tasikmalaya sebanyak 16 jiwa. 

Gebernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya telah dalam posisi siaga menghadapi penyakit DBD. "Kita siagakan para camat seperti siaga Covid-19," kata dia di Tasikmalaya, Ahad (5/7).

Pemerintah Kota Tasikmalaya telah menetapkan status pra-kejadian luar biasa (KLB) agar penanganan DBD lebih massif. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat mengatakan, DBD adalah penyakit yang terus terjadi di wilayahnya dari tahun ke tahun. Menurut dia, untuk mengatasi wabah itu, sudah saatnya masyarakat berorientasi pada pembangunan yang berwawasan kesehatan. 

"Artinya, dalam membangun rumah atau yang lainnya, kita harus lebih memperhatikan faktor kesehatan. Jangan sampai hanya memperhatikan estetika saja," kata dia, Sabtu (4/7).

Ia mencontohkan, faktor pencahayaan dan sirkulasi udara dalam bangunan harus menjadi perhatian. Dengan begitu, lingkungan menjadi lebih sehat. Pasalnya, awal dari penyebaran penyakit menular berasal dari lingkungan yang tidak sehat.

photo
Petugas Puskesmas Segala Mider Bandar Lampung memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang cara mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bandar Lampung, Lampung, Senin (29/6). - (ANTARA FOTO/ARDIANSYAH)

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, kasus DBD saat ini lebih tinggi dibandingkan kasus pada tahun-tahun sebelumnya. Uus mengatakan, jumlah kasus DBD di Kota Tasikmalaya pada 2016 sebanyak 759 kasus. Angka itu dapat ditekan pada 2017 menjadi 298 kasus, 223 kasus pada 2018, tapi kembali memgalami kenaikan pada 2019 menjadi 672 kasus. Sementara, sejak Januari-Juni 2020, kasus DBD di Kota Tasikmalaya telah mencapai 758 kasus.

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman sebelumnya mengatakan, pihaknya telah mengundang para dokter dari setiap rumah sakit, klinik, dan puskesmas, untuk melakukan penanganan masif pada kasus DBD. Ia menginginkan, pada Juli 2020 tak ada lagi kasus kematian akibat DBD. "Saya ingin Juli ini turun dan tidak ada angka kematian akibat DBD di Kota Tasikmalaya," kata dia, pertengahan pekan lalu. 

Budi mengatakan, pada dasarnya penyakit DBD bisa ditangani hingga pasien sembuh. Namun, penanganan harus dilakukan dengan maksimal. Ia tak ingin mendengar adanya keterlambatan dalam penanganan DBD.  "Penanganan DBD jangan sampai terlambat. Itu yang menimbulkan permasalahan," kata dia.


×