Presiden Amerika Serikat Donald J Trump | EPA-EFE/Doug Mills
27 Oct 2020, 03:56 WIB

Covid Kian Menggerus Elektabilitas Trump

Berbagai polling kini mendapati Biden melesat hingga dua digit terhadap Trump.

OLEH HARUN HUSEIN

"Jika pemilu dilaksanakan sekarang, kami dalam masalah besar. Syukurlah, tidak." Demikian pernyataan seorang pendukung Trump kepada The Washington Post.

Ya, semakin mendekati pemilu, posisi Donald Trump memang kian terpojok. Berbagai jajak pendapat (polling) memperlihatkan Trump telah ditekuk oleh rivalnya, Joe Biden. Sejumlah negara bagian yang merupakan basis kemenangan Trump dalam Pemilu Presiden 2016 lalu, bahkan kini telah pindah ke lain hati.

Sejumlah penasihat dan sekutu Trump, seperti dilaporkan The Washington Post, secara pribadi telah mendorong Trump agar melakukan berbagai langkah di masa kampanye, agar tetap berpeluang menang. Selain menyarankan Trump mengganti sebagian besar stafnya, mereka mengingatkan Trump agar mengubah perilaku serta lebih disiplin dalam menyampaikan pesan-pesannya.

Terkait

Bekas Gubernur New Jersey, Chris Christie, yang mengendorse Trump pada 2016 silam, mengatakan, "Dia (Trump) kalah. Dan, jika dia tidak segara mengubah arah, baik dalam hal substansi dan pendekatannya terhadap publik Amerika, maka dia akan kalah," katanya kepada ABC News, seperti dikutip The Guardian.

Berbagai polling memang kian memojokkan Trump, dengan perbedaan sampai dua digit. Jajak pendapat New York Times-Siena College, misalnya, mendapati Biden unggul dengan elektabilitas mencapai 50 persen, sedangkan Trump hanya mendapat 36 persen.

photo
Presiden Donald J Trump di Kantor Oval Gedung Putih - (EPA-EFE/Doug Mills)

Biden saat ini memimpin 14 poin (percentage point). "Ini merupakan salah satu pertunjukan paling suram dalam masa kepresidenan Trump, dan merupakan pertanda yang sangat jelas bahwa dia (Trump) adalah underdog dalam pertarungannya untuk periode kedua," tulis New York Times.

Jajak pendapat NYT-Siena tersebut dipublikasikan pada 24 Juni lalu. Polling tersebut diselenggarakan pada 17-22 Juni, dengan sampel 1.337 pemilih terdaftar (registered voters).

Christie mengatakan, saat ini trennya memang semakin jelas. Tren bergerak ke arah Biden, kendati Biden disebutnya hanya bersembuynyi di 'basement'. "Tanpa bermaksud mendiskreditkan wakil presiden (Joe Biden, bekas wakil presidennya Obama --Red), jika Anda bisa menang tanpa melakukan apapun, mengapa harus melakukan sesuatu," katanya.

Biden kian menguat

Data yang dilansir The Economist juga memperlihatkan kemenangan Biden kian lebar. Pada awal Juni, The Economist memprediksi bahwa Biden akan meraih 324 electoral votes, sedangkan Trump 214 electoral votes. Tapi, per 1 Juli, Biden menguat dengan meraih 345 electoral votes, sedangkan Trump 193 (lihat tabel Peluang Kemenangan Biden & Trump).

Biden unggul telak dari sisi electoral votes maupun popular vote. Per 1 Juli, Biden diprediksi meraih 54,3 persen popular vote, sedangkan Trump hanya 45,7 persen. Angka ini pun meningkat bagi Biden, dibanding awal Juni. Saat itu, Biden diprediksi meraih 53,3 persen, sedangkan Trump 46,7 persen.

  

Sekadar informasi, pemilihan presiden AS dilakukan secara tidak langsung dan bertingkat. Pemilih memang langsung memilih capres yang disukainya di surat suara. Tapi, suara (popular vote) itu kemudian dikonversi menjadi elector yang kelak akan memilih presiden melalui lembaga bernama Electoral College (Dewan Pemilih). Karena itu, cara pemilihan ini dikenal pula dengan Sistem Electoral College.

Electoral College ini beranggotakan 538 elector. Untuk terpilih, seorang kandidat harus meraih suara mayoritas 50 persen+1. Dalam hal ini, meraih minimal 270 electoral votes. Hal itu ditegaskan dalam Konstitusi AS, Pasal II, Seksi 1, Klausul 2.

Ke-538 elector dalam Electoral College, berasal dari 50 negara bagian. Jumlahnya dari setiap negara bagian, sama persis dengan jumlah anggota DPR (House of Representatives) dan jumlah anggota Senat. Dalam hal ini, anggota DPR AS berjumlah 435 orang, sedangkan Senat 100 orang. Adapun tiga elector lainnya, berasal dari District of Columbia alias Washington DC, yang merupakan ibu kota Federal AS.

