Kreativitas mampu membuat seseorang bertahan dalam mengatasi dampak pandemi. | Pixabay.com
19 Sep 2020, 07:43 WIB

Meningkatkan Kreativitas Diri

Sejauh mana kreativitas itu membuat seseorang bertahan dalam mengatasi dampak pandemi.

Dampak pandemi jelas sekali menekan perekonomian masyarakat, baik dari skala kecil (keluarga) maupun besar. Karena itu, saat ini yang membuat orang dapat bertahan adalah dengan meningkatkan kreativitas diri dalam berbagai hal sesuai keahlian dan kecenderungannya terhadap suatu kegiatan.

Sejauh mana kreativitas itu mampu membuat seseorang dapat bertahan dalam mengatasi dampak pandemi ini dan bagaimana caranya? Salah satu pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Dwi Rahayu mengaku memang produk aksesori dan suvenirnya menurun selama pandemi Covid-19. Penurunannya bahkan mencapai 80 persen.

"Di era pandemi ini semua serbasulit. Orang-orang lebih memilih membeli kebutuhan pokok dahulu," ungkap pemilik jenama Galeri Gendhis kepada Republika, Senin (29/6).

Dia biasa memasarkan produknya lewat daring dan luring. Untuk daring, dia memanfaat kan media sosial Instagram@brosmurahdepok dan bergabung dengan marketplace, seperti Shopee dan Tokopedia. Di jalur luring, dia berpartisipasi dalam arisan, bazar, pameran, dan lainnya. "Saat pandemi ini offline sama sekali enggak jalan karena reseller juga takut mau ambil barang, belum lagi PSBB. Lebih memaksimalkan online," ujarnya.

Terkini

Untuk bisa bertahan dalam bisnis, Ayu menciptakan kreativitas dan inovasi, baik dalam produk maupun promosi. Dia menawarkan diskon produk dan memberikan hadiah untuk pembelanjaan produknya. Penawaran lainnya adalah gratis ongkos kirim. Penjualan meningkat, tapi belum begitu besar.

Ayu juga melakukan inovasi produk dan melebarkan penjualan produk lain, seperti stationary dan aksesori lainnya. "Sebagai penjual harus tetap semangat dan positive thinking. "Gali ide lebih kreatif lagi untuk meningkatkan omzet penjualan," pesannya.

 
Sebagai penjual harus tetap semangat dan positive thinking. Gali ide lebih kreatif lagi untuk meningkatkan omzet penjualan.
 
 

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari Call Center Kemenkop Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terdapat 236.980 UMKM terdampak pandemi. Masalah utamanya adalah permintaan menurun, permodalan dan distribusi terhambat, serta sulitnya bahan baku. Pedagang eceran adalah yang paling terdampak dengan besaran 25,33 persen.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sejak pandemi, UMKM menghadapi tantangan berat dari supply dan demand. Bahkan, dari berbagai survei di banyak negara memprediksi separuh dari UMKM sulit bertahan.

Karena itu, tambah dia, UMKM sebaiknya berinovasi di era new normal. Diawali dengan standard operating procedure (SOP) yang bersih, sehat, dan aman. Ke depan, tren kesehatan atau higienitas menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam membeli barang dan makanan.

"Penting harus diperhatikan masa pandemi juga mengubah pola konsumsi masyarakat dari offline menuju online. Ini juga momentum bagi kita untuk terus mempercepat tranformasi digitalisasi UMKM," kata dia dalam Peluncuran Konsorsium Sosial Pemberdayaan UMKM Toko dan Warung Tradisional, melalui live streaming dari SMESCO Convention Centre, Jakarta, Senin (29/6).

 
Penting harus diperhatikan masa pandemi juga mengubah pola konsumsi masyarakat dari offline menuju online.
TETEN MASDUKI, Menteri Koperasi dan UKM
 

Ketua UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB-UI) TM Zakir Sjakur Machmud PhD mengatakan, dalam situasi seperti ini pilihannya adalah bertahan di bisnis sekarang, membuka bisnis baru, atau pindah haluan. "Jika di bisnis sekarang sulit untuk bertahan, sebaiknya berinovasi ke yang baru. Lakukan perubahan dan harus kita dorong terus. Didorong masuk ke digital. Kalau enggak mereka akan hilang," jelasnya.

Menurutnya, informasi dan peluang itu banyak, misalnya, dengan mengikuti webinar dan sejenisnya. Tinggal kemauan dari pelaku UKM untuk menyadari ini situasi sulit dan kita harus berubah. "Nah itu yang sering kali teman-teman UKM terkadang ya udahlah."


×