Wisatawan mengunjungi Masjid Menara Kudus di Kudus, Jawa Tengah, Senin (29/6). Obyek wisata religi favorit warga kawasan Pantura untuk berziarah makam Sunan Kudus yang berada di sebelah barat masjid itu mulai ramai dikunjungi wisatawan dan pedagang dengan | ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Jawa Tengah

01 Jul 2020, 02:00 WIB

Pemda Diminta Karantina Lokal

Intervensi berbasis lokal dengan karantina atau isolasi pada lingkup desa atau RT/RW.

SEMARANG—Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan seluruh pemerintah daerah agar menggunakan strategi intervensi berbasis lokal untuk mencegah penyebaran Covid-19. Intervensi berbasis lokal ini dilakukan dengan karantina atau isolasi pada lingkup desa atau RT/RW. 

Menurut Presiden, cara ini lebih efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19. “Strategi intervensi yang berbasis lokal. Jadi mengkarantina, mengisolasi RT RW, mengisolasi kampung desa itu lebih efektif daripada kita karantina kota atau kabupaten. Itu lebih efektif,” tutur Presiden Jokowi, saat meninjau penanganan Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah, Selasa (30/6).

Jokowi menambahkan, strategi ini dinilai lebih efektif dibandingkan jika harus mengkarantina wilayah yang lebih luas, seperti kota atau kabupaten. Presiden berharap strategi ini diterapkan seluruh kepala daerah sehingga terjadi penurunan kasus covid.

Dalam kesempatan ini, Presiden menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras Provinsi Jawa Tengah dalam menghadapi pandemi Covid. Ia berharap, angka kasus di Jateng turun mulai Juli ini. Namun, Jokowi mengingatkan agar daerah tak buru-buru menerapkan kenormalan baru. Penerapan new normal harus dilakukan melalui tahapan-tahapan yang benar dan data ilmiah yang bisa dipertangungjawabkan.

Daerah harus melalui beberapa tahapan sebelum membuka new normal, seperti tahapan prakondisi, kemudian memastikan waktu yang tepat untuk menerapkan new normal, dan juga menentukan sektor apa saja yang menjadi prioritas untuk dibuka kembali. Sebab, tak seluruh sektor bisa langsung dibuka nantinya. 

Selain itu, pembukaan kembali kegiatan masyarakat juga harus dilakukan dengan pembatasan.

Ia mencontohkan, jika sektor pariwisata kembali dibuka, jumlah pengunjung yang bisa memasuki area wisata pun dibatasi. “Kalau kapasitas biasanya seribu ya 500 dulu. Tidak usah tergesa-gesa karena yang kita hadapi ini dulu. Kesehatan dan ekonomi yang semuanya harus berjalan dengan baik,” ujar dia. 

Terakhir, Jokowi mengingatkan agar daerah terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kebijakan yang diputuskan. Jika terjadi penambahan angka Covid saat new normal nanti diterapkan, pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil keputusan untuk menutup kembali. “Kalau memang keadaannya naik ya tutup lagi, harus berani seperti itu. Harus berani memutuskan seperti itu,” tegas Jokowi.

Peta klaster

Provinsi Jawa Tengah sendiri sudah memetakan sedikitnya ada tiga klaster penularan paling menonjol hingga pekan ke-26 pandemi Covid-19. Yakni, klaster Aparatus Sipil Negara (ASN), PLTU serta pasar tradisional. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, pihaknya sudah mengambil langkah untuk isolasi seluruh klaster tersebut. “Ini yang sekarang langsung kita isolasi semuanya. Ada pegawai PLTU, pasar tradisional di Kota Semarang,” ujarnya.

Selain itu, ada panti lansia dan polres yang ada di Rembang yang saat ini sudah dilakukan koordinasi dengan Polda Jawa Tengah untuk kita lakukan isolasi. Termasuk ada tenaga kesehatan (nakes) dan pegawai PLTU yang ada di Jepara. “Pemprov Jawa Tengah sampai saat ini juga masih terus melakukan komunikasi dan tes kepada mereka yang berasal dari klaster Gowa dan klaster Temboro,” lanjutnya.

 
Kalau memang keadaannya naik ya tutup lagi, harus berani seperti itu. 
Presiden RI Joko Widodo
 

Berdasarkan peta epidemiologi Covid-19 di Jawa Tengah, terpantau sejumlah daerah yang sebelumnya berwarna ‘merah’, kini telah mulai beranjak ke warna ‘oranye’ dan bahkan juga ada yang berwarna ‘kuning’.

Adapun daerah di Provinsi Jawa Tengah yang saat ini masuk dalam zona risiko tinggi terkonsentrasi di tiga wilayah, yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara. “Sekarang kita lagi membantu kawan- kawan bupati dan wali kota yang bersangkutan. Karena mereka pasukan di depan yang kita minta untuk mengamankan daerahnya masing- masing,” ujarnya.

Sedangkan dari hasil analisis atas banyaknya pasien Covid-19 yang tak tertolong jiwanya, gubernur mengaku rata- rata pasien memiliki riwayat penyakit penyerta. Seperti, hipertensi, diabetes, ginjal kronis, gagal jantung, jantung koroner, asma, stroke dan lainnya. Pemprov Jateng juga sudah menyiasati agar laboratorium di wilayahnya siap melakukan tes Covid-19. Yakni, dengan menambah pegawai laboratorium.

Sementara itu, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, data terkini terungkap jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) sebanyak 50.588 kasus. Rinciannya dalam pemantauan sebanyak 3.922 dan selesai pemantauan 46.666. Sementara, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 8.683 kasus. Pasien dirawat masih 955, pasien sembuh 6.536, dengan pasien meninggal 1.192. Sedangkan positif sebanyak 3.996 kasus, pasien dirawat 1.818 dan pasien sembuh1.856 serta pasien meninggal 322 orang.


×