Digerus Covid-19

Tapi mengapa Trump kian jeblok? Di antara penyebab utamanya adalah karena Trump gagal menangani pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) yang melanda negeri itu. Wabah yang bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga melumpuhkan perekonomian.

Persoalan terbesar kedua adalah respons buruk Trump terhadap gelombang protes rasial menyusul tewasnya George Floyd. Trump meresponsnya dengan gertakan kemarahan, bahkan ancaman mengerahkan militer.

Gambaran dominan yang muncul dari hasil polling saat ini ini adalah bahwa negara ini sudah siap menolak presiden yang dianggap oleh sebagian besar pemilih tetalh gagal dalam ujian terbesar yang dihadapi pemerintahannya, tulis The New York Times dalam artikel bertajuk "Biden Takes Dominant Lead as Voters Reject Trump on Virus and Race".

NYT menguraikan, selisih sangat besar tersebut mencuat karena para pemilih kulit hitam dan hispanik, pemilih perempuan, dan pemilih pemula, semakin cenderung memilih Biden dan menolak Trump. Kecenderungan merapatnya pemilih kepada Biden tersebubt, tulis NYT, bahkan lebih besar dibanding terhadap Hillary Clinton, dalam pilpres empat tahun lalu. Margin-nya lebih lebar, tulis NYT (lihat tabel Hasil Jajak Pendapat New York Times-Siena College).

photo
Tabel Jajak Pendapat NYT-Siena College - (REPUBLIKA, Diolah Harun Husein)

     

 

Bahkan, menurut survei tersebut, di kalangan pemilih kulit putih, pemilih paruh baya, dan pemilih golongan tua, juga mulai beralih kepada Biden. Padahal, kelompok pemilih inilah pada Pilpres 2016 lalu yang merupakan tulang punggung dan kunci keberhasilan Trump mengalahkan Hillary Clinton, dengan selisih sangat tipis.

Parahnya elektabilitas Trump akibat 'terinfeksi covid', juga ditulis The Guardian dalam artikel bertajuk "Covid-19 Turns Battle ground States into Hotspots as Trump Trails Biden in Polls". Harian Inggris ini menulis bahwa Trump kini dituding sebagai salah satu presiden Amerika paling gagal, gara-gara meremehkan Covid-19 lima bulan lalu, dan mengesampingkan pendapat para ahli.

Trump juga mengabaikan peringatan tentang kemungkinan naiknya serangan wabah itu di sejumlah negara bagian. Akibatnya, beberapa negara bagian seperti Florida, Texas, dan Arizona, kini menjadi hotspot baru wabah mematikan itu.

Sampai saat ini, Amerika Serikat merupakan negara paling menderita akibat wabah Covid-19. Berdasarkan data dari Universitas Johns Hopkins, lebih dari 2,5 juta orang di negara itu positif terinfeksi dan 125 ribu di antaranya tewas.

Akhir Juni 2020 dilaporkan bahwa dari 50 negara bagian di Amerika, sebanyak 36 negara bagian di antaranya mengalami peningkatan kasus baru Covid-19, dan hanya dua negara bagian --Connecticut dan Rhode Island-- yang dilaporkan menurun. Jumlah kasus baru di Amerika pun semakin tinggi, mencapai 40 ribu kasus per hari. "Pintu telah tertutup bagi Amerika untuk mengendalikan pandemi," kata Menteri Kesehatan AS, Alex Azar.

photo
Joe Biden diunggulkan banyak polling telah menyalip Donald Trump - (AP Photo/File, Richard Drew)

Tak kunjung tertanganinya wabah ini dengan baik, semakin meningkatkan kekhawatiran di negara itu tentang berbagai hal buruk yang akan terjadi. Dan, pada akhirnya, pandemi mengubah lanskap politik Amerika di tahun pemilu ini.

Trump yang sejak awal tahun 2020 terlihat sangat kuat dan berpeluang besar terpilih, kini terpuruk. Trump kini dinilai sebagai petahana yang lemah, yang disejajarkan dengan George HW Bush, yang kalah dalam Pemilu Presiden 1992 silam.

Dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik, Trump memang tak tertandingi. Dan, hampir dapat dipastikan bahwa Trump akan memenangkan nominasi secara aklamasi dalam Konvensi Nasional Partai Republik, akhir Agustus mendatang.

Namun, dalam pemilihan 3 November mendatang, dia akan menghadapi Biden yang diuntungkan oleh sentimen publik yang semakin tak menyukai Trump. Sial memang bagi Trump. Dia dikalahkan oleh dirinya sendiri.


,
